,

Waduh!, Ukraina Terancam Pecah

UKRAINA, HARIANACEH.co.id — Kepemimpinan baru Ukraina yang pro-Barat pada Kamis kemarin harus menghadapi dua tantangan beruntun. Kelompok bersenjata mengambil alih badan legislatif daerah Krimea dan membentuk pemerintahan baru yang pro-Rusia. Sementara presiden terguling buka suara dan mendeklarasikan dirinya masih berkuasa.

Daerah otonomi Krimea belakangan ini meretas sebagai pusat perlawanan terhadap kepemimpinan baru Kiev. Sementara itu, mantan Presiden Viktor Yanukovych merilis pernyataan kepada publik, pertama kali sejak digulingkan pada Sabtu.

Yanukovych menegaskan bahwa ia tetap presiden sah Ukraina. Ia pun meminta perlindungan dari Rusia. Moskow langsung menyetujui permintaan ini, seperti dilaporkan kantor berita nasional yang mengutip pejabat anonim.

Perkembangan ini memperdalam kecemasan bahwa Krimea mungkin sedang memburu status otonomi yang lebih luas, atau bahkan memisahkan diri dari Ukraina. Hingga 1954, Krimea menjadi bagian dari Rusia. Moskow bahkan masih menempatkan Armada Laut Hitam di Krimea.

Badan legislatif Krimea mendesak referendum terkait status kawasan itu pada 25 Mei. Kamis silam, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan jajarannya guna mengatur “bantuan kemanusiaan” bagi Krimea, tempat etnis Rusia mendominasi populasi.

Krimea bisa berakhir seperti kawasan sekutu Moskow lainnya dalam lingkaran negara pecahan Uni Soviet, seperti Transnistria, Abkhazia, dan Ossetia Selatan. Negara tetangga Rusia menuduh Kremlin memberikan tekanan dengan memanfaatkan wilayah-wilayah sengketa ini.

Putin, yang mendukung Yanukovych, belum sekalipun berkomentar atas Ukraina sejak Kiev jatuh. Juru bicaranya, Dmitry Peskov, tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar.

Peristiwa di Krimea mencerminkan kondisi nyata atas pengaruh Rusia dalam kepemimpinan baru Ukraina, menyusul protes warga Kiev dan sekitarnya. Para demonstran berharap suatu hari nanti Ukraina bisa menjadi bagian dari Uni Eropa.

Arseniy Yatsenyuk, pemimpin oposisi yang diangkat sebagai Perdana Menteri Ukraina oleh Parlemen pada Kamis, menuding Yanukovych sebagai dalang bentrok mematikan antara polisi dan demonstran di Kiev.

“Ia bukan lagi presiden,” papar Yatsenyuk. “Ia adalah buronan atas tuduhan pembunuhan massal, melakukan kejahatan atas kemanusiaan.”

Pemerintahan Yatsenyuk mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Yanukovych. Ia juga menyerukan keutuhan wilayah Ukraina.

Pemerintahan baru tengah berupaya mendapatkan pinjaman dana miliaran dolar dari Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Dana Moneter Internasional. Apalagi, Ukraina terkungkung dalam kesenjangan neraca anggaran, kejatuhan mata uang, serta cicilan utang yang berat.[WSJ/HA/IPL]

Sumber: WSJ

loading...

Para Pendukung PM Yingluck Shinawatra Siap Berperang

Demokrasi Apakah yang Berjalan di Aceh?