,

Ini Dia Cara Mengenali Mental Si Kaya dan Si Miskin

HARIANACEH.co.id — Uang selalu menjadi topik bahasan, yang tidak ada akhirnya. Hal ini juga yang kerap ditanyakan pada psikolog. “Klien saya banyak ngobrol soal anak, rumah tangga, tapi ujung-ujungnya adalah uang,” kata psikolog Roslina Verauli, yang biasa disapa Verauli ini, pekan lalu.

[-“9uN6JUa57LpxaQZpAOFw3hdriSknLc0j”]Menurut Verauli, pertanyaan itu selaras dengan bahasan dalam buku Psychology Applied to Modern Life-Adjustment in the 21 Century yang menyatakan saat ini uang merupakan sumber masalah psikologis, yaitu orang selalu merasa kekurangan uang, terlepas berapa pun pendapatan mereka.

Masalahnya, kebanyakan orang bersikap sinis dalam memandang kekayaan. “Kenapa mesti kaya, sih?” kata Verauli, menirukan pertanyaan banyak kliennya. Padahal, orang itu sebenarnya tahu jawabannya.

Misalnya, Verauli banyak dihujani pertanyaan seperti berikut ini oleh kliennya yang lajang dan menunda pernikahan, “Siapa yang membiayai pernikahan?”, “Dari mana uang untuk beli rumah setelah menikah?”, “Apakah uang saya cukup untuk membiayai sekolah anak?”, dan sebagainya.

Pertanyaan seperti itu, dia melanjutkan, menunjukkan orang tersebut masuk kategori Si Mental Miskin. “Mental ini ada di orang yang suka bersenang-senang, gengsian, dan butuh dipuaskan hal yang bersifat prestise,” ujar psikolog yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah dan klinik PacHealth @The Plaza di Plaza Indonesia, Jakarta, ini.

Ciri-ciri Si Mental Miskin, Verauli menambahkan, adalah mudah terlihat boros. Saban ada kejadian, dari kenaikan jabatan sampai dimarahi atasan, orang itu bersenang-senang. “Bisa juga dengan shopping,” ujar dia. Menurut dia, Si Mental Miskin memiliki sikap kekanak-kanakan dalam pengaturan uang dan kerap terdorong keinginan sesaat dalam berbelanja.

Orang-orang seperti itu, Verauli menambahkan, sering terjebak dalam treadmill hedonis, yaitu memeras keringat mengejar kekayaan tapi tidak beranjak ke mana-mana. Kondisi ini terjadi saat standar gaya hidup seseorang melonjak seiring dengan peningkatan pendapatan.

Misalnya, Si Badu bisa hidup anteng dengan Rp 2 juta per bulan saat pertama bekerja. Namun, seiring dengan kenaikan karier, dia malah berutang waktu gajinya mencapai Rp 20 juta. Maklum, dia butuh sepatu dan pakaian bagus dari desainer ternama. Perangkatnya juga kudu keluaran terbaru dari seri termahal. Paling gampang, ya lari ke kartu kredit. “Hasilnya, dia bukan tambah kaya, tapi jadi makin miskin,” ujar Verauli.

Sebaliknya, Si Mental Kaya kerap menjalani hidup sederhana dan jauh dari gaya hedonis. “Pemilik kepribadian ini menyukai proses menuju kaya dan menyadari tidak ada cara instan untuk mencapainya,” kata Verauli. Ciri khas pemilik kepribadian ini, dia menambahkan, adalah rajin mengelola kelebihan pendapatan—walau cuma seiprit—menjadi aset.

Verauli mengatakan mental Si Kaya dan Si Miskin bukan bawaan lahir. “Ada dinamika yang membuat mental itu berkembang,” kata pengajar Magister Profesi Psikologi di Universitas Tarumanegara, Jakarta, ini.

Dia mengaku pernah memiliki mental miskin. “Setiap hari makan di mal,” kata Verauli. Namun, pertemuan dengan mendiang Liem Sioe Liong—yang pernah menyandang sebutan orang terkaya di Indonesia—beberapa tahun lalu mengubahnya. “Beliau menyarankan kurangi makan di luar, kurangi liburan, dan perbanyak membaca buku yang menginspirasi kita mencapai hal positif.”

 

loading...

Apple Akan Segera Luncurkan iPad Generasi Baru

Lagu Favorit 2014 Dipegang Soundtrack Frozen