,

Ingin Tahu Bagaimana Warga Lokal dan Pendatang Hidup di Tolikara?

HARIANACEH.co.id — Untuk mengetahui seperti apa denyut hidup masyarakat lokal dan pendatang  di Kabupaten Tolikara dan sejarah lahirnya Tolikara?. Seperti dituturkan Sekretaris Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Pendeta Marthen Jingga, lembah Toli pertama kali dikunjungi oleh missionaris  Kristen asal Amerika Serikat  pada tahun 1950an.

“Mereka yang membangun bandara dan membuka jalan,” kata Marthen di rumah missionaries GIDI di Tolihara, Rabu sore (23/7/2015).

Penduduk Tolikara yang ditemui  oleh misionaris ini menganut kepercayaan lokal dan hidupnya masih sangat sederhana. Saat itu, lembah Toli masih sangat tertutup dan satu-satunya cara memasuki tempat ini adalah dengan berjalan kaki menelusuri hutan belantara. Itu tahun 1950-an.

Di buku berjudul Datangnya Terang , Sejarah Injil Masuk Wilayah Toli yang ditulis oleh Kondabaga menjelaskan, penduduk lembah Toli masih tinggal di honai, tanpa pakaian,  perang suku kerap terjadi, sangat kuat dengan adat istiadatnya seperti memotong jari tangan ketika anggota keluarga meninggal dan pesta bakar batu, serta kuatnya kepercayaan pada jimat untuk menyembuhkan penyakit.

Masuknya missionaris asing mengubah lembah Toli menjadi lebih terbuka  kepada masyarakat luar. Peninggalan misionaris masih terasa kuat dan hidup di masyarakat. Seperti bangunan gedung misionaris yang ada di Karubaga, ibu kota Kabupaten Tolikara merupakan peninggalan misionaris asal Amerika Serikat dan Kanada.  Cara hidup masyarakat Tolikara juga nampak dalam kehidupan mereka saat ini seperti berpakaian, makan dengan cuci tangan, tinggal di rumah, dan mengenal teknologi  untuk bertani dan berladang seperti parang dan pisau untuk memotong kayu.

Setelah Kabupaten Tolikara berdiri tahun 2002 __ melepaskan diri dari Kabupaten Jayawijaya__ para pendatang dari Sulawesi Selatan (Toraja, Bone, Makassar), pulau Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur), dan Sumatera (Tapanuli Utara, Nias) mulai melirik Tolikara sebagai tempat mereka mencari nafkah.

Dari pengamatan Tempo, mayoritas para pendatang sebagai pedagang sembako, warung makan dan minum, pedagang pakaian,  pedagang  onderdil dan service sepeda motor,  pedagang bahan materil untuk bangunan, pedagang kue dan jajanan , pedagang obat, dan penyedia jasa transportasi.

Penduduk lokal seperti ibu-ibu dan anak-anak remaja menjual sayuran, buah-buahan, di pinggir jalan. Mereka meletakkan barang dagangannya di tanah dan duduk menantikan para pembeli. Beberapa perempuan sambil mengunyah pinang dan mengembangkan payung menahan sinar matahari. Mereka duduk bercanda dengan pedagang di sebelahnya. “ Ini buah merah, asli Papua. Ini manis, enak,” kata seorang ibu pedagang.

Tempo menelusuri pusat bisnis Tolikara yang berada di pinggir jalan utama kota Karubaga, tak menemukan warga asli Papua sebagai pedagang . Mereka menjadi pembeli atau konsumen bagi produk-produk yang dijual  para pendatang. Mereka membeli barang jarang menawar harga, biasanya mereka langsung menunjuk barang yang dibeli dan membawanya pulang.

loading...

Di Tolikara, Salah Satu Ustadz Ini Disapa Gembala

PLN Padamkan Listrik Untuk Perbaikan Jaringan