HARIANACEH.co.id – Ada yang unik dari akuisisi Facebook atas WhatsApp yang diumumkan pada Rabu (19/2/2014) kemarin. CEO WhatsApp Jan Koum mengajak rekannya sesama pendiri Whatsapp, Brian Acton, dan pemodal ventura Jim Goetz ke bekas kantor Dinas Sosial North County, Mountain View, Amerika Serikat.

Di depan gedung yang sekarang tidak terpakai inilah, Jan Koum, imigran yang hijrah ke AS dari negeri komunis Uni Soviet dengan modal dengkul, dulu mengantre untuk mendapatkan food stamp, kupon makanan yang dibagikan pemerintah AS untuk orang kurang mampu.

Di sana pula Koum dan kawan-kawan menandatangani perjanjian jual beli senilai 19 miliar dollar AS atau sekitar Rp 223 triliun dengan raksasa jejaring sosial Facebook. WhatsApp telah mengubah hidup Koum, dari seseorang yang sempat hidup sebatang kara menjadi miliarder.

Baca Juga:  Warna Bulan Merah Darah, Petang ini Gerhana Total
CEO WhatsApp Jan Koum sedang menandatangani perjanjian jual beli senilai 19 miliar dollar AS dengan Facebook, di pintu depan bekas kantor dinas sosial yang menjadi bagian dari kenangan masa lalunya.
CEO WhatsApp Jan Koum sedang menandatangani perjanjian jual beli senilai 19 miliar dollar AS dengan Facebook, di pintu depan bekas kantor dinas sosial yang menjadi bagian dari kenangan masa lalunya.

Nilai kekayaan Koum, yang menurut Forbes memiliki 45 persen saham WhatsApp, kini mencapai kisaran 6,8 miliar dollar AS.

WhatsApp sendiri telah tumbuh menjadi raksasa pesan instan dengan jumlah pengguna aktif bulanan mencapai 450 juta. Setiap harinya, menurut Wired, server layanan ini mengirim lebih dari 18 miliar pesan, hampir menyamai volume harian SMS yang sebesar 19,5 miliar.

Apa yang menjadi rahasia kesuksesan WhatsApp? Sejak dulu Koum dan Acton selalu konsisten menjaga layanan perusahaan yang hanya memiliki 50 orang karyawan itu agar tetap sederhana dan berfokus pada pengiriman pesan serta bebas iklan.

WhatsApp akhirnya menerima tawaran Facebook untuk menjadi bagian terbesar dari perusahaan raksasa social network besutan Mark Zuckerberg.
WhatsApp akhirnya menerima tawaran Facebook untuk menjadi bagian terbesar dari perusahaan raksasa social network besutan Mark Zuckerberg.

Sebab, alih-alih dipandang sebagai sumber pemasukan besar, iklan justru mereka anggap mengganggu arah perusahaan dan kenyamana pengguna. Koum dan Acton sudah cukup puas dengan pemasukan WhatsApp dari biaya langganan pengguna, yang tahun lalu hanya menyentuh 20 juta dollar AS. Angka itu terbilang sangat “mungil” untuk layanan sebesar WhatsApp.

Baca Juga:  Cellebrite Ingin Retas iPhone 6 Setelah Berhasil Retas iPhone 5c

Kesederhanaan WhatsApp tercermin dari secarik kertas di ruang kantor Koum, berisikan semboyan singkat yang ditulis oleh Acton: “Tanpa Iklan! Tanpa Permainan! Tanpa Gimmick!”. Di sampingnya tergeletak sepasang walkie-talkie yang dipakai Koum untuk mencari tahu bagaimana caranya menyederhanakan pesan instan berbasis suara.

loading...