,

"From Hero to Zero", Para Diktator yang Dilengserkan oleh Rakyatnya

HARIANACEH.co.id — Lembar sejarah dunia kini mencatat nama mantan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych menjadi salah satu pemimpin negara yang digulingkan rakyatnya sendiri. Selama berabad-abad, dunia sudah mencatat ratusan pemimpin yang awalnya begitu dielu-elukan, tetapi kekuasaan para pemimpin itu berakhir tragis di tangan rakyat mereka sendiri.

Setelah tergusur, sebagian para pemimpin itu harus terusir dari negerinya sendiri, bahkan tak sedikit yang harus kehilangan nyawa. Berikut Kompas.com memilih sejumlah pemimpin dunia yang kekuasaannya berakhir tragis.

1. Mohammad Reza Pahlavi (Iran)

biography.comMohammad Reza Pahlavi
biography.com
Mohammad Reza Pahlavi

Mohammad Reza Shah Pahlavi atau Shar Iran adalah penguasa Iran sejak 16 September 1941 hingga 11 Februari 1979 saat dia digulingkan Revolusi Islam yang dipimpin Ayatollah Khomeini.

Saat berkuasa, Mohammad Reza Pahlavi memperkenalkan apa yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Putih, sebuah program reformasi ekonomi, sosial, dan politik yang diharapkan bisa membawa Iran menjadi salah satu kekuatan dunia.

Namun, program modernisasi dan sekularisasi Iran membuat Shah perlahan-lahan kehilangan kendali atas para ulama Syiah dan rakyat kelas pekerja.

Hal lain yang membuat kekuasaan Shah Iran kian melemah adalah pengakuannya terhadap keberadaan Israel, korupsi yang dilakukan keluarga dan kroninya, serta tekanan terhadap lawan-lawan politiknya dengan menggunakan dinas rahasia SAVAK yang terkenal kejam.

Berdasarkan data resmi, pada 1978, Iran memiliki 2.200 tahanan politik, yang jumlahnya terus bertambah berbarengan dengan munculnya revolusi Islam.

Pada 1979, kisruh politik kemudian berubah menjadi sebuah revolusi yang membuat Mohammad Reza Shah Pahlevi harus meninggalkan Iran. Akibat ancaman hukuman mati jika kembali ke Iran, Reza Pahlevi akhirnya meninggal dunia di pengasingannya di Mesir.

2. Moammar Khadaffy (Libya)

nydailynews.comMoammar Khadaffy
nydailynews.com
Moammar Khadaffy

Pria bernama lengkap Muammar Muhammad Abu Minyar al-Gaddafi ini adalah pemimpin Libya selama 42 tahun. Dia merebut kekuasaan lewat kudeta pada 1969, lalu memimpin Libya sebagai pemimpin revolusi Republik Arab Libya pada 1969-1971.

Kemudian, dia mengubah gelarnya sebagai “pemimpin” Republik Sosialis Arab Libya pada 1977 hingga dia terjungkal dari kekuasaannya pada 2011.

Anak peternak Baduin miskin ini memulai kariernya saat mendaftarkan diri di akademi militer di Benghazi. Tubuh militer Khadaffy kemudian membentuk sel-sel revolusioner yang kemudian berhasil merebut kekuasaan dari Raja Idris lewat kudeta tak berdarah pada 1969.

Khadaffy kemudian membubarkan monarki dan menciptakan sistem politik yang disebutnya sebagai “sosialisme Islam”. Dia menggunakan syariah Islam sebagai basis sistem hukum dan melakukan nasionalisasi industri minyak.

Pada 1973, Khadaffy menginisiasi apa yang disebutnya sebagai “Revolusi Rakyat” dengan membentuk Komite Umum Rakyat (GPC), sebuah sistem demokrasi langsung, tetapi tetap mengendalikan sejumlah keputusan penting.

Setelah gagal dalam konflik militer dengan Chad dan Mesir, Khadaffy kemudian menjadi pendukung kelompok militan dan diduga terlibat dalam pengeboman pesawat Pan AM di Lockerbie, Skotlandia, yang membuat Libya menjadi musuh dunia.

Amerika Serikat pernah menyerang Libya dan mengebom beberapa lokasi di Libya pada 1986, tetapi Khadaffy saat itu berhasil lolos tanpa cedera.

Setelah empat dekade menguasai Libya, ternyata bibit kebencian terhadap Khadaffy mulai tumbuh dan pecah pada 2011 yang segera berubah menjadi sebuah revolusi yang menyulut perang saudara.

NATO, yang membantu pihak oposisi, mengakibatkan jalannya perang menjadi lebih cepat dan berujung keruntuhan kekuasaan Khadaffy. Pada Agustus 2011, pasukan pemberontak menangkap dan kemudian membunuh Khadaffy.

3. Husni Mubarak (Mesir)

memrise.comHusni Mubarak
memrise.com
Husni Mubarak

Pria kelahiran 4 Mei 1928 ini memulai kariernya sebagai seorang anggota angkatan udara Mesir dan sempat menjadi panglima AU Mesir pada 1972-1975. Pada 1975, Mubarak ditunjuk menjadi wakil presiden dan menjadi presiden pada 14 Oktober 1981, menyusul terbunuhnya Presiden Anwar Sadat.

Mubarak memerintah Mesir selama hampir 30 tahun yang membuatnya menjadi salah satu pemimpin dunia dengan masa jabatan terlama. Saat badai “Arab Spring” menghantam Mesir dan dipicu kondisi ekonomi yang buruk, rakyat Mesir menggelar unjuk rasa besar-besaran di Kairo dan beberapa kota lain selama 18 hari.

Akhirnya, pada 11 Februari 2011, Wakil Presiden Omar Suleiman mengumumkan Husni Mubarak mundur dari jabatan presiden dan kekuasaan dikendalikan Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata.

Pada 13 April 2011, kejaksaan memerintahkan penahanan Mubarak dan kedua putranya selama 15 hari dengan tuduhan melakukan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Mubarak kemudian diadili dengan tuduhan memberikan perintah untuk membunuh para pengunjuk rasa dalam revolusi damai itu. Sidang itu resmi dimulai pada 3 Agustus 2011.

Sementara itu, didahului inisiatif putri Anwar Sadat, Roqaya al-Sadat, jaksa militer Mesir juga menyatakan tengah menyelidiki peran Mubarak dalam pembunuhan Anwar Sadat.

4. Zine El Abedine Ben Ali (Tunisia)

Guardian.co.ukZine El Abedine Ben Ali
Guardian.co.uk
Zine El Abedine Ben Ali

Pria ini menjadi penguasa Tunisia pada 1987-2011 hingga revolusi rakyat menggulingkan pria kelahiran 1936 itu dari tampuk kekuasaan.

Ben Ali terpilih menjadi perdana menteri pada Oktober 1987. Lewat sebuah kudeta tak berdarah atas Presiden Habib Bourguiba, pada 7 November 1987, Ben Ali resmi menduduki kursi Presiden Tunisia.

Dalam setiap pemilihan presiden yang digelar di Tunisia, Ben Ali selalu terpilih dengan perolehan suara di atas 90 persen. Pada pemilu 2009, Ben Ali kembali terpilih dengan perolehan suara yang menakjubkan.

Pada 14 Januari 2011, menyusul aksi unjuk rasa selama satu bulan, Ben Ali akhirnya mundur dari jabatannya dan kabur ke Arab Saudi menyusul istrinya Leila dan ketiga anaknya.

Pemerintah sementara Tunisia saat itu meminta Interpol menerbitkan surat penangkapan internasional terhadap Ben Ali dengan dakwaan pencucian uang dan penyelundupan narkotika.

Pada 20 Juni 2011, pengadilan Tunisia menyidangkan Ben Ali dan istrinya secara in absentia dan menjatuhkan hukuman 35 tahun penjara dalam dakwaan pencurian dan pemilikan uang serta perhiasan yang tidak sah.

Pada Juni 2012, sekali lagi dalam sidang in absentia, Ben Ali dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena memicu kekerasan dan pembunuhan. Hukuman seumur hidup lain dijatuhkan pengadilan militer pada April 2013 karena memadamkan unjuk rasa di kota Sfax dengan kekerasan.

5. Ali Abdullah Saleh (Yaman)

thedailybeast.comAli Abdullah Saleh
thedailybeast.com
Ali Abdullah Saleh

Dia adalah politisi Yaman yang kemudian menjadi Presiden Yaman dari 1990-2012. Saleh sebelumnya adalah Presiden Yaman Utara pada 1978 hingga unifikasi dengan Yaman Selatan pada 1990.

Setelah 33 tahun berkuasa dan akibat tekanan unjuk rasa rakyat besar-besaran, Saleh sepakat menandatangani kesepakatan yang disponsori Dewan Kerja Sama Teluk pada November 2011.

Kesepakatan itu memuluskan jalan wakil presidennya menjadi penjabat presiden hingga 21 Februari 2012 hingga ditunjuk secara resmi sebagai presiden.

Pada 22 Januari 2012, parlemen Yaman menerbitkan undang-undang yang menjamin Saleh tidak akan menjalani proses hukum dan akhirnya dia meninggalkan Yaman menuju Amerika Serikat.

6. Nicolae Ceaucescu (Romania)

telegraph.co.ukNicolae Ceaucescu
telegraph.co.uk
Nicolae Ceaucescu

Ceaucescu memulai karier politiknya sejak terlibat dalam gerakan pemuda komunis Romania. Karier politik Ceaucescu melesat di masa Rumania dipimpin Gheorge Gheorgiu-Dej hingga kematian sang pemimpin pada 1965. Saat itulah, Ceaucescu melanjutkan kepemimpinan Dej di Partai Komunis Romania sebagai sekretaris jenderal.

Masa pemerintahan Ceaucescu digambarkan sangat brutal dan represif, bahkan digambarkan mirip dengan Uni Soviet saat diperintah Stalin. Dia menggunakan polisi rahasia Securitate untuk mengendalikan rakyat dan meredam lawan-lawan politiknya.

Ceaucescu menguasai semua sendi kehidupan di Romania, termasuk media dan kebebasan berpendapat. Pada 1982, demi membayar utang negara yang sangat besar, Ceaucescu memerintahkan penjualan sebagian besar hasil pertanian dan industri negeri itu.

Akibatnya, persediaan makanan, bahan bakar, energi, obat-obatan, dan kebutuhan mendasar lainnya berkurang di dalam negeri yang langsung menurunkan standar hidup warga dan memicu perlawanan rakyat.

Rezim Ceaucescu benar-benar tamat setelah dia memerintahkan tentara menembaki aksi unjuk rasa rakyat di kota Timisoara pada 17 Desember 1989.

Ternyata peristiwa itu malah membuat perlawanan rakyat semakin gigih dan menyebar hingga ke ibu kota Bucharest, yang berkembang menjadi sebuah revolusi berdarah menjungkalkan rezim komunis negeri itu.

Ceaucescu dan istrinya, Elena, akhirnya terpaksa meninggalkan ibu kota, tetapi di tengah jalan tertangkap pasukan angkatan darat.

Pada 25 Desember 1989, setelah diadili secara singkat oleh pengadilan militer, Ceaucescu dan istrinya dinyatakan bersalah melakukan pembunuhan massal. Keduanya langsung dihukum mati di hadapan regu tembak.

7. Ferdinand Marcos (Filipina)

WordPress.comFerdinand Marcos
AFP
Ferdinand Marcos

Pria bernama lengkap Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos, Sr ini dikenal sebagai diktator Filipina yang menguasai negeri itu pada 1965-1986.

Marcos awalnya adalah seorang pengacara yang kemudian duduk di parlemen Filipina (1949-1959). Dia juga sempat menjadi anggota senat (1959-1965). Dia juga menjabat presiden senat pada 1965-1969.

Saat berkuasa, Marcos mengimplementasikan sejumlah program pembangunan infrastruktur dan reformasi pertanian. Namun, di sisi lain, pemerintahannya dipenuhi korupsi, nepotisme, kolusi, represi terhadap lawan politik dan pelanggaran HAM.

Pada 1983, pemerintahan Marcos dituding terlibat dalam pembunuhan tokoh oposisi Benigno Aquino, Jr. Pembunuhan tokoh oposisi ini kemudian memicu aksi massa yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Rakyat Filipina pada Februari 1986.

Revolusi rakyat itu berujung pada terdepaknya Marcos dari Istana Malacanang yang kemudian disusul pengasingan dirinya di Hawaii, AS.

Pemerintah Filipina kemudian menuding dia dan istrinya, Imelda, memindahkan miliaran dollar AS uang negara ke AS, Swiss, dan beberapa negara lainnya. Ferdinand Marcos akhirnya meninggal dunia dalam pengasingan pada 28 September 1989.[KCM/HA/IPL]

Sumber: Kompas

loading...

Perdana Menteri Baru Italia Janji Segera Lunasi Utang

Temuan Manuskrip Ungkap Gagasan Albert Einstein yang "Hilang"