ROMA, HARIANACEH.co.id — Perdana Menteri Italia Matteo Renzi menekankan “keberanian dan kesigapan” sebagai kekuatan utama pemerintahan baru, dalam pidato sebelum memenangi mosi di Senat pada Senin. Ia berjanji, pemerintah Italia akan melunasi tunggakan utang publik serta berfokus pada perbaikan sekolah.

Renzi, 39 tahun, dilantik sebagai Perdana Menteri (PM) Italia pada Sabtu silam. Ia menjadi PM termuda Italia, sesudah memimpin pergerakan di partainya untuk melawan pendahulunya, Enrico Letta.

Renzi ingin segera menunjukkan hasil agenda ambisiusnya. Hasrat besar Renzi diperkirakan mencakup langkah-langkah untuk mengatasi tingkat pengangguran yang melonjak di Italia. Ia berniat memulihkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri, yang terus berjuang keluar dari resesi terpanjang sejak Perang Dunia II.

Baca Juga:  Saham Asia Naik Tipis Karena Pasar Tunggu Kebijakan RBA

Dalam pidato di depan Senat, mantan wali kota Florence itu mengutarakan agenda pemerintahannya. Ia mengusung tiga janji utama: pemangkasan tarif pajak gaji sebesar dua digit, pembentukan dana jaminan guna meningkatkan pinjaman bagi perusahaan kecil, serta mencicil tunggakan Italia kepada pemasok. Langkah itu akan memperkuat kas perusahaan swasta.

Roma tahun lalu berjanji mencicil utang sebesar 40 miliar euro (sekitar Rp638 triliun), namun hanya berhasil membayar lebih dari separuhnya.

Keseluruhan utang pemerintah Italia kemungkinan lebih dari 100 miliar euro, demikian menurut beberapa prediksi. Renzi bersikeras ia mampu melunasi keseluruhannya. Cicilan utang tak bakal berdampak pada defisit anggaran Italia. Namun, cicilan akan meningkatkan utang negara Italia, berdasarkan aturan akuntansi Uni Eropa (UE).

Renzi berbicara panjang lebar soal kebutuhan mendesak akan perbaikan sekolah di Italia. Menurutnya, upaya ini bakal menghabiskan beberapa miliar euro.

Baca Juga:  Di Tengah Melimpahnya Produksi, Harga Minyak Mentah Turun

Ia mendesak badan legislatif untuk membebaskan diri dari budaya lama yang selalu merasa rendah diri di Eropa. Renzi pun meminta mereka lepas dari pandangan bahwa aturan-aturan UE terlalu birokratis. “Kita perlu bermimpi besar,” sahutnya.

Menurut Renzi, pengaruh Italia dalam pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah UE dapat ditingkatkan. Asalkan, lembaga legislatif menyetujui kebijakannya—termasuk perubahan undang-undang tenaga kerja serta pemilihan umum—sebelum 1 Juli. Pada tanggal itu, Roma mengambil alih kepresidenan bergilir UE.

Renzi juga berkomentar mengenai tuntutan akan perubahan radikal, juga keberhasilannya meraih kekuasaan melalui pemungutan suara partai, bukan pemilihan umum nasional. Ia menandaskan: “Jika kita gagal, semua kesalahan akan berada di pundak saya.”[WSJ/HA/IPL]

Sumber: WSJ

loading...