TBILISI, HARIANACEH.co.id — Demonstrasi yang menggulingkan pemerintah Ukraina memiliki makna tersendiri di Georgia. Seperti Ukraina, negara pecahan Uni Soviet itu berupaya mendekati Eropa. Georgia juga bermasalah dengan Moskow.

Ratusan pengunjuk rasa di Tbilisi dan beberapa kota lain di Georgia berkumpul di jalanan kala malam tiba. Mereka melambaikan bendera Ukraina dan menyalakan lilin. Demonstran pun menyanyikan lagu kebangsaan Ukraina.

Kampanye juga menyebar di media sosial. Di Facebook, ratusan warga Georgia mengubah kota asal dalam profil mereka menjadi Kiev. Mereka juga menghitamkan foto profil, tanda dukungan akan protes Ukraina.

“Mereka [rakyat Ukraina] berjuang demi kebebasan. Kami ingin mereka tahu, bahwa kami bersama mereka. Kami memiliki nasib yang sama. Secara historis, kami sama-sama diusik Rusia,” kata Tamara Gurchiani, pengacara hak asasi manusia yang menjadi salah satu pengerah massa di Tbilisi.

Baca Juga:  Serangan Koalisi Tewaskan 200 Militan ISIS

Warga Georgia, negara kecil nan strategis di Pegunungan Kaukasus, juga merasakan kerapuhan yang serupa. Mereka kehilangan sebagian besar teritori pada lima tahun lalu, sesudah terlibat perang dengan Rusia. Ratusan orang dilaporkan meninggal di negara dengan 4,5 juta penduduk itu.

Selasa lalu, Menteri Luar Negeri Georgia Maia Panjikidze menyatakan tentara Rusia melanjutkan pembangunan pagar kawat berduri di sepanjang zona penyangga dekat Republik Ossetia Selatan. Negara pecahan Georgia itu disokong Moskow.

“Peristiwa hari ini memperdalam kecurigaan kami, bahwa Rusia sedang mempersiapkan berbagai provokasi sebelum perjanjian asosiasi ditandatangani,” papar Panjikidze seperti dikutip kantor berita Georgia.

Perjanjian yang disebutkan Panjikidze merupakan kesepakatan perdagangan dan politik dengan Barat yang diperkirakan bakal ditandatangani Georgia, juga Moldova, pada tahun ini. Kesepakatan itu serupa dengan pakta yang ditolak mantan Presiden Ukraina, Viktor Yanukovych tahun silam. Penolakannya dibayang-bayangi tekanan Moskow. Rakyat Ukraina pun memprotes keputusan presidennya, dan belasan orang meninggal. Yanukovych pun jatuh.

Baca Juga:  Militer Pakistan Kembali Kuasai Bandara Karachi, 10 Militan Tewas
AFP/Getty ImagesPerdana Menteri Georgia Irakli Gharibashvili di Tbilisi, 16 Januari 2014.
AFP/Getty Images
Perdana Menteri Georgia Irakli Gharibashvili di Tbilisi, 16 Januari 2014.

Untuk menghindari tekanan Rusia, petinggi Uni Eropa dan Georgia mempercepat jadwal penandatanganan pakta, dari September ke Agustus.

Petinggi Georgia pada pekan ini terbang ke Amerika Serikat. Di sana, Gedung Putih menegaskan kembali “dukungan kuat” atas kedaulatan dan integritas teritori Georgia. Perdana Menteri Georgia Irakli Garibashvili sudah bertemu Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Wakil Presiden Joe Biden, Senin.

“Saya pikir, bagus jika Georgia dan negara lain mempercepat pakta itu, juga menggalang sebanyak-banyaknya dukungan dalam waktu genting ini,” kata Sabine Freizer Gunes, pengamat senior di Eurasia Center, Dewan Atlantik, di Istanbul. “Bagi negara-negara Eropa, ada peluang untuk menekankan fakta bahwa lingkungan Timur merupakan titik sensitif. Mereka membutuhkan dukungan lebih besar.”[WSJ]

Sumber: WSJ

loading...