NASIONAL

Riau Siaga Darurat Asap

JAKARTA, HARIANACEH.co.id — Riau menetapkan status darurat asap setelah kebakaran lahan di provinsi tersebut meningkatkan tingkat polusi yang menyebabkan ribuan penduduk mengalami kesulitan bernafas.

Lebih dari 22.000 orang mengalami gangguan saluran pernafasan, ujar Gubernur Riau, Annas Maamum. Ia telah meminta pemerintah pusat untuk turun tangan menangani masalah kabut asap.

“Kami tak sanggup mengurusi asap [sendirian],” ujar Kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Said Saqlul Amri.

Riau menjadi jantung industri minyak kelapa sawit nasional yang bernilai $20 miliar—terbesar dunia—dan menjadi pusat penghasil kertas dan bubur kertas di tanah air.

Kebakaran lahan rutin terjadi di provinsi tersebut. Kebanyakan kasus dipicu oleh ulah para peladang atau perusahaan perkebunan yang membakar area hutan guna membuka lahan baru.

Asap yang berasal dari ribuan titik api pada Juni lalu meningkatkan kadar polusi udara di Singapura dan Malaysia. Kasus itu lantas mempertegang hubungan diplomatik antara Indonesia dengan kedua negara tetangga itu. Namun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya mengajukan permintaan maaf.

Sejauh ini, data polusi udara di Singapura dan Malaysia masih dalam batas normal. Namun, banyak warga Riau harus berjuang melawan kabut asap tebal yang membuat kegiatan belajar-mengajar di sekolah terhenti dan jarak pandang menyempit.

Kepolisian Riau telah menahan lebih dari 30 orang yang dicurigai menjadi pemicu api. Tak satu pun di antara mereka yang ketahuan memiliki pertalian dengan perusahaan perkebunan.

Membuka lahan dengan cara membakar adalah pelanggaran hukum, kecuali bagi para pemilik lahan kecil. Setelah krisis asap Juni lalu, pemerintah memasukkan 10 perusahaan minyak sawit dan kayu pulpa (pulpwood) ke dalam daftar tersangka pemicu kebakaran. Menurut pemerintah, kasus hukum terhadap seluruh tersangka itu masih berlanjut.

Menurut Gubernur Maamum, kebakaran terparah masih melanda wilayah yang sama dengan kasus tahun lalu seperti Bengkalis, Rokan-Hilir, dan Dumai.

Di Pekanbaru, sekolah-sekolah telah menghentikan aktivitas belajar-mengajar sejak dua pekan terakhir.

Sementara di Dumai, sekolah-sekolah masih akan tutup hingga kondisi udara membaik.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengatakan tengah menyiapkan upaya pemadaman api dari udara dan darat. [WSJ]

Sumber: WSJ

 

TERPOPULER

To Top