THAILAND, HARIANACEH.co.id — Sudah seminggu lebih Perdana Menteri Thailand (PM) Yingluck Shinawatra tidak terlihat di Bangkok. Kini, genderang perang terdengar dari utara Thailand, beriringan dengan meningkatnya frustrasi akibat terus berlangsungnya protes anti-pemerintah di ibukota.

Yingluck disambut suka cita saat tiba di kampung halamannya di kota Chiang Mai, Thailand utara, Kamis. Ratusan pendukung meminta Yingluck bertahan dari demonstrasi anti-pemerintah di Bangkok yang menuntut pengunduran dirinya, untuk digantikan sebuah pemerintahan interim tanpa lewat pemilu. Sang perdana menteri dibuat terharu oleh sambutan ini.

Area Thailand utara memang dikenal sebagai sumber dukungan kuat bagi Yingluck dan kakaknya, mantan PM Thaksin Shinawatra. Thaksin mengubah negara konservatif dan feodal ini lewat sejumlah kebijakan populis dan pro-warga miskin dalam dasawarsa lalu. Thaksin akhirnya digulingkan lewat kudeta militer pada 2006.

Baca Juga:  Gadis ini Dipuji Sebagai Pahlawan Setelah Berhasil Membunuh 9 Tentara ISIS

Meski demikian, dukungan untuk pemerintahan Yingluck dari wilayah utara Thailand mulai menjurus ke kekerasan. Sejumlah pendukung Yingluck kini mempersiapkan latihan militer untuk membalas kerusuhan di masa depan.

“Kami memprediksi puluhan ribu orang akan mendaftar,” kata Suporn Uttawong, tokoh gerakan pro-pemerintah “Kaus Merah”. Suporn, mantan anggota parlemen, dijuluki “Rambo” oleh teman-temannya.

Suporn kembali mencalonkan diri dalam pemilu 2 Februari lalu, namun pemungutan suara dihambat oleh pendemo dan masih belum selesai hingga sekarang. Dalam wawancara telepon, Suporn, 49 tahun, berharap mendapat hingga 200 ribu sukarelawan dari wilayah timur laut Thailand. Kampanyenya dimulai Sabtu ini di Maha Sarakham, salah satu kota termiskin di Thailand.

“Kami rela jika satu hari kami harus berjuang dan mengorbankan nyawa. Kami tidak akan mengizinkan kudeta dalam bentuk apapun,” kata Suporn. Para anggota akan diajari taktik militer, seperti bagaimana memblokir jalanan utama ke wilayah timur laut Thailand. Komentarnya ini menambah sentimen pemberontakan yang sering terdengar di beberapa wilayah terpencil Thailand.

Baca Juga:  12 Orang Tewas Akibat Ledakan Dua Bom di Depan Pengadilan Pakistan

Jika situasinya memburuk, “Perdana Menteri Yingluck dapat membentuk pemerintahan di sini bersama kami,” kata Suporn. “Ia tidak harus mengasingkan diri.”

Rencana Suporn ini lebih merupakan perwujudan rasa frustrasi di beberapa wilayah di utara Thailand, ketimbang strategi yang jelas. Meski demikian, tanda-tanda pertempuran kini lebih jelas terlihat antara pendukung Yingluck dengan penentangnya, yang terdiri dari petani, royalis kerajaan, dan pendemo lain yang menudingnya mementingkan agenda klan Shinawatra.[WSJ]

Sumber: WSJ

loading...