HARIANACEH.co.id — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa yang mengharamkan perburuan dan perdagangan satwa liar.

MUI bukanlah organisasi keagamaan pertama di dunia yang mendukung konservasi alam. Dalai Lama juga pernah berkampanye menentang perdagangan satwa liar. Meski demikian, fatwa ini penting mengingat Indonesia – negara Muslim terbesar dunia – termasuk negara dengan jumlah spesies tanaman dan binatang terbesar di dunia.

Pekan ini MUI mengeluarkan fatwa yang melarang umat Muslim “membunuh, melukai, dan memburu” satwa liar. MUI juga menetapkan status haram bagi perburuan ilegal dan perdagangan satwa liar terancam punah, seperti macan, gajah, dan orangutan.

“Fatwa ini mengatakan kita harus melindungi satwa terancam punah dan mempertahankan ekosistem yang seimbang,” kata Hayu Prabowo, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam MUI. Ia mengatakan MUI mengeluarkan fatwa ini lantaran konflik antara hewan dan manusia yang terus terjadi.

“Memang sudah ada undang-undang perlindungan satwa liar,” ujar Hayu. Bagaimanapun, jelasnya, orang bisa saja lolos dari hukum pemerintah, tetapi tidak dari “hukum Allah.”

Baca Juga:  Ini Kelebihan Anggota Polri Menurut Badrodin Soal Capim KPK

Indonesia adalah penghasil utama kayu dan minyak kelapa sawit yang digunakan dalam beragam produk, dari masakan sampai cairan pembersih. Permintaan gading dan tanduk badak – yang digunakan dalam obat tradisional Cina – juga memicu kenaikan perburuan liar.

Agence France-Presse/Getty Images
Gajah bernama Ria dan bayinya di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, Agustus 2013.

Sejak 2004, terhitung hampir 130 gajah mati di Riau. Sebagian besar karena konflik dengan manusia atau perburuan ilegal.

Populasi gajah Sumatra saat ini berkisar 2.400 ekor, sementara orangutan Sumatra sekitar 7.300 ekor. World Wide Fund for Nature (WWF) memperkirakan jumlahnya dapat berkurang sampai 50% dalam 10 tahun mendatang jika habitat mereka terus mengecil dan praktek perburuan tetap berlangsung.

MUI sendiri telah mengeluarkan ratusan fatwa. Peraturan ini tidak mengikat secara hukum, dan lebih bersifat sebagai panduan bersikap bagi umat Muslim. Namun, kelompok perlindungan alam mengatakan fatwa tersebut bermanfaat dari sisi spiritual.

“Kami menganggap ini langkah yang bagus karena MUI memperhatikan masalah konservasi,” kata Nyoman Iswarayoga, direktur perubahan iklim dan energi di WWF Indonesia. WWF telah menjalin diskusi dengan MUI untuk mendapat dukungan dalam hal konservasi.

Baca Juga:  Saling Merasa Benar, Itulah Sikap Jessica dan Keluarga Mirna
Agence France-Presse/Getty ImagesBadak di hutan Sumatra.
Agence France-Presse/Getty Images
Badak di hutan Sumatra.

Kendati demikian, perlindungan satwa liar yang memadai membutuhkan lebih dari sekedar fatwa, kata Nyoman.

“Fatwa ini berfungsi sebagai pelengkap undang-undang yang telah diterapkan pemerintah,” ujar Nyoman. “Berkurangnya habitat akibat penggundulan hutan dan perburuan ilegal membutuhkan dukungan tambahan; tak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari negara lainnya.”

Dampak fatwa ini terhadap upaya konservasi di Indonesia masih belum dapat dinilai, mengingat MUI beberapa kali mengeluarkan fatwa yang dipandang ajaib oleh beberapa pihak.

MUI pernah merilis fatwa melarang umat Islam berpartisipasi dalam perayaan Natal, yoga, dan merokok. Fatwa yang disebut terakhir ini tidak populer di mata publik mengingat banyaknya jumlah perokok di Indonesia.

Pada 2010 MUI melarang perempuan Islam yang belum menikah mengeriting rambutnya dan membuat foto pra-nikah. Sementara itu fatwa MUI yang menargetkan umat minoritas, seperti Syiah, dikhawatirkan memicu kekerasan antar-agama.

Meski Nyoman menyadari hal ini, ia mengatakan fatwa yang mengharamkan perburuan satwa liar ini berfungsi sebagai “pengingat” bahwa Quran “jelas menyatakan peran” beragam unsur dalam ekosistem serta “bagaimana manusia hidup berdampingan bersama mereka.”

Sumber: WSJ

loading...