HARIANACEH.co.id — CEO BlackBerry John Chen bergabung dengan BlackBerry di tengah-tengah kesulitan yang melanda perusahaan tersebut. Keadaan ini dinilainya mirip dengan yang dihadapi perusahaan teknologi lain, Apple, pada 1997.

Ketika itu, Apple yang kehilangan pangsa pasar PC dan kalah bersaing dengan produsen lain berada di ambang kebangkrutan. Lalu pendiri Apple Steve Jobs kembali dan membalikkan peruntungan perusahaan tersebut.

“Saya melihat Steve Jobs di YouTube, saat dia kembali ke Apple. Dia bilang ‘Saya tak punya produk baru, saya sangat fokus pada basis pelanggan kami,’ Itulah (keadaan) saya saat ini,” ujar Chen dalam sebuah wawancara dengan The New York Times.

Bedanya, jika Apple menyasar segmen konsumen, “basis pelanggan”  BlackBerry yang dimaksud Chen adalah kalangan korporat dan pemerintahan.

Baca Juga:  Lollipop Menguasai Pangsa Pasar Android

Sebab itu, Chen mengatakan bahwa BlackBerry kini tak terlalu memikirkan  kiprahnya di segmen konsumen, di mana dominasi perangkat perusahaan itu telah tergerus habis oleh para pesaingnya selama bertahun-tahun.

Meski ingin tetap mempertahankan kehadiran produknya di ranah konsumen, Chen mempertanyakan apabila smartphone akan tetap bertahan menjadi perangkat yang menguntungkan bagi produsen.

“Apple harus menjual 58 juta smartphone untuk mendapatkan, margin 10-12 persen, menurut perkiraan saya. Kalau kita bukan salah satu pemain terbesar, darimana kita bisa memperoleh margin? Saya bisa menjual 30 juta ponsel dan tetap merugi, saya harus realistis di sini,” ungkap Chen.

Industri smartphone memang bisa dikatakan masih sangat baru dan tak dijamin akan bertahan selamanya. Apple sendiri, sebagai perusahaan yang menjadi “inspirasi” Chen melalui Steve Jobs, mengandalkan banyak pemasukan lain di luar penjualan hardware smartphone, seperti misalnya mengambil komisi dari penjualan file musik dan aplikasi.

Baca Juga:  Studi: Halusinasi Bisa Dipicu Karena Sering Menggunakan Twitter

Terkait dengan hal ini, BlackBerry memiliki produk berupa  layanan messaging yang terkenal keamanannya. Chen berharap bisa memanfaatkan aplikasi-aplikasi korporat yang menitikberatkan pada aspek sekuriti. Pelanggan-pelanggan di segmen ini biasanya bersedia membayar lebih tinggi dibandingkan konsumen awam.

“Kami punya 80.000 pelanggan BlackBerry enterprise server, di pemerintahan hukum, Wall Street, rumah sakit… Saya harus bekerja lebih baik dengan kanal-kanal itu,” kata Chen lagi.

Sumber: New York Times

loading...