HARIANACEH.co.id — Beberapa pihak mempertanyakan prioritas anggaran pemerintahan Barack Obama yang dapat merusak strategi luar negeri Amerika Serikat (AS). Mereka boleh kembali tercengang saat seorang pejabat senior Pentagon secara tak sengaja mengatakan bahwa minimnya anggaran membuat poros AS ke Asia “tengah dipertimbangkan karena tak dapat diwujudkan.” Padahal pada saat yang sama, Cina mengumumkan kenaikan belanja pertahanan tahunan sebesar 12,2%.

Reuters
Kapal induk Amerika Serikat, USS Harry S. Truman

Pernyataan Asisten Menteri Pertahanan AS, Katrina McFarland mungkin terlalu polos. Ia pun berupaya meluruskannya dengan mengatakan, “[Strategi] menyeimbangkan kembali (hubungan dengan) Asia dapat dan akan diteruskan.”  Namun, para sekutu dan pesaing AS di Asia sadar bahwa pernyataan pertama Katrina lebih mengandung kebenaran. Mereka tahu bahwa kebijakan Obama untuk “membangun bangsa sendiri” akan mengurangi ketersediaan dana bagi urusan strategis.

Poros AS di Asia bertujuan mencegah agresi Cina dan menjamin sekutu AS dengan mengerahkan 60% pasukan Angkatan Laut (AL) AS ke Pasifik pada 2020 (sekarang ini jumlahnya sekitar 50%) dan meningkatkan kerjasama AS dan militer sekutu. Sebanyak 2.500 Marinir AS akan secara rutin bertugas secara bergantian di Australia utara. AL AS pun mulai menempatkan kapal perang di sepanjang pesisir Singapura. Pasukan AS agaknya akan memiliki akses besar ke Filipina, dan Washington tengah mendukung pertahanan Jepang dengan radar dan pesawat tanpa awak yang baru.

Baca Juga:  Sejarah Hari Ini: Joseph Stalin Benarkan Uni Soviet Miliki Bom Atom

Masalahnya, sejak 2009, pemerintah Obama telah memangkas $500 miliar anggaran pertahanan. Kini, pemerintah berniat mengerucutkan Angkatan Darat hingga mencapai level sebelum Perang Dunia II. Pemerintah tak ingin membuat Angkatan Laut setara dengan saat periode Perang Dunia I. Namun, rencananya, tak lebih dari 306 kapal akan diproduksi AL untuk menuntaskan misinya. Jika poros AS berlanjut, Asia kemungkinan akan menyaksikan 60% pasukan AL AS yang lebih kecil pada 2020.

Minimnya anggaran memaksa AL AS untuk membatalkan pengiriman lima kapal serta menunda pengerahan armada pemukul USS Harry Truman selama enam bulan. Pada pertengahan tahun lalu, AL hanya dapat mengirimkan rata-rata 95 dari 285 kapal, 10 unit lebih sedikit dari setahun sebelumnya. Menurut Kepala Operasi AL AS, Jonathan Greenert, “faktor tersebut adalah pengaruh minimnya anggaran.”

Amerika biasanya memiliki tiga armada pemukul dan tiga unit amfibi yang mampu bereaksi terhadap keadaan darurat dalam sepekan. Namun, hanya satu dari masing-masing kelompok yang tersedia. Sementara itu, ditangguhkannya pemeliharaan kapal dan pesawat telah menggerus kesiapan di masa mendatang.

Marjin kesalahan menyempit. Admiral Greenert Juli lalu mengatakan AL tak memiliki satu pun kapal Komando Selatan–mencakup Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan–yang beroperasi. Jika dibutuhkan, kawasan itu akan mengerahkan pasukan dari tempat lain, termasuk di antaranya Asia. “Kepercayaan tak dapat digelembungkan,” ujar Admiral Greenert di hadapan Kongres. “Kita harus hadir di sana, dan membangunnya hari demi hari.”

Baca Juga:  Foto 'Orangutan Kalimantan' Raih Penghargaan Kompetisi Foto Wildlife Photographer of the Year

Kepercayaan itu tidak hanya dibangun melalui kehadiran dan pelatihan di Asia, tapi dengan memelihara kredibilitas di seluruh dunia. Para pemimpin Asia dapat mengukur rencana anggaran AS. Mereka sanggup menarik pelajaran dari kegagalan AS dalam mencegah agresi Suriah, Iran, dan Rusia. Hanya ada satu militer AS untuk menangkal ancaman dunia, dan satu reputasi AS sebagai kawan sebanding dan lawan setanding.

Di Washington, mengkambinghitamkan minimnya anggaran dalam masalah belanja yang melanda Kongres dan Gedung Putih adalah hal biasa. Namun, ancaman sesungguhnya bagi belanja pertahanan Amerika dan keamanan global adalah hasrat pemerintahan Obama untuk memperluas kemakmuran Amerika, yang ujung-ujungnya menciutkan anggaran pertahanan. Kenyataan tersebut digarap untuk membentuk ikatan Amerika dengan Asia.

Komentar ceroboh McFarland menyiratkan kebenaran. Sekutu dan lawan Amerika menyadarinya. Seiring dengan terkuaknya realitas tersebut, mereka akan mulai menghitung ulang kepentingan militer dan strategisnya masing-masing.[wsj]

Sumber: WSJ

loading...