HARIANACEH.co.id — Jika sebuah pesawat jatuh, puing-puing pesawat hampir selalu ditemukan tak lama sesudah kejadian. Tetapi dalam beberapa kasus, sisa-sisa pesawat baru diketahui keberadaannya setelah waktu lama, atau bahkan sama sekali tak ditemukan.

Bangkai pesawat sewaan Jasa Transportasi Udara Militer Amerika Serikat milik Flying Tiger Line yang hilang pada 1962 tidak pernah ditemukan. Pesawat Lockheed K-1049 Super Constellation itu, dengan 107 penumpang, hilang saat terbang dari Guam ke Filipina. Pesawat ini diduga jatuh.

REUTERS
Awak helikopter militer Vietnam yang mencari pesawat Malaysia Airlines MH370 terbang di lepas pantai Pulau Tho Chu, Vietnam, 10 Maret 2014.

Menurut Aviation Safety Network, pencarian Lockheed tersebar sampai lebih dari 370.000 kilometer persegi dengan memakai 48 pesawat dan 8 kapal.

Pencarian berkepanjangan terhadap bangkai pesawat Air France yang jatuh ke Samudera Atlantik pada 2009 juga menjadi bukti sulitnya mencari pesawat di bawah laut. Sejumlah bagian pesawat ditemukan dalam beberapa hari. Namun untuk menemukan lebih banyak bagian lainnya, petugas harus tiga kali menjelajah wilayah yang diduga menjadi lokasi jatuhnya pesawat. Dalam setiap penjelajahan, mereka memakai peralatan yang semakin lama semakin canggih.

Baca Juga:  5 Tokoh Anti Taliban Tewas Akibat Bom di Pakistan

Setelah dua pencarian pertama tak membuahkan hasil, beberapa petinggi Air France menyerah. Meski demikian, Airbus sebagai pabrikan pesawat – terutama CEO-nya saat ini, Tom Enders – tetap berupaya mencari perekam data pesawat untuk menjawab beberapa pertanyaan yang masih ada. Pencarian ketiga, dengan biaya jutaan dolar, berhasil menemukan bangkai Airbus A330 itu pada April 2011.

Upaya pencarian itu didukung oleh data yang dikumpulkan oleh BEA, badan investigasi kecelakaan pesawat Perancis. Setahun setelah kecelakaan, BEA menjatuhkan sejumlah penanda terapung dekat posisi terakhir kapal yang diketahui. Data yang didapat kemudian dimanfaatkan untuk mengukur arus. Analisis dari spesialis di University of Massachusetts mengindikasikan pencarian saat itu hanya difokuskan pada lokasi yang diduga terlalu jauh dari tempat jatuhnya pesawat.

Baca Juga:  Jalanan Hong Kong Kembali Dibanjiri Ribuan Pendemo

Salah satu pencarian bawah laut terbesar dan pertama bagi pesawat modern tercatat pada tahun 1987 di perairan Mauritius. Sebuah pesawat Boeing 747 milik South African Airways jatuh di wilayah perairan tersebut saat terbang ke Johannesburg dari Taipei. Perkiraan lokasi ini diketahui lantaran kru kokpit telah melakukan kontak dengan menara pengawas via radio soal kebakaran dalam pesawat.

Dalam hitungan minggu, sebagian besar bangkai ditemukan di kedalaman 4,5 kilometer. Kapal selam khusus mengambil video berdurasi ratusan jam dan memeriksa bangkai pesawat. Akhirnya petugas hanya berhasil mengambil sekitar 24 benda, termasuk perekam suara kokpit. Meski demikian, penyelidik mampu menetapkan penyebab yang masuk akal soal jatuhnya pesawat itu: kebakaran yang dimulai dalam area kargo pesawat.[WSJ]

Sumber: WSJ

loading...