Penulis : Unoviana Kartika

HARIANACEH.co.id — Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang penting dilakukan, khususnya untuk mengetahui risiko kehamilan. Dengan mengetahui risiko kehamilan, komplikasi kehamilan bisa dicegah atau mendapat penanganan lebih cepat.

Badan PBB untuk kesehatan (WHO) merekomendasikan pemeriksaan kehamilan perlu dilakukan paling tidak empat kali sepanjang kehamilan. Namun dokter spesialis kebidanan dari RSIA Bunda Ivan Sini, mengatakan, untuk mendapatkan hasil optimal, pemeriksaan kehamilanA2180-271 sebaiknya dilakukan hingga 12 kali.

“Khususnya untuk kehamilan berrisiko, disarankan untuk memeriksakan kehamilannya dua belas kali,” ujar Ivan di sela-sela konferensi pers program Mobile Obstetrical Monitoring (MoM) di Jakarta, Selasa (11/3/2014).

Baca Juga:  Tanam Benang + Filler, Katanya Tren Kecantikan 2015

Pemeriksaan kehamilan sebanyak 12 kali antara lain: sekali dalam sebulan hingga usia kehamilan tujuh bulan, setiap dua minggu pada minggu kehamilan ke-28 hingga 32, setiap minggu dari minggu ke-32 hingga persalinan.

Tujuannya adalah untuk mengetahui perkembangan kehamilan beserta risikonya. Pemeriksaan biasanya meliputi pemeriksaan fisik secara umum, tekanan darah, gula darah,
920-548 pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG), hingga pemeriksaan laboratorium.

Namun bukan berarti setiap jenis pemeriksaan perlu dilakukan dalam setiap kali datang. Misalnya pemeriksaan USG, kata Ivan, dapat dilakukan sebanyak empat kali saja yaitu untuk mendeteksi risiko kehamilan seperti bayi kecil, plasenta di bawah, atau air ketuban sedikit.

Sayangnya, kebanyakan ibu hamil seringkali tidak menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan ini.  Menurut Ivan, paradigma pasien datang ke puskesmas atau rumah sakit untuk periksa harusnya sudah mulai diubah. Sebaliknya, tenaga kesehatan lah yang perlu mendatangi tempat tinggal dari pasien.

Baca Juga:  Bahaya, Ternyata Televisi Dan Radio Salah Satu Penyebab Stres

“Ini penting untuk menekan angka kematian ibu atau bayi yang mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup saat ini. Mungkin kalau bicara angka mudah saja, namun jika ada ibu atau bayi meninggal perasaan keluarga dan tenaga kesehatan itu sangat sedih sekali,” ujar Ivan. [KCM]

Sumber: Kompas

loading...