INTERNASIONAL

Cerita dan Kisah Penumpang Malaysia Airlines MH370

HARIANACEH.co.id — Saat malam tiba di Kuala Lumpur, pengusaha Philip Wood bergegas meraih tasnya untuk bertolak ke Beijing. Ia lupa tanggal keberangkatan pesawatnya. Namun, kekasihnya di Cina mengiriminya SMS untuk memastikan Philip tak ketinggalan pesawat.

Sekelompok seniman Cina selesai berpameran di Kuala Lumpur dan memutuskan berjalan-jalan.

Norli Ahmar Hamid selesai membereskan pakaian untuk berbulan madu dengan pasangannya. Ia pun mengunggah foto kucingnya yang mencoba menyelinap ke dalam kopornya lewat Facebook.

Mereka semua adalah penumpang pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang dari radar pada Jumat malam dalam perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Beijing.

AFP/Getty ImagesAnggota keluarga Norliakmar Hamid dan Razahan Zamani, penumpang pesawat Malaysia Airlines yang hilang memandangi foto album pernikahan keduanya.

AFP/Getty Images
Anggota keluarga Norliakmar Hamid dan Razahan Zamani, penumpang pesawat Malaysia Airlines yang hilang memandangi foto album pernikahan keduanya.

Para penumpang berasal dari pelbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, India, Indonesia. Sebanyak lebih dari 150 orang berkebangsaan Cina berada dalam pesawat.

Saat lepas landas, MH370 membawa serta 239 kisah hidup para penumpang dan awak yang masing-masing menyimpan pelbagai momen, besar atau kecil. Keseharian mereka berubah drastis menjadi misteri. Kini, seiring dengan memudarnya harapan akan munculnya keajaiban, kenangan mengubah hal acak dan rutin menjadi berharga.

Puluhan wawancara dengan karib, kerabat, dan kolega menunjukkan bahwa sejumlah penumpang cemas apakah akan tetap menaiki pesawat itu atau tidak. Penumpang lain telat menuju bandar udara dan terburu-buru mengejar pesawat. Ada pula yang membatalkan penerbangan dan bersyukur bahwa nyawa mereka terselamatkan.


Philip, 51 tahun, turut dalam penerbangan MH370 guna menemui kekasihnya, seorang guru di Beijing. Mereka berencana menjalani hidup baru di Malaysia.

Philip bekerja di International Business Machines (IBM) dan sebelumnya tinggal di Beijing. Ia adalah ayah berputra dua hasil pernikahan sebelumnya.

Dikenal sebagai Phil, ia menjalani jabatan barunya sebagai eksekutif IBM di Kuala Lumpur. Sarah Bajc, kekasihnya yang berumur 48 tahun, adalah janda beranak tiga dari Atlanta, Amerika Serika. Sarah berencana pindah ke Kuala Lumpur bersama Phil. Dalam rencana mereka, Phil akan mondar-mandir dari Kuala Lumpur ke Beijing dalam enam bulan pertama 2014 hingga Sarah pindah ke ibukota Malaysia itu. Di sana, Sarah sudah mendapat pekerjaan.

Pasangan itu memutuskan tinggal di sebuah apartemen yang terletak dekat rumah makan, pusat perbelanjaan, dan kantor keduanya. “Baginya, itu awal baru,” ujar James Wood, saudara kandungnya.

Lantas, Phil Wood kembali ke Kuala Lumpur. Ia membeli tiket Malaysia Airlines MH370 ke Beijing tempat Sarah telah menyiapkan barang untuk pindahan.

The Wood family/Associated Press
Philip Wood berfoto di depan Menara Petronas, Kuala Lumpur.

Namun, masalahnya, Phil mengira akan berangkat pada Sabtu malam. Sarah menemukan kekeliruan itu. Menurut Sarah, Phil kebingungan setelah melakukan perjalanan pulang ke Amerika Serikat sebelumnya.
“Ya ampun,” jawab Phil lewat pesan pendek pada Jumat pukul 3.30 sore. “Gila. Saking sibuknya, nggak sadar [kalau akan terbang] malam ini!

“Hampir saja ketinggalan pesawat,” ujarnya. Ia membalas: “Buruan, sayang.”

Phil pun berkemas. Sarah berpesan pada seorang sopir untuk menjemput Phil saat MH370 mendarat di Beijing.

Setelah berhasil berpameran, dua lusin seniman Cina berjalan-jalan, berbelanja, dan kembali pulang.

Tak satu pun dari mereka pernah ke Malaysia. Perjalanan mereka diatur oleh agen online IBICN dan kelompok kesenian Malaysia, Art Peninsular Enterprise. guna mendorong pertalian kedua negara.

Beberapa seniman dianggap sebagai pentolan kesenian Cina. Salah satunya jago melukis ayam, dan yang lain cakap melukis potret, burung, dan bunga. Sepanjang pekan tersebut, mereka kerap berada di aula pertemuan Kuala Lumpur dan Selangor. Karya mereka dipamerkan di sebuah ruang raksasa yang berhiaskan lampion dan tirai.

Sejumlah seniman mengeluhkan panasnya Kuala Lumpur, yang suhunya mencapai 30 deraja Celsius. Beberapa darinya bercucuran keringat tiap kali keluar ruangan. Pelukis yang berusia lebih tua enggan mencoba makanan Malaysia. Ia kadang memesan kuliner tradisional Cina seperti bakpao atau sup. Mereka tak pandai berbahasa Inggris. Pada Kamis malam, beberapa seniman minum sebotol Xifengjiu, minuman keras Cina dengan kadar alkohol tinggi.

Pada Jumat pagi, beberapa seniman berharap mereka tidak pergi secepat itu dari Malaysia. Berpakaian santai, para seniman itu menaiki bus pariwisata dan siap berkeliling Kuala Lumpur.

Zheng WenbinDua puluh empat seniman Cina yang tergabung dalam ajang pertukaran seni budaya Sino-Malaysia art exchange. Sebagian besar dari mereka termasuk dalam penumpang yang hilang dalam penerbangan Malaysia Airlines.

Zheng Wenbin
Dua puluh empat seniman Cina yang tergabung dalam ajang pertukaran seni budaya Sino-Malaysia art exchange. Sebagian besar dari mereka termasuk dalam penumpang yang hilang dalam penerbangan Malaysia Airlines.

Mereka berhenti di depan Kedutaan Besar Cina demi mendapat sambutan dari atase kebudayaan. Mereka mengunjungi Menara Petronas dan mengambil gambar pasukan berkuda di istana negara. Para seniman juga pergi berbelanja, membeli balsem setempat dan gantungan kunci khas Malaysia.

Zhu Junyan, pelukis berusia 41 tahun, membeli blus kuning dan celana panjang hijau untuk dipakai di pesawat. Ia berkata ingin mengenakan pakaian khas lokal, bukan buatan Cina.

Menurut Zheng, makan siang Jumat itu adalah yang terbaik selama mereka di sana. Mereka menyantap sup bebek, ikan kukus, dan udang goreng, babi rebus, dan tahu Hakka.

Saat menuju Bandara, Liu Rusheng, 76 tahun, mulai menyanyikan potongan lagu Cina. Saat rehat makan malam, Zhu membicarakan rencananya untuk tinggal di Beijing selama beberapa hari. Harapannya, ia bisa mewujudkan impian untuk mengunjungi Central Academy of Fine Arts.

Perjalanan dari tempat makan malam ke bandara memakan satu jam. Beberapa seniman memilih tidur.

Norli Akmar Hamid dan suaminya, Muhammad Razahan Zamani, akhirnya siap berbulan madu dan memulihkan trauma.

Norli, 33 tahun, dan Razahan, 24 tahun, adalah bagian dari kelas menengah Malaysia. Mereka bertemu di AEON, jaringan pasar swalayan Jepang di Kuala Lumpur.

Razahan bekerja sebagai asisten penjualan dan mendapat pekerjaan lain. Norli pindah menjadi asisten urusan administrasi di Prima Elite Technology, perusahaan perawatan dan perbaikan pesawat.

Mereka menikah pada 6 Oktober 2012, setahun setelah pacaran.

Razahan tinggi kekar. Ia menulis catatan di Facebook mengenai kecintaannya pada sepak bola dan film “Titanic”. Menurut koleganya, ia seorang pemotor. Norli memakai jilbab. Ia setidaknya memiliki lima kucing dan suka menonton drama kriminal seperti “NCIS” dan “Criminal Minds,” begitu tertera di akun Facebook-nya.

Pasangan itu awalnya berencana berbulan madu di Dataran Tinggi Cameron, perbukitan Malaysia yang terkenal asri. Namun, Norli sakit, ujar koleganya di kantor. Jadi, Norli dan Razahan mulai merencanakan perjalanan ke Beijing. Norli bercerita kepada temannya mengenai mimpinya bertemu Leon Lai, aktor Cina dan bintang favoritnya.

Norli pun hamil dan mulai mencemaskan rencana perjalanan ke Beijing, ujar kawannya. “Ia ragu untuk pergi ke Bejing karena masih hamil muda,” ujar sang teman.

Norli meminta pendapat. Temannya memintanya memeriksa kandungan dan menyarankannya untuk tetap berangkat.

Beberapa pekan sebelum berangkat dengan MH370, Norli mengalami keguguran. “Ia sedikit hilang arah,” ujar temannya. “[Norli] sangat kepengin punya anak.”

Norli dan Razahan memutuskan tak membatalkan perjalanan. Norli meminta cuti dua pekan. “Ia bilang saat kembali ia akan memulai hidup baru,” ujarnya kepada sang atasan yang hanya ingin dipanggil Ediana.

Seiring dengan Jumat yang mendekat, Norli menggunggah foto di Facebook tentang kucing-kucingnya yang duduk di kopor. Ia telah mempersiapkan baju hangat, termasuk kaos kaki dan syal untuk Beijing yang dingin.

Akhirnya, hari keberangkatan tiba. Orang tua Norli, Sarah Mohammad Nor dan Hamid Ramlan, mengantar pasangan itu ke bandara. Sang ayah salah belok, tapi akhirnya berhasil menemukan jalan, ujar beberapa temannya. Norli dan Razahan mengucap selamat tinggal. Menurut beberapa teman, keduanya tak pernah menumpang pesawat sebelumnya.


Para seniman Cina tiba pukul 8 malam lebih sedikit. Pesawat berangkat sekitar pukul 12.30 dini hari. Daniel Liau, seniman Malaysia dan pemilik galeri yang turut menyiapkan perjalanan, membantu mereka mendapatkan tiket kelas ekonomi dan mendaftarkan barang bawaan.

Sekitar pukul 9 malam, seorang staf Cina menyerahkan tiket kepada enam seniman. Kelompok lebih kecil, termasuk di antaranya Zheng, meminta tiket pulang yang berbeda karena mereka tinggal jauh dari Beijing. Para anggota kelompok yang lebih kecil diberi tahu bahwa mereka berangkat setengah jam setelah kelompok lain berangkat dengan tujuan Shanghai.

Para seniman yang menuju Shangai berpamitan dan berjanji untuk terus berhubungan dengan para seniman yang akan menaiki MH370. Mereka berencana membuat akun email untuk saling berbagi foto perjalanan.

Kedelapanbelas seniman, tujuh bertalian dan empat pegawai IBICN tujuan Beijing berjalan menuju pintu C1. Hou Bo, 33 tahun, pegawai IBICN, ikut menemani mereka melewati pos imigrasi.

“Saya menghubungi Hou Bo sekitar tengah malam,” ujar Liau. “Mereka berkata akan baik-baik saja. Mereka baru saja mendaftar ke petugas maskapai. Semoga mereka selamat.” Kelompok itu berterima kasih kepadanya atas segala pertolongan yang diberikan di Kuala Lumpur.


Norli dipusingkan oleh pekerjaan yang belum diselesaikannya. Ia seharusnya membuat surat penting untuk seorang klien, ujar bosnya. Sang atasan memintanya menulis surat itu lewat pesan pendek di WhatsApp.

Pada Jumat pukul 10.47 malam, Norli menjawab: “Maaf, saya lupa.” Ia memohon permaafan dari atasannya dan memberinya kesempatan lagi, ujar sang bos.

Sebelum pesawat bertolak, Philip terus bertukar pesan dengan Sarah di Beijing. Pada pukul 8.05 malam, Sarah mengabarinya mengenai kelanjutan beres-beres barang untuk pindahan.

“Semuanya siap kecuali pakaian. Dapur, bar, barang-barang pajangan. Siap bungkus,” tulisnya. Punggungnya linu-linu akibat banyak mengangkat barang.

“Aku siap menolong…kebayang. Besok,  pungungnya aku pijat… terima kasih sudah bekerja keras! Kamu begitu berharga dan dicintai!” Philip membalas.

Ia membalas tak lama setelah lewat tengah malam: “Terima kasih sayang.”

MH370 pun lepas landas dan menyusuri Teluk Thailand dan Vietnam. Pilihan film bagi penumpang rute tersebut pada pekan ini di antaranya “Gravity” dan “Dallas Buyers Club.” Majalah penerbangan berjudul “Going Places” memuat artikel mengenai Istanbul dan Grand Canyon versi Australia.

Pada Sabtu pagi, atasan Norli mengirim pesan lewat WhatsApp yang berisi permakluman atas kealpaannya menulis surat. Kotak-kotak barang untuk Philip menunggu di apartemen Sarah.

Sumber: WSJ.com

TERPOPULER

Keatas