HARIANACEH.co.id — Saat WhatsApp resmi dibeli Facebook, banyak yang terkejut dengan total nilai transaksi penjualannya. Walau tak semuanya dibayar dengan uang, namun angka 19 miliar dollar AS menjadi nilai akuisisi tertinggi untuk sebuah layanan pesan instan.

Setelah kabar akuisisi tersebut, banyak analis yang menjadikan WhatsApp sebagai parameter untuk menilai berapa harga yang layak untuk layanan pesan instan lain, termasuk WeChat.

Dikutip dari Techcrunch, lembaga analis Credit Lyonnais Securities Asia (CLSA) menaksir harga WeChat bisa tiga kali lipat dari WhatsApp, nilainya saat ini mencapai setidaknya 60 miliar dollar AS.

Angka tersebut berdasar pada aliran pendapatan yang didapat WeChat lebih aktif dibanding WhatsApp. Di tahun ini saja, CLSA menaksir pendapatan WeChat berkisar antara 35 hingga 64 miliar dollar AS.

Baca Juga:  Strategi Sukses Berbisnis Rasulullah yang Diakui Dunia

Walau jumlah pengguna WhatsApp saat ini lebih banyak (465 juta) dibanding WeChat (300 juta), namun aliran pendapatan WeChat lebih besar.

WeChat mendapatkan pemasukan dari game, iklan, e-commerce, pembayaran mobile, serta pendanaan internet.

Sementara, WhatsApp memiliki model bisnis yang tidak menampilkan iklan atau game. WhatsApp hanya meminta bayaran dari penggunanya 1 dollar AS per tahun.

Jumlah pengguna WeChat juga semakin banyak. Tahun ini, pengguna layanan pesan instan milik raksasa teknologi China, Tencent ini diperkirakan mencapai 450 juta, yang masing-masing pengguna tersebut dihargai 142 dollar AS.

WhatsApp memang memiliki strategi untuk tidak mengotori halaman chat-nya dengan iklan. Komitmen tersebut juga ditegaskan kembali saat akuisisi oleh Facebook diumumkan. Namun, baik WhatsApp maupun Facebook belum membeberkan rencana bisnis layanan ini lebih rinci ke depannya akan seperti apa.

Baca Juga:  "Jobs" Bantu Lenovo Untuk Buat Smartphone

Di sisi lain, WeChat gencar memasang iklan. Namun, iklan-iklan yang ditampilkan juga tidak sembarangan. Iklan tersebut diawasi dan diseleksi ketat oleh Tencent.

“Walau banyak perusahaan online dan offline yang menarget pengguna WeChat, namun Tencent sangat berhati-hati mengontrol aktivitas promosi dalam WeChat,” ujar analis CLSA.

Akun promosi WeChat hanya bisa di-follow oleh pengguna yang telah mengenalnya. Tencent juga membatasi pesan promosi yang disampaikan tiap hari oleh akun publik.

Walau begitu, analsi CLSA memperingatkan bahwa model iklan WeChat bisa saja berubah lebih agresif, manakala penetrasi pengguna WeChat sudah tinggi.

Sumber: Tech Crunch

loading...