HARIANACEH.co.id — Penjualan software buatan Tiongkok dilaporkan meningkat secara signifikan setelah aktivitas mata-mata pemerintah AS diungkap oleh whistle blower Edward Snowden.

[-“mAMtsHNeR2WcuUxC7WZV8dOhygvSDQYM”]Perusahaan software, Neusoft Corp mengatakan kepada Reuters yang dikutip oleh redaksi harianceh.co.id (30/5/2014), pangsa pasar mereka telah meningkat 15 persen dalam dua bulan terakhir sejak 19 Mei 2014, saat U.S Justice Department menuntut lima pejabat militer Tiongkok meretas perusahaan Amerika untuk menjual informasi rahasia.

Neusoft Corp adalah salah satu penyedia solusi software yang juga menjual produk-produk jaringan dan software keamanan informasi untuk pemerintah dan klien-klien perusahaan pemerintah.

“Bisa dimengerti jika sebuah negara ingin memperkuat keamanan informasi dan cyber sembari menjaga independensi dan kontrol,” terang Lu Zhaoxia, Senior Vice President Neusoft.

Baca Juga:  "Jobs" Bantu Lenovo Untuk Buat Smartphone

Pemerintah Tiongkok sendiri saat ini sedang memperketat keamanan jaringannya, terutama untuk sektor energi, transportasi, dan keuangan. Mereka lebih percaya dan mengandalkan software dan hardware buatan Tiongkok.

“Sebelumnya kami menggunakan IBM, Oracle, dan produk jaringan asing lain, ke depannya, kami akan menggunakan lebih banyak lagi software buatan Tiongkok untuk jaringan domestik,” terang Lin Shansan, Investor Relations Office di ChinaSoft yang juga merupakan anak usaha China Electronics Corp.

China Electronics Corp sendiri adalah perusahaan pemerintah yang saat ini sudah memiliki 13 anak perusahaan lain.

Sementara itu, penjualan produk-produk teknologi buatan AS diakui mulai menurun di Tiongkok. Hal itu terjadi setelah dokumen NSA yang berisi kegiatan mata-mata mereka diungkap oleh Edward Snowden.

Baca Juga:  Mahasiswa Baru Teknik Mesin Wajib Ketahui Ini!

Dalam salah satu dokumen tersebut, terungkap bahwa produk-produk TI buatan AS seperti server dan router yang akan dijual ke luar AS ternyata dipasangi penyadap.

Pemerintah Tiongkok pada Agustus lalu juga telah membuat standar keamanan siber untuk institusi-institusi finansial, cloud computing, big data, manajemen sistem informasi rahasia dan kontrol industri.

Tiongkok juga akan menginvestigasi berbagai provider produk-produk dan layanan TI penting dalam rangka melindungi “keamanan negara” dan “pembangunan sosial dan ekonomi.”

Di samping itu, pemerintah Tiongkok bahkan sampai melarang penggunaan Windows 8 dalam komputer-komputer baru yang dipergunakan oleh instansi-instansi pemerintahannya.

“Keamanan informasi negara akan terancam jika software yang digunakan terdapat virus backdoor dan sejenisnya,” ujar Mian Wei, pejabat Kementerian Industri dan Teknologi Informasi. (Reuters)

 

loading...