HARIANACEH.co.id — Sebanyak 20 tenaga pengajar di Jakarta International School akan mulai dideportasi pada Jumat (05/06) ke negara asal karena terbukti melakukan pelanggaran keimigrasian, kata otoritas setempat.

[-“FB88MICkVauK22lJdjuAThopLqLDj9nb”]Pihak JIS mengkonfirmasi berita ini dan mengatakan pemulangan staf pengajar mereka ke negara asal dikarenakan “kesalahan administratif yang tidak disengaja dari pihak sekolah.”

“JIS menerima sepenuhnya tanggung jawab atas kesalahan tersebut,” kata Harry Ponto, penasihat hukum untuk JIS, dalam sebuah pernyataan.

Sekolah, lanjutnya, akan bekerja sama dengan otoritas untuk “mematuhi sepenuhnya semua persyaratan keimigrasian” ke depan.

Bertahap

Kepala Bagian Humas dan Tata Usaha Ditjen Imigrasi Jakarta Selatan, Heriyanto, mengatakan dari pemeriksaan terhadap 26 tenaga pengajar asing di JIS, sebanyak 20 orang terbukti melakukan penyalahgunaan izin.

Baca Juga:  Usai Lebaran Kali Ini, Wali Kota Surabaya Risma Akan Galakkan Yustisi

“Rencananya akan kita deportasi mulai besok secara bertahap,” katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska.

Tenaga pengajar yang dideportasi kebanyakan berasal dari Amerika Serikat (sebanyak sembilan orang) dan sisanya berasal dari Selandia Baru, Australia, Singapura, Taiwan, Turki, Kanada, Inggris, dan Afrika Selatan.

“Tidak semua berprofesi sebagai guru, ada tenaga penyuluh dan administrasi. Mereka melakukan pekerjaan di luar dari izin tinggal yang mereka miliki,” sambung Heriyanto.

Terungkapnya pelanggaran ini merupakan hasil dari dari pemeriksaan yang dilakukan Kemendikbud terhadap sekolah ini menyusul terkuaknya kasus dugaan pelecehan seksual di JIS.

Heriyanto menjamin proses hukum kasus pelecehan seksual – yang kini dalam tahap pengadilan – tidak akan terganggu karena pendeportasian tenaga pengajar.

Baca Juga:  2,7 Juta KK di Desa Belum Teraliri Listrik

April lalu, Taman Kanak-Kanak JIS resmi ditutup oleh pemerintah karena tidak memiliki izin.

 

loading...