HARIANACEH.co.id — Terinspirasi untuk bertindak karena kehilangan teman kanak-kanaknya, Justine Griffin mendonorkan sel telurnya bagi sepasang suami-istri di Irlandia.  Apa yang dialaminya, setelah donor ini berikut kisahnya.

“Saya selalu menjadi pengecut dalam keluarga saya, saya selalu menjadi yang pertama untuk menangis atau mengeluh pada ketidak-nyamanan.  Jadi ide untuk menyumbangkan sel telur dengan beragam prosedurnya terasa terlalu mengada-ada untuk keluarga saya.

[-“jEYTqShyvuxnmRuthFUhevht7NvJ8Gic”]Hingga sepasang suami istri yang tinggal di belahan dunia lain, melihat profil saya secara online. Pasangan ini telah melihat data-data saya baik kondisi fisik maupun kemampuan akademik saya, hingga mereka tertarik untuk memiliki anak seperti saya.

Ide ini saya sampaikan satu malam musim panas, saat makan malam bersama orang tua dan adik-adik saya. Kepada mereka saya katakan bahwa saya ingin membantu seseorang memiliki bayi seperti saya.  Pengumuman ini membuat perubahan drastis di makan malam itu. Orang tua saya langsung kehilangan selera makan.

Saya mengatakan kepada mereka, saya hanya ingin membantu pasangan yang tidak bisa memiliki anak dari sel telurnya sendiri. Dengan tingginya angka kemandulan  (7,3 juta orang  di Amerika Serikat), maka donor hormon dan sel telur seperti yang ingin saya lakukan sangat dibutuhkan.

Baca Juga:  Benarkah Minum Kopi Bikin Umur Lebih Panjang?

Dan dengan kompensasi rata-rata sekitar 5.000 dolar AS, maka prosedur medis yang relatif baru ini menarik banyak perempuan muda.  Sel telur dalam indung telur saya membuat saya berharga. Tanpa itu semua prosedur ini tidak akan berjalan. Ketika itu terungkap, saya mulai merasa seperti komoditas, bukan manusia! Seperti sebuah alat, bagian dari jalur perakitan bayi.

Ketika itu saya sadar industri kesuburan senilai 3miliar dolar ini adalah Wild Westnya dunia  kedokteran Amerika. Industri ini tidak diatur di sebagian besar wilayah di Amerika Serikat, khususnya di Florida. Donasi sel telur dilarang di Louisiana dan di negara-negara seperti Jerman, Austria dan Italia.  Sekumpulan masyarakat medis menetapkan pedoman yang dapat diikuti dokter  di AS.

Bisnis inipun bermunculan di seluruh negeri, memfasilitasi hubungan antara donor, ibu pengganti, pasangan dan dokter.  Beberapa penelitian dilakukan untuk mengetahui efek jangka panjang prosedur ini pada kesehatan. Sebanyak 20 perempuan jadi pendonor. Beberapa perempuan menderita stroke, menopause dini dan didiagnosis kanker. Dokter dan peneliti mengatakan tidak ada informasi yang cukup untuk mengkonfirmasi jika hormon yang digunakan dalam pembuahan in vitro dapat menyebabkan kemandulan atau masalah kesehatan lainnya.

Baca Juga:  Meredakan Nyeri Kaki? Ini 6 Langkah Efektifnya
Justine Griffin Melakukan Pemeriksaan. (Huffington Post)

Tapi inilah cara yang saya pilih untuk menghormati teman masa kecil yang meninggal, sekaligus sumbangan saya pada industri kesuburan.  Walau ternyata semua itu ternyata berakhir pada pengalaman yang menakutkan. Kista ovarium saya pecah dan ketakutan bahwa kesehatan reproduksi saya mungkin dalam bahaya.

Para dokter itu ada untuk sel telur saya dan bukan untuk saya. Tapi saya tidak akan pernah memberitahu hal itu pada keluarga saya. Saya tidak akan memberitahu mereka, bagaimana rambut saya rontok selama berbulan-bulan. Atau tentang berapa kali saya muntah mual dan migrain, disebabkan oleh tingginya kadar hormon yang dipompakan ke tubuh saya. Mereka tidak akan pernah tahu efek dari hormon ini akan menghantui saya di kemudian hari.

Pasangan itu juga tidak akan pernah tahu apa yang saya alami. Tetapi mereka akan mendapatkan apa yang mereka bayar, bayi yang setidaknya setengah seperti saya.  Sepanjang hidup, saya akan selalu bergantung pada keluarga saya, yang awalnya tidak mendukung prosedur yang saya jalani. “Cucu pertama saya akan hidup di belahan dunia dari saya,” kata ibuku.

 

loading...