HARIANACEH.co.id — Suara riak ombak yang menghantam pepohonan dan bebatuan terdengar jelas. Hembusan angin begitu terasa menyentuh kulit.

[-“tAPpxpihLrsgSEZ88JUhyBOacjMl9sxP”]Pepohonan yang gaduh oleh angin serta kicauan burung yang riuh memanjakan telinga. Dari ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut ini, kita bisa menikmati sejuta keindahan alam dari atasnya.

Ya, berdiri di puncak Gunung Geurutee, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, Aceh, akan memanjakan mata kita dengan sejuta panorama yang disuguhkannya. Salah satu pemandangan yang paling diminati ketika berada di puncak gunung tersebut adalah melihat sekumpulan burung Walet pulang.

Terletak di Samudera Hindia, pulau yang ditumbuhi berbagai jenis pepohonan di dalamnya dan ukurannya yang tidak terlalu besar itu tidak dihuni oleh seorang pun manusia.

Sebaliknya, pulau itu dihuni oleh makhluk bersayap dan berkaki pendek alias burung walet. Karena dihuni oleh ribuan burung walet, warga sekitar menyebutnya dengan nama ‘Pulau Walet’.

Pulau ini disebut-sebut menjadi salah satu sumber penghasilan besar Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh.

Kabupaten yang dikenal dengan nama Lamno ini memperoleh pendapatan dari penghuni pulau atau walet. Seperti diketahui, sarang walet yang terbuat dari air liurnya memiliki nilai jual yang tinggi.

Baca Juga:  HIMKA Unsyiah Peringati Hari Disabilitas Internasional

Salah seorang masyarakat Lamno yang berjualan di puncak Gunung Geurutee, Saiful, kepadaVIVAnews mengatakan, pulau walet tersebut merupakan milik pemerintah.

Menurutnya, tidak ada satu pun pengusaha atau investor yang mengelola walet-walet di sana.

“Setahu kami selama ini pemda yang kelola. Hasil walet pun diambil pemda. Katanya, hasil itu buat perawatan (pulau) sama buat pembangunan lainnya,” ujar pria yang akrab disapa Saiful Geurutee, Minggu 8 Juni 2014.

Tak jauh dari pulau berpenghuni Walet, terdapat sebuah pulau yang juga tak berpenghuni manusia.

Tidak jelas apakah penghuninya sama dengan Pulau Walet. Pulau berbentuk seperti Berudu berekor pendek ini juga menjadi salah satu objek pemandangan indah.

Jika beruntung, saat matahari hendak ditelan oleh samudera, kita dapat melihat pemandangan indah tatkala matahari tampak seperti membelah kedua pulau tersebut.

Namun, pemandangan seperti itu tak akan kita temui setiap hari. Hanya terjadi pada saat-saat tertentu.

Gunung Geurutee sendiri terkenal dengan keragaman jenis flora dan fauna yang terdapat di dalamnya.

Baca Juga:  Danrem 011/LW Buka Lattap Raider Batalyon INF 111/KB

Selain itu, perjalanan melintasi jalan nasional yang menghubungkan Banda Aceh dengan Aceh Barat Selatan di dalam gunung tersebut memiliki sensasi tersendiri.

Sebelah kiri berbatasan langsung dengan tebing atau dinding gunung, sedangkan di kanan langsung berbatasan dengan laut.

Sementara itu, Lamno sendiri merupakan salah satu daerah dengan ciri khusus dan berbeda dengan daerah lain di Aceh.

Di Lamno, ada gadis bermata biru keturunan Portugis, yang jarang dijumpai di daerah lain.

Dari salah satu sumber disebutkan, gadis bermata biru ini merupakan keturunan orang-orang Portugis yang terdampar dan kemudian hidup di Lamno.

Oleh Raja Daya, raja di Aceh Jaya atau Lamno dulu, tentara Portugis tidak dijadikan budak. Mereka malah dibiarkan hidup bebas dan diperbolehkan menikah dengan penduduk pribumi setelah memeluk Islam tentunya.

Namun, pada beberapa literatur lain disebutkan, keturunan mata biru tersebut ada sejak ramainya saudagar dari Arab, Hindia dan Eropa yang singgah di Aceh Jaya pada masa itu.

Para saudagar tersebut datang ke Aceh untuk menukarkan senjata dengan hasil perkebunan Aceh, yakni rempah-rempah. (viva)

 

loading...