[-“RBVuieIPQjwU3NGoOsw6IRsiCcM2ezR7”]HARIANACEH.co.id — Asisten pribadi ustad Abu Bakar Ba’asyir, Hasyim Abdullah, menyatakan bahwa terpidana kasus terorisme itu tidak berbaiat kepada Islamic State of Iraq and Syria, melainkan pada Daulah Khilafah Islamiyyah.

“Pemberitaan itu perlu diluruskan. ISIS itu sebelum terbentuknya Daulah Khilafah Islamiyyah,” kata Hasyim di Cilacap, Jawa Tengah, semalam.

Dalam hal ini, kata dia, setelah terbentuknya Daulah Khilafah Islamiyyah diangkatlah seorang khalifah sebagai ulil amri atau pemimpin dunia.

“Itulah yang membuat ustad ABB berbaiat kepada khilafah bukan kepada ISIS,” katanya.

Menurut dia, ISIS hanyalah sebuah organisasi yang memperjuangkan kekuasaan di Irak dan Syam (Suriah) atau gerakan perjuangan jihad.

Setelah di berbagai wilayah yang dikuasai ISIS diberlakukan syariat Islam, lanjut dia, maka dibentuklah khalifah sehingga berubah menjadi Daulah Khilafah Islamiyah.

“Atas dasar Daulah Khilafah Islamiyah itulah, banyak orang berbaiat karena menyangkut keyakinan. Dalam Islam itu, apabila sudah terbentuk khilafah maka wajib bagi kaum muslimin di mana saja untuk berbaiat kepada khalifah karena kalau tidak (berbaiat) akan terkena ancaman Rasulullah, yaitu matinya mati jahiliyah,” katanya.

Baca Juga:  Lalu Lintas TB Simatupang Terganggu Akibat Aksi Tawuran

Ia mengatakan bahwa masalah berbaiat kepada khalifah tersebut banyak dijelaskan dalam hadist Rasulullah.

Lebih lanjut, Hasyim mengatakan bahwa organisasi Hizbut Tahrir bercita-cita mendirikan khilafah, namun sampai sekarang belum terbentuk.

“Nah, ini khilafah itu sudah terbentuk, Irak dan Syam (Suriah). Makanya banyak orang berbondong-bondong berbaiat karena masalah agama,” katanya.

Akan tetapi yang dipermasalahkan saat ini, kata dia, bukan masalah khalifahnya, melainkan ISIS-nya.

“Seolah-olah ada unsur kriminalnya, padahal tidak ada. Kalau bicara khalifah itu kewajiban semua orang,” katanya.

Terkait pemberitaan mengenai Ba’asyir membaiat sejumlah terpidana kasus terorisme di Lembaga Pemasyarakatan Pasir Putih, Pulau Nusakambangan, Hasyim mengatakan bahwa hal itu perlu diluruskan.

“Ustad ABB itu bukan membaiat yang ada di dalam (Lapas Pasir Putih), tetapi bersama-sama dengan orang yang sepaham atau orang yang sudah sepakat untuk berbaiat kepada khalifah,” katanya.

Dari 43 terpidana kasus terorisme di Lapas Pasir Putih, kata dia, ada 23 orang termasuk Baasyir yang sepakat untuk berbaiat kepada khalifah.

Baca Juga:  Lembaga Keamanan di ASEAN Perkuat Koordinasi Lawan Kejahatan Human Trafficking

Menurut dia, Ba’asyir menghormati perbedaan keyakinan sehingga tidak memaksa terpidana kasus terorisme lainnya untuk berbaiat kepada khalifah.

“Masalah berbaiat itu masalah perbedaan sudut pandang dalam agama. Mestinya ulama berbicara masalah ini,” katanya.

Sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa Baasyir telah membaiat sejumlah terpidana kasus terorisme yang menghuni Lapas Pasir Putih, Pulau Nusakambangan, untuk mengikuti ISIS.

Pemberitaan tersebut muncul setelah beredar foto Ba’asyir bersama sejumlah terpidana kasus terorisme lengkap dengan bendera ISIS.

Sementara itu, Menkopolhukam Djoko Suyanto mengatakan bahwa Pemerintah Republik Indonesia menolak paham ISIS berkembang di Indonesia karena tidak sesuai dengan ideologi Pancasila dan kebhinekaan yang menaungi NKRI.

“Pemerintah dan negara menolak dan tidak mengizinkan paham ISIS yang akhir-akhir ini menjadi IS (Islamic State) berkembang di Indonesia karena tidak sesuai dengan ideologi Pancasila dan kebhinekaan kita di bawah NKRI,” katanya di Jakarta.