,

Mendulang Sumpah

Oleh: Alfiandi[1]

Alfiandi

HARIANACEH.co.id — 1 Oktober 2014, menjadi hari yang ditunggu oleh para wakil rakyat negeri ini. Setelah ditetapkannya nama mereka sebagai kandidat terpilih oleh KPU untuk menduduki kursi parlemen di Senayan selama lima tahun ke depan, mereka akan menjalani suatu prosesi yang sakral. Ya, para anggota dewan akan dilantik di awal bulan ini.

Setidaknya ada 560 anggota DPR dan 132 anggota DPD serta anggota MPR priode 2014-2019 akan diambil sumpahnya untuk mengabdi kepada bangsa dan negara dengan penuh tanggung jawab dalam memajukan negeri ini. Fungsi sebagai wakil rakyat benar-benar harus dijalankan dengan penuh kesungguhan hati dan tentu saja janji-janji ketika masa kampanye akan ditagih.

Sebagaimana lazimnya prosesi pelantikan di suatu instansi, seakan momen ini bak menjadi pesta walimah di suatu pernikahan. Sehingga pelantikan tahun ini menjadi agenda yang sangat meriah. Bagaimana tidak berdasarkan data  LSM Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), anggaran yang dikeluarkan tidak sedikit dan ini jauh dari efesiensi. Untuk pelantikan DPR, DPD, dan MPR, akan menghabiskan uang pajak rakyat, yang dialokasikan sebesar Rp16.122.970.000, (Okezone.com, 30/09/2014).

Sungguh bukan nominal yang sedikit dalam memeriahkan perhelatan akbar bagi para wakil rakyat ini, padahal di saat yang sama rakyat harus menjerit dikarenakan pembatasan subsidi BBM yang kian digencarkan.

Khianat Sumpah

Sumpah akan mendatangkan petaka jika kita tidak benar-benar menjalankan sumpah tersebut. Di negeri ini seakan sumpah dan janji menjadi makanan sehari-hari untuk diucapkan. Tiap sudut warung kopi orang senang berjanji dan bersumpah, tiap-tiap sudut desa para pejabatnya suka bersumpah dan tentu saja di gedung parlemen berbentuk kura-kura yang dilapisi warna hijau tersebut, para wakil kita juga akan mengucupkan sumpahnya.

Namun pernahkah kita ingat bagaimana sumpah itu sangat mudah untuk dikhianati. Mereka disuruh untuk mengabdi, malah mencuri. Mereka disuruh berbakti untuk negeri malah diingkari dan mereka disuruh untuk menjaga nama bangsa justru mereka cemari.

Penulis merasa pesimis terhadap janji-janji yang akan diucapkannya kelak. Hal ini dikarenakan dua indikator. Pertama, kita bisa melihat bagaimana janji yang telah terucap pada masa kampanye, namun ketika ia terpilih tak satupun kerja nyata yang ia lakukan.

Kita masih ingat betul janji dan ucapan sumpah dari para anggota dewan priode sebelumnya juga telah melafalkan kalimat yang sama. Bak mengucapkan lantunan syair nan penuh makna, maka lafal sumpah yang sakral tersebut sering terabaikan terhadap kinerja mereka selama lima tahun.

Kedua,  janji ini tidaklah serta merta akan mereka ingat. Sebab bagi penulis mereka yang duduk diparlemen bukanlah wakil rakyat melainkan wakil pejabat, dengan tidak mengurangi rasa hormat kita dapat menyebutnya wakil penjahat.

Tentu tidak etis dan bernilai terlalu kasar jika kita menyebut mereka secara keseluruhan, sebab pasti ada sebagian yang tetap dapat kita ambil janjinya dan menjadi panutan. Namun, lagi-lagi mereka yang dapat dipercaya ini justru terbawa arus untuk ikut berkoalisi pada politik busuk semata. Padahal sebenarnya orang-orang yang dapat melawan arus kepentingan penguasa inilah yang seharusnya bekerja secara maksimal.

Dewan Bermasalah

Jika memang para anggota dewan kita ini akan mengucapkan sumpahnya. Bagaimana dengan para anggota dewan yang bermasalah? Tak elok rasanya jika mereka yang tersangkut kasus hukum baik itu kasus korupsi maupun kasus lainnya harus dilantik juga! Sungguh ini akan mencoreng kinerja para dewan lainnya.

Jero Wacik (Partai Demokrat), Herdian (PDI P), Idham (PDI P), Marthen Apuy (PDI P) dan sederetan nama para anggota DPR yang terlibat dugaan kasus korupsi juga ikut dilantik. Bagaimana mungkin orang yang terlibat suatu kasus harus kita ambil sumpahnya? Tetapi  jika kita mengacu pada pendapat anggota komisioner KPU memang tidak ada aturan hukum yang mengatur hal tersebut sehingga hal ini tidaklah perlu dikhawatirkan.

Terlepas dari pro kontra apakah para wakil rakyat yang mendapatkan masalah harus atau tidaknya untuk dilantik, namun pada intinya harapan besar bagi rakyat Indonesia yang memilih mereka sebagai aktor politik di senayan sana untuk menyuarakan aspirasinya demi kepentingan semua pihak. Kepentingan masyarakat luas harus diutamakan, bukan justru kepentingan para kelompok tertentu yang didahulukan.

Sumpah yang akan diucapkan oleh wakil rakyat ini tentu akan menjadi tanda tanya besar bagaimana kinerja dari dewan ini kedepan. Namun hal yang penting kita ingat jangan hanya mendengar ucapan sumpah maupun janji dari para elit negeri ini semata, melainkan bukti dan kerja nyata yang seharusnya diperlihatkan kelak sebagaimana komitmen mereka terhadap sumpah dan janji yang telah terucap. Semoga kita tidak kecewa untuk kesekian kalinya![]


CATATAN KAKI:
  1. Penulis adalah Mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Malikussaleh dan Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara (SDAU) Angkatan IV. Saat ini aktif di KSM Creative Minority.
loading...

Krueng Aceh Dikagetkan Dengan Mayat Mengapung

Bank Swiss Digugat Keluarga Adam Malik dan Heboh di Twitter