JAKARTA, HARIANACEH.co.id — Pergerakan indeks saham dan kurs rupiah masih dipengaruhi gonjang-ganjing politik. Menurut pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono, investor menunggu rencana koalisi partai pendukung Prabowo untuk mengajukan calon pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

[-“sR75R1iqAHwWYvV8c1wA4R7KwIBBpFKw”]Namun Tony mengatakan kedudukan tersebut tak sepenting jabatan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. “Peran MPR dalam memonitor pemerintahan sehari-hari tidak ada. DPR jauh lebih powerful,” katanya melalui pesan pendek seperti dilansir laman tempo, 5/10/2014.

Menurut Tony, walau tak sekrusial DPR, dengan dikuasainya MPR oleh koalisi pro-Prabowo, sentimen negatif dari pasar atau keraguan terhadap efektivitas pemerintahan Jokowi akan semakin kuat. Tony menilai melemahnya rupiah dan indeks saham yang disebabkan oleh keraguan pasar pun bisa terjadi bila presiden terpilih Joko Widodo tak mampu mengegolkan program-program yang disusun timnya di depan DPR. “Misalnya, APBN 2015,” katanya.

Baca Juga:  Oesman Sapta: Pasar Bebas ASEAN Pasti Akan Rugikan Ekonomi Indonesia

Tony menyebutkan kunci utama untuk keluar dari gejolak politik ini adalah kebesaran hati Megawati Soekarnoputri untuk berembuk dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam mewujudkan koalisi. “Ditambah juga koalisi dengan PPP,” katanya.

Rupiah, kata Tony, berpeluang besar menguat ketika pengumuman kabinet sesuai dengan harapan pasar. Pasar menantikan kabinet yang diisi para profesional. Walau rupiah menguat, kata Tony, penguatan ini masih belum cukup baik karena ada faktor eksternal, seperti sentimen ekonomi Amerika Serikat yang membaik.

 

loading...