HARIANACEH.co.id — Banyaknya petugas medis yang terinfeksi ebola membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti bahwa akan ada lebih banyak pekerja medis yang berpotensi terpapar ebola dalam waktu dekat.

[-“s4all5TGVIfhDIDt7rhBFJuKQnhOsbIy”]“Kesalahan kecil bisa menjadi fatal. Misalnya, saat Anda keluar dari ruang isolasi, Anda berkeringat, Anda mencopot alat pelindung dan kaca mata, lalu Anda menyeka hidung. Hal ini sangat mungkin menjadi akhir bagi Anda,” ujar Profesor Peter Piot, seperti dikutip BBC, hari ini. Piot merupakan pakar virus wbola yang ditunjuk PBB sebagai penasihat.

Piot mencontohkan kasus yang terjadi pada suster asal Spanyol, Teresa Romereo, yang terkena ebola setelah merawat dua pastor yang dipulangkan dari Afrika Barat karena terkena ebola. Teresa menjadi pasien pertama yang terkena virus ebola di luar Afrika Barat.

Baca Juga:  Narkoba Jenis Baru Membuat Manusia Seperti Kesurupan

Menurut data PBB pada akhir Agustus lalu, sudah ada lebih dari 120 pekerja medis yang tewas akibat virus ini. WHO mengibaratkan, pekerja medis memiliki “insting” untuk segera memberikan pertolongan kepada warga yang terinfeksi, tapi tak memperhatikan keselamatan dirinya sendiri. Pekerja medis juga mulai kelelahan, sehingga menyebabkan mereka menjadi semakin rentan tertular.

Beberapa waktu lalu, dua dokter Amerika bernama Nancy Writebol dan Kent Brantly terinfeksi ebola saat bertugas di Liberia. Seorang dokter asal Inggris, William Pooley, juga tertular ebola saat bekerja di Sierra Leone. Beruntung, nyawa mereka berhasil selamat setelah menerima obat ZMapp.

Sayangnya, Abraham Borbor meninggal karena terinfeksi ebola saat bertugas di Liberia. Salah satu dokter terbaik di yang bertugas di Sierra Leone, Sahr Rogers, juga harus kehilangan nyawa saat akan dievakuasi dan dirawat di Jerman setelah positif terjangkit ebola.

Baca Juga:  Tips Mencuci Piring Menjadi Lebih Mudah

 

loading...