JAKARTA, HARIANACEH.co.id — Penasihat senior lembaga kajian kebijakan publik Transformasi, Jonathan Pincus, mengatakan pemerintahan Joko Widodo -Jusuf Kalla berpeluang menggenjot pertumbuhan ekonomi dua digit atau di atas 10 persen.

[-“jQZOOatoFEgvx7rKCO4JqOgjW2ci1uWo”]Asalkan, “Jokowi-Kalla mampu mendorong pasar produk manufaktur nasional untuk bersaing di tingkat global,” ujar Pincus dalam peluncuran buku Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru di Hotel Four Seasons, Jakarta, Kamis, 9 Oktober 2014.

Menurut Pincus, ada peluang untuk merebut pasar global. Saat ini, tutur dia, terjadi penurunan kinerja industri di Cina, yang selama ini menguasai pasar produk manufaktur dunia. Indonesia memiliki peluang menerima pindahan industri dari Cina. “Jika ada 7 persen industri manufaktur Cina yang pindah ke Indonesia, ada 21 juta lapangan kerja baru yang muncul.”

Baca Juga:  Sempat Anjlok, Kini Harga Minyak Dunia Naik Tipis

Selain menggenjot ekspor, Pincus mengatakan Jokowi-Kalla harus bergerak cepat dalam menyediakan lapangan kerja. Setiap tahun, Indonesia menghasilkan 2 juta angkatan kerja baru. Namun, dari jumlah itu, hanya 800 ribu yang diserap akibat rendahnya pertumbuhan industri. “Kalau pemerintahan Jokowi-JK gagal mengatasi ini, akan sangat berbahaya,” ujarnya.

Ia menyatakan, selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berlangsung, pertumbuhan hanya ditopang lonjakan harga komoditas (commodity boom), seperti harga mineral tambang di pasar global. Sedangkan sektor manufaktur padat karya yang selama ini mampu menyerap tenaga kerja tertinggal dari Cina, Vietnam, India, Thailand, bahkan Bangladesh. “Selama SBY nyaris tidak ada gebrakan kebijakan ekonomi memacu pertumbuhan,” tuturnya.

Baca Juga:  Dua Isu Amnesti Pajak Diklarifikasi Ditjen Pajak

 

loading...