HARIANACEH.co.id — Perubahan menuju kehidupan Islami terus berlangsung di Aceh. Syi’ar Islam nampak sangat luar biasa. Seperti menjelang Idul Adha, di mana pawai takbir ribuan Muslim Aceh memadati kota Banda Aceh.

[-“nYL4mvMmxVxY04ZgHqJvgl6ikBH15ifR”]Tidak seperti di Jakarta, mau merayakan takbir menyambut Idul Fitri dilarang oleh Ahok. Sementara itu, perayaan tahun baru masehi, di fasilitasi. Sehingga kemusyrikan semakin nampak di Jakarta. Begitulah bila pemerintahan dipimpin oleh kafir musyrik (yahudi-nasrani).

DPR Aceh belum lama ini telah meratifikasi qanun (undang-undang) jinayah (hukum Islam), dan diberlakukan terhadap siapa saja, termasuk warga asing yang melanggar hukum Islam. Memang, belum sempurna, seperti hukum rajam, bagi para pelaku zina, masih belum sepenuhnya dilaksanakan, dan diganti dengan hukum cambuk.

Sekarang, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Unsyiah (Universitas Syah Kuala) menjadi pelopor bagi gerakan tegaknya Syariah Islam, di mana BEM Unsyiah menggelar Pekan Ilmiah Islam Nasional mulai 9-11 Oktober 2014, di Gedung AAC Dayan Dawood, Kopelma Darussalam, Banda Aceh.

Acara tersebut mengusung tema “Meneguhkan Islam sebagai Paradigma Perjuangan Mahasiswa”.

Ketua BEM FH Unsyiah Muhammad Taufiq didampingi Ketua Panitia Pekan Ilmiah Islam Nasional, Muhammad Raza Pasaribu, dalam rilis yang diterima kepada berbagai media, Rabu (8/10/2014), menyebutkan, dalam event ini, panitia menggelar bedah buku karya Ustadz Dzulkarnain M Sunusi berjudul “Pedoman Syariat dalam menilai peristiwa (ISIS, Al-Qaidah, Boko Haram, Terorisme, Kudeta, dll)”.

Baca Juga:  Empat Tahun "Meu Pep Pep" , Adnan Dipromosi Jadi Kasat PJR

Bedah buku karya Pengasuh Ma’had As-Sunnah Makassar yang juga murid Mufti Kerajaan Saudi Arabia, Fadhilatus Syaikh Dr. Shalih Fauzan Hafidzahullah itu berlangsung pada hari Kamis 9 Oktober 2014 pukul 09.00-12.30 WIB.

Kemudian pada hari Sabtu 11 Oktober 2014, da’i dari Jakarta, Ustadz Sofyan Chalid Ruray menjadi pemateri Kajian Ilmiah Islam dengan topik “Kritik Islam Terhadap Materialisme dan Sekulerisme” dan Islam Sebagai Solusi Bagi Setiap Problematika Kemanusiaan”.

Disebutkan juga, Pekan Ilmiah Islam Nasional ini diselenggarakan oleh BEM Fakultas Hukum Unsyiah sebagai langkah kongkrit dari mahasiswa muslim untuk membumikan kembali nilai Islam dalam gerakan perjuangan mahasiswa. Perlahan-lahan Aceh menuju kehidupan yang Islami.

Muslim Aceh pernah konflik dengan pemerintahan Soekarno, karena menginginkan tegaknya Syariah Islam. Ketika pemimpin Aceh Daud Beureuh dengan terang-terang meminta kepada Soekarno, agar Aceh diberi hak khusus menegakkan Syariah Islam.

Begitu pula, saat Soeharto, Muslim Aceh tetap ingin menegakkan Syariah Islam, sampai Soeharto mengirimkan ribuan pasukan militer dari Jakarta. Berlangsung puluhan tahun operasi militer yang di sebut dengan ‘DOM’ (Daerah Operasi Militer). Aceh diberlakukan oleh Jakarta menjadi daerah operasi militer, karena adanya pembrontakan dari GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Sekarang semua berlalu, sesudah di era reformasi, Aceh menjadi wilayah otonomi khusus, dan diberikan hak-hak dasarnya, termasuk dibolehkan menegakkan Syariah Islam. Mengelola ekonomi dan sumber daya alamnya. Aceh memiliki riwayat sejarah, pernah berada dibawah Khilafah Otsmaniyah di Turki.

Baca Juga:  Ketua DPC KAI Pidie Meminta Agar Panwaslih dan KIP Bersikap Netral
Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. (wikimedia.org)

Aceh wilayah yang sangat kaya sumber daya alam. Pasca terjadinya tsunami, Desember 2004, Muslim Aceh lebih dekat lagi dengan Islam. Di mana saat berlangsung tsunami seluruh dunia Islam memperhatikan Muslim Aceh, dan memberikan bantuannya.

Aceh perlahan-lahan rakyat dan Muslim di wilayah itu, terbebas dari kehidupan jahiliyah dan kesesatan yang menghancurkan. Tidak ada berkhalwat (laki-perempuan berduaan yang bukan mahramnya).

Muslimah di Aceh menggunakan pakaian Islami. Menggunakan celana bagi perempuan dilarang. Bahkan berboncengan motor, posisi perempuan duduknya tidak boleh ngangkang.

Sementara itu, di Jakarta kehidupan jahiliyyah, kesesatan, kedurhakaan, dan talbis (campur aduk) antara haq dan bathil semakin menjadi-jadi. Tidak jelas mana yang Muslim dan mana yang kafir, sudah campur aduk.

Laki perempuan campur aduk, antara mereka yang bukan mahram. Sehingga, perzinaan dan perbuatan fahisyah (keji-mesum) sudah menjadi lumrah di Jakarta. Tidak lagi dianggap sebuah kejahatan. Jakarta akan menunggu kehancuran dalam kehidupan rakyatnya?

Apalagi, Jakarta akan dipimpin oleh Ahok, yang terang-terangan membenci terhadap Islam. Sementara itu, Muslim dan para ulama (sebagian) sudah kehilangan ghirahnya terhadap Islam.

 

loading...