BANDA ACEH, HARIANACEH.co.id — Sekelompok orang yang diduga sebagai pelaku sejumlah aksi kriminal di wilayah Aceh muncul ke publik lewat stasiun televisi swasta dan harian lokal. Kelompok yang mengaku mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini meminta keadilan dan kesejateraan sebagai mantan pejuang.

[-“399r2kWPX8toZ2zfjdhu727YKtQK3QZf”]“Kami kecewa terhadap pemerintahan Zikir karena tidak adil dalam memperhatikan nasib rakyat termasuk kami sebagai mantan kombatan GAM sebagaimana yang telah diatur dalam butir-butir MoU Helsinki,” ujar Nurdin bin Ismail Amat Alias Abu Minimi seperti dilansir Serambi, Sabtu, 11/10/2014.

Berlokasi di daerah pedalaman Aceh Timur, kelompok ini juga menyatakan siap melawan Pemerintah Aceh yang saat ini dipimpin oleh Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf. Sebab, 9 tahun usia perdamaian, Abu Minimi Cs merasa belum mendapatkan keadilan sebagai buah dari perdamaian.

“Tolong perhatikan kami, masyarakat kami, sebagaimana dinyatakan dalam MoU Helsinki setiap mantan kombatan GAM disiapkan rumah, lahan, dan pekerjaan, tapi bagi kami belum merasakan hal itu,” kata dia.

Selain bermarkas di kawasan pedalaman Aceh Timur, kelompok pimpinan Nurdin atau Abu Minimi ini juga mengaku memilki markas di seluruh Aceh. Mereka juga mengancam akan melumpuhkan perekonomian Aceh.

Baca Juga:  Sekda: "Mari Gelorakan Kembali Semangat Gotong-royong"

Abu Minimi dan rekan-rekannya juga mengaku terlibat dalam sejumlah aksi kriminal di Aceh. Salah satu perbuatannya adalah melakukan penculikan terhadap warga negara Skotlandia pada Juni 2013 di wilayah Aceh Timur.

Mereka mengaku akan terus bergerilya dan melakukan perlawanan terhadap pemerintah Aceh hingga tuntutan mereka dipenuhi. Kata dia, mereka hanya meminta keadilan untuk suluruh mantan kombatan GAM dipenuhi, dan menjamin kelangsungan hidup janda korban konflik, pendidikan anak yatim, dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat Aceh.

“Coba lihat sekarang, pembangunan Aceh setelah MoU atau bagi hasil 70-30 persen antara Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Pusat sama saja, masih banyak jalan desa yang hancur, rakyat terus makan debu, sedangkan yang kenyang adalah konco-konco pimpinan Aceh,” kata Nurdin bin Ismail alias Abu Minimi.

Cari Sensasi

Seperti yang dikutip dari laman Vivanews, Pemerintah Aceh meminta semua pihak untuk mengedepankan nilai-nilai damai dan ukhuwah. Pemerintah meminta semua pihak termasuk media lebih arif dalam menyikapi persolan munculnya kelompok bersenjata tersebut.

“Aceh sebagai bekas daerah konflik harus kita sadari bahwa gambaran yang mulai membaik hari ini jangan sampai rusak kembali. Kami minta media lebih arif menyikapi hal ini,” ujar Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh, Murthalamuddin.

Baca Juga:  Prajurit TNI Korem 011/LW Laksanakan Minggu Militer

Menurut dia, kemunculan sekelompok orang itu merupakan libido cari sensasi atau eksistensi dengan memanfaatkan momentum merusak perdamaian. Cara-cara tersebut, kata dia, seharusnya harus dihentikan. Diakui atau tidak, perdamaian sudah memberi banyak kenyamanan.

“Termasuk bagi pekerja media. Karenanya kami mohon jangan rugikan imej Aceh hanya karena ingin buat sensasi. Mari lihat perdamaian ini dengan mata hati. Agar kita lebih jernih melihat persoalan,” kata dia.

“Tapi ingat, siapa pun yang menjadi pemimpin di Aceh tidak akan mampu menyelesaikan semua keinginan itu seperti membalik telapak tangan. Butuh proses yang panjang, konon lagi dengan komitmen pemerintah pusat yang terus mengambang,” tutur Murthala.

Ia juga meminta kelompok bersenjata pimpinan Abu Minimi bersama-sama menjaga perdamaian Aceh. Murthala mengajak mereka untuk sama-sama membuka ruang dialog. Selain itu, kata dia, saat ini semua tuntutan Abu Minimi Cs juga sedang diusahakan oleh pemerintah.

“Tanpa dukungan semua pihak ini akan menjadi sia-sia. Sadarlah bahwa kami bukan lawan,” kata Murthalamuddin.

 

loading...