Oleh: Alfiandi [1]

Alfiandi

BANDA ACEH, HARIANACEH.co.id — Itulah sepenggal kalimat keramat yang sangat menggugah hati masyarakat Aceh, bagimana tidak rakyat Aceh dengan rela memilih sosok pemimpin yang dulunya merupakan mantan pimpinan GAM sebab dianggap sebagai sosok yang akan mewakili segala kepentingannya kelak dan dengan kalimat yang terurai indah tersebut lah pasangan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf (ZIKIR) terpilih menjadi pasangan gubernur mutlak rakyat Aceh.

[-“fXVx1pJbBlNiGa2lSXiOK7ThhFQm1uQu”]Aceh adalah negeri yang indah dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah. Selain itu sebutan serambi mekkahnya membuat setiap insan akan mengingat Aceh. Aceh adalah salah satu provinsi yang berada di dalam yurisdiksi Negara Kedaulatan Republik Indonesia (NKRI) yang memiliki peran besar dalam pembangunan negeri ini pada tempo dulu maka tak salah Aceh diberikan hak istimewa dengan kekhususan otonomi daerah dan otonomi khusus yang memungkinkan Aceh untuk bisa selalu maju dan mampu dalam persaingan dunia global.

Namun sangat miris rasanya jika kita ber-efouria berlebihan dengan limpahan Sumber Daya Alam (SDA) di Aceh yang dapat membuat iri setiap orang yang bukan berasal dari Aceh. Tetapi hal itu hanya omong kosong belaka sebab hasil alam pasti akan lenyap jika tidak ada orang yang piawai dalam mengelolanya.

Bayangkan Aceh tidak hanya memliki kekayan alam di bidang pertanian semata, namun jauh dari itu semua kekayaan alam lainnya juga melimpah di bumi Aceh ini. Kekayaan pada sektor kelautan perikanan, kekayaan hutan dan sumber daya hayati lainnya, serta kekayaan mineral yang ada dalam perut bumi Aceh seperti emas juga menghiasi kemakmuaran Aceh dan yang paling membuat rakyat Aceh berbangga hati akan kekayaan yang ada dan pernah mencapai masa kejayaannya pada era 80-90 an sebab pada itu sektor minyak dan gas bumi membangkitkan perusahaan gas besar di wilayah utara Aceh.

Tetapi apa yang terjadi, apakah rakyat Aceh hidup dengan damai karena kekayaan alam? Apakah rakyat Aceh sentosa dalam limpahan hasil alam tersebut?, dan apakah rakyat Aceh yang berada di sekitar hasil alam itu merasakan kenikmatannya? jawabannya dapat kita tebak, rakyat Aceh masih jauh berbanding terbalik dengan sumber daya alamnya. Apa yang menyebabkan ini semua?

Lihatlah bagaimana hasil perkebunan dan pertanian Aceh di dominasi oleh perusahaan-perusahan yang berasal dari luar Aceh, pengelolaan sektor perikananpun masih kita lihat kapal-kapal luar Aceh yang hilir mudik di perairan Aceh yang menangkap ikan dengan sepuasnya dan lihatlah siapa yang mengelola hasil minyak dan gas bumi di Aceh tentu saja mereka adalah pihak asing dan juga orang-orang berasal dari pulau sebelah.

Baca Juga:  Benarkah Bank Syariah Kita Diridhoi Allah SWT (Bag. I)

Dominasi Pertanian

Menurut data statistik daerah provinsi ACEH 2011 sektor pertanian adalah penyumbang PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) terbesar yang menjadi sektor yang mendominasi bagi provinsi Aceh, bagaimana tidak hasil pertanian Aceh sebenarnya sangat kondusif untuk proses pelaksanaan pertanian, namun hal ini belum bisa dikatakan cukup bagi rakyat Aceh sebab jika kita bandingkan dengan daerah selain Aceh. Aceh  jauh ketinggalan dalam pengelolannya oleh sebab itu sektor pertanian Aceh harus direvitalisasi dalam pemberdayaan masyarakatnya. Hal ini dapat kita lihat juga dari data Laporan Pembangunan Manusia  Aceh 2010 yang dirilis oleh United Nation Development Programe (UNDP) bekerjasama dengan Pemerintah Aceh dan Badan Pusat Statistik  ukuran pendapatan PDRB  per kapita di Aceh adalah 17,329 yang mendapat posisi di peringkat 7 (tujuh) sedangkan di Kalimantan Timur mencapai 70,120 yang mendapat peringkat 1 (pertama).

Nasib para petani belumlah bahagia jika kita lihat banyak dari mereka yang mengalami kegagalan dalam melakukan usahanya. Kerugian demi kerugian pun diterima sebab adanya perbedaan di dalamnya antara petani penggrap dan petani pemilik lahan. Sebenarnya yang paling membutuhkan perhatian untuk pengembangan SDM lebih lanjut ialah kelompok petani kecil dan buruh tani. Sedangkan kelompok petani menengah dan petani kelas kakap sudah “tinggal landas” lebih dahuulu, bahkan sebagian diantaranya telah berhasil menerapkan teknologi modern seperti pengelolaan pertanian yang intensif dengan jenis bioteknologi yang memadai.

Upaya perbaikan kualitas SDM pertanian perlu lebih diprioritaskan. Untuk sektor pertanian, langkah peningkatan kualitas secara umum antara lain menyangkut penerapan dan pengembangan konsep produktivitas dan efisiensi yang notabene sangat ditentukan oleh kualitas SDM.

Pertumbuhan Ekonomi

Teori pertumbuhan yang dikemukan oleh Abramovits dan Solow (1957) melihat pertumbuhan ekonomi di masyarakat dari sudut pandang yang berbeda dimana teori ini menonjolkan dari segi penawaran ekonomi bergantung kepada perkembangan faktor–faktor produksi. Begitu pula di Aceh, dari segi penawaran pertumbuhan ekonomi awalnya bertumpu pada peningkatan modal dan tenaga kerja sebagai sumber-sumber pertumbuhan. Setelah ditemukan bahwa dalam neraca pertumbuhan ada perbedaan tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat penambahan stok modal dan angkatan kerja, disadari bahwa ada unsur lain yang mempengaruhi pertumbuhan. Perbedaan ini, yang merupakan faktor residual dan dinamakan total factor productivity (TFP), adalah hasil  dari penerapan teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Atas dasar itu, berkembanglah konsep mengenai modal manusia/human capital sehingga modal manusia yang berkompetenlah yang harus diciptakan di Aceh kedepan.

Baca Juga:  Bendera Versus Kesejahteraan Rakyat di Era Zikir

Cita-cita yang terkandung di dalam misi dari pasangan gubernur dan wakil gubernur Aceh yang disampaikan ketika mereka menyuarakan dalam setiap kampanyenya adalah suatu tindakan yang tepat jika untuk sekedar menarik perhatian para pendukung namun jika cita-cita tersebut hanya sekedar angan belaka tanpa ada tindakan nyata maka sama saja bak menelan simalakama.

Tantangan MEA

Menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada 2015 mendatang. Sangat perlu adanya pembangunan sumber daya manusia yang efektif. Hal ini dikarenakan pada masa ini aspek keterampilan individu sangat ditentukan dengan nilai kualitas dan integritas pribadi yang baik. Setiap orang yang berada dalam MEA dapat saling masuk ke suatu negara dan bekerja di dalamnya.

Oleh sebab itu menurut penulis, kepemimpinan Aceh kedepannya harus menerapkan pembangunan dan reformasi SDM yang baik dan bersifat visioner. Langkah pembangunan tersebut dapat dlakukan dengan empat cara.

Pertama, pembangunan pendidikan yang baik. Tidak dapat kita pungkiri pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi maju dan mundurnya suatu peradaban, begitu pula di Aceh. Pendidikan yang merata bagi segenap rakyat Aceh otomatis akan menciptakan insan-insan yang memiliki wawasan dalam membangun Aceh kedepan. Pendidikan layaknya lampu yang senantiasa menerangi orang yag ada disekitarnya  dalam kegelapan.

Pembangunan pendidikan yang harus dilakukan pada priode kepemimpinan ZIKIR kedepannya adalah harus melalui langkah yang tepat, seluruh rakyat Aceh harus mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan yang tidak membebani rakyat dalam hal biaya dan pendidikan yang memiliki kualitas yang memadai baik dari sarana dan prasarana.

Kedua, pembangunan teknologi, jika pendidikan telah diberikan bagi rakyat maka hal yang harus dilakukan pada pemerintahan ZIKIR ke depan adalah pembangunan teknologi yang tepat guna. Memberdayakan masyarakat untuk memiliki andil yang besar dalam pemanfaatan teknlogi adalah kunci berhasilnya masyarakat dalam proses pendidikan tersebut. Pembangunan teknologi dengan pemberdayaan IPTEK yang kompleks akan menciptakan masyarakat yang berkualitas.

Dan yang Ketiga adalah pembangunan kesehatan masyarakat. Pembangunan kesehatan masyarakat adalah wujud dari aktifnya pemerintahan untuk peduli kepada pemenuhan aspek sehatnya masyarakat baik pangan dan gizi maupun pelayanan kesehatannya nantinya.

Sudah saatnya rakyat Aceh untuk maju, kita tidak perlu lama lagi menunggu perubahan agar rakyat sejahtera sebab perubahan tidak akan muncul dari penantian yang ditunggu tetapi perubahan hadir dari semangat yang ada dalam diri rakyat Aceh itu sendiri.[]


[1] Penulis adalah Mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Malikussaleh dan Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara (SDAU) Angkatan IV. Saat ini aktif di KSM Creative Minority

loading...