HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Membangun Sensitivitas Gender di Kampus

12

Oleh: Alfiandi [1]

Alfiandi

HARIANACEH.co.id — Tulisan ini muncul didasari dari pengalaman penulis dalam memberikan materi di salah satu kegiatan dialog publik terkait menggugah kesadaran gender di kalangan organisasi kampus. Dialog yang melibatkan banyak mahasiswa dan mahasiswi di beberapa kampus yang ada di utara Aceh memberikan gambaran bahwa ada hal yang perlu untuk dikaji terkait permasalahan gender.

Tentu kita kerap mendengar istilah Gender dalam keseharian kita, namun banyak diantara kita yang salah menafsirkan makna gender dan kadangkala stigma negatif terhadap gender kerap disuarakan yang pada akhirnya makna gender menjadi bias. Gender bukanlah orientasi seks seseorang melainkan penempatan posisi seseorang baik laki-laki maupun perempuan berdasarkan pada rekonstruksi sosial budaya dalam melihat aspek peran, tanggung jawab, dan sifat.

[-“89ILM09zKicYUKXaOxslaRhx4nE5mkki”] Penempatan makna gender ini pun dapat kita jumpai dalam dunia mahasiswa di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia. Namun sayang sensitivitas terhadap isu gender justru tidak terlalu populer di kalangan kaum perempuan sendiri khususnya ketika dihadapkan pada suatu wahana organisasi kampus.

Penulis mengklasifikasikan beberapa alasan mengapa kaum perempuan di organisasi kampus enggan untuk mengambil peran dalam organisasi. Pertama, mereka yang tidak mau terlibat dalam organisasi karena rutinitas yang padat seperti kerja dan membantu orang tua. Kedua, ada yang merasa organisasi dapat mengurangi nilai kuliah, pada akhirnya tujuan dari kuliah dalam pola pikir yang dibangunnya hanya untuk mendapatkan nilai tinggi semata. Dan ketiga mahasiswi yang ingin untuk berkecimpung dalam dunia organisasi namun tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan diri sehingga secara tidak sadar rasa ekspresinya terhambat dikarenakan faktor pemahaman gender yang salah dari beberapa kelompok mahasiswa.

Keadilan Gender

Dunia kampus adalah wadah yang tepat untuk melahirkan para cendekiawan dan intelektual muda yang senantiasa dapat berkontribusi bagi lingkungan ia berada. Sebagai wadah, tentu saja banyak cara yang dapat diimplementasikan agar setelah mahasiswi tersebut selesai menempuh studinya ia dapat bangkit menjadi insan yang sukses berpartisipasi pada ranah yang lebih luas.

Analisis yang dilakukan United Nations Development Programme (UNDP, 2010) terkait partisipasi perempuan dalam politik dan pemerintahan, Indonesia berada di nomor 80 dari 156 negara yang ada di dalam Indeks Pembangunan Gender atau Gender Development Index (GDI) pada tahun 2007. Pada tahun 2009, angka ini merosot ke urutan 90, artinya perempuan di Indonesia masih belum menikmati hak dan standar yang sama dengan para laki-laki.

Dari data diatas kita dapat menyimpulkan tingkat partisipasi aktif kaum perempuan sangat sedikit dari pada laki-laki. Hal ini tentu meresahkan kita sebab telah terjadi diskriminasi dalam pemenuhan hak asasi bagi seseorang yang berada di lingkungan sosialnya, padahal kita tahu diskriminasi terhadap perempuan telah dihapuskan sejak hadirnya Convention on The Elimination of All Form of Discrimination Againts Women (CEDAW) beberapa puluh tahun silam.

Kita harus senantiasa mengedepankan prinsip kesetaraan gender yaitu visibilitas yang mempertimbangkan kondisi, pengalaman serta kepentingan antara laki-laki dan perempuan secara bersama. Selain itu pemberdayaan dan perlindungan terhadap pemaknaan gender harus ditingkatkan, serta affirmativeaction harus dilakukan yang pada akhirnya keadilan substantif akan hadir.

Jika prinsip tersebut tidak kita kedepankan maka tak dapat dipungkiri ketidak adilan gender akan hadir di tengah-tengah kita, sehingga berakibat pada maraknya diskrimanasi, marginalisasi, subordinasi, citra buruk (streotip) bahkan berujung pada kekerasan bagi kaum perempuan itu sendiri.

Membangun Sensitivitas Gender

Melihat kondisi persaingan global dimana antara laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan hak dan kewajiban sebagai makhluk yang diciptakan tuhan maka mau tidak mau kita harus membangun sensitivitas pemahaman gender di kalangan organisasi kampus. Agar terciptanya hubungan baik terkait penegakan hak asasi bagi kaum perempuan di lingkungan kampus, penulis menilai ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, membuka partisipasi aktif kepada perempuan, sebab andil terbesar dalam kemajuan organisasi kampus tak terlepas dari kaum perempuan. Kedua, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia (SDM) bagi mahasiswi perlu dilakukan hal ini dikarenakan mereka yang memiliki pemahahman yang lebih tentu dapat menunjang keberhasilan suatu organisasi. Ketiga, perlu adanya kesadaran dari diri mahasiswi itu sendiri untuk mau lebih aktif menyuarakan hak dan kepentingannya di organisasi, sebab jika tidak maka budaya patriarkhi di lingkungan kita akan selalu menghambat perkembangan kreatifitas bagi perempuan.

Sudah saatnya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi penegakan hak asasi manusia dapat menerima perbedaan dalam setiap lingkungan kita berada. Perbedaan jenis kelamin bukan menjadi alasan untuk terus aktif membangun negeri, sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai perbedaan dalam keberagaman.[]


[1]  Penulis adalah mahasiswa Hukum Tata Negara Universitas Malikussaleh dan siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara (SDAU) Angkatan IV. Saat ini aktif di KSM Creative Minority.

loading...