OPINI

Mewujudkan Pendidikan Berbasis Akhlak

Oleh: Muhammad Roza [1]

Muhammad Roza

HARIANACEH.co.id — Berbicara masalah pendidikan tidak akan lepas dari pemerintah dan juga peran dari orang tua yang menginginkan pertumbuhan si buah hati yang lebih baik demi tercapainya cita-cita kelak ketika dia dewasa. Pendidikan merupakan salah satu upaya dalam pemeliharaan terhadap diri dan keluarga. Dalam pelaksanaanya banyak yang harus orang tua dan pendidik perhatikan, seperti bentuk, sistem dari pendidikan tersebut.

[-“hVm5qVgsmp1VFPz3LxpNjPAg98boYXSt”]Pemerintah menempatkan pemerintah sebagai program yang sangat strategis dalam pembangunan nasional. Hal ini tercantum dalam Undang-Undang dasar 1945 (Pasal 31 ayat 1-5) yang mengamanatkan bahwa pemerintah dalam menyelenggarakan satu sistem pendididikan nasional untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak yang mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sistem pendidikan haruslah dengan cara pemerataan kepada semua masyarakat serta peningkatan mutu, relevansi, dan efisiensi manajemen pendidikan dalam rangka menghadapi tantangan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Dalam hal ini pemerintah telah menetapkan pembangunan pendidikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014, disebutkan bahwa pendidikan merupakan instrumen penting dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Pendidikan diharapkan dapat mendukung upaya mengentaskan kemiskinan, meningkatkan keadilan dan kesetaraan gender, serta memperkuat nilai-nilai budaya.

Strategi yang menjanjikan diberikan oleh pemerintah kepada masyarakatnya, krisis yang paling menonjol dari dunia pendidikan kita adalah krisis pendidikan akhlak. Dapat disaksikan saat ini betapa dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat menahan kemerosoton akhlak yang terjadi. Kemajuan dibidang teknologi yang dapat dirasakan oleh semua kalangan umur menambah kelam dunia pendidikan. Inilah era dimana pemerintah harus berputar otak bukan hanya memeberikan pendidikan yang baik tetapi memberikan bagaimana untuk memperbaiki akhlak.

Contoh kecil yang dapat kita liat dimana Penentu kelulusan pun masih lebih banyak pada prestasi akademik dan kurang memperhitungkan akhlak dan budi pekerti siswa, dan lebih ditonjolkan adalah dari sisi kognitif. Maka tidak heran jiga siswa berlomba-lomba dalam mengejar nilai akademiknya dari pada nilai akhlak dan moralnya.

Melupakan Konsep Pendidikan

Menurut penulis keselahan terbesar dalam sistem pendidikan di Indonesia terdapat pada konsep pendidikan yang melupakan nilai keimanan sebagai inti dari kurikulum nasional. Proses pendidikan akhlak yang ada dalam lingkungan pendidikan selama ini hanya bersifat naratif dan verbalis, bagian kognitif mengalahkan proses pengamalannya.

Metodologi yang ada pun ternyata tidak memiliki efek mendorong dan mencegah peserta didik untuk merespon pendidikan akhlak serta minimnya pengetahuan siswa tentang agama dan ditambah kurangnya pengawasan oleh orang tua untuk menanamkan nilai-nilai agama, maka tidak heran timbul berbagai kasus kejahatan serta penyimpangan di kalangan siswa.

Orangtua bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu keimanan kepada Allah Swt. Fitrah ini merupakan kerangka dasar operasional dari proses penciptaan manusia terdapat potensi untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan penciptaannya.

Anak merupakan amanah dari Allah Swt yang diberikan kepada setiap orangtua, anak juga ujian bagi setiap orangtua sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah al-Anfal ayat 28 yang artinya :

”Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allahlah pahala yang besar.”

Pergeseran Nilai

Pergeseran nilai-nilai budaya serta agama dalam diri orang tua sangat berdampak dari segi penanaman moral serta etika. Banyaknya orangtua yang bersikap pasif terhadap pendidikan agama dan terkesan sepele, mereka lebih memperhatikan pendidikan yang formal daripada pendidikan agama apalagi kehidupan di perkotaan saat ini. Pergaulan bebas di kalangan remaja yang semakin parah dan kurangnya pengawasan dari orang tua sibuk dengan urusan pekerjaannya sendiri, disitulah anak mulai menemukan sesuatu yang menurut mereka benar tanpa dilandasi keimanan serta ketakwaan pada diri pribadi masing-masing.

Penyimpangan akhlak yang terjadi di kalangan pelajar saat ini tidak lain dari dunia luar yang mereka tiru dan menjadi contoh dalam pergaulannya sehari-hari, apalagi mengingat masa remaja merupakan awal dari pembentukan jati diri seorang manusia, mereka akan mencoba apa yang baru mereka ketahui termasuk remaja Aceh pada saat ini tanpa mempedulikan aspek baik buruknya, media massa dan juga percepatan arus globalisasi yang mendorong mereka untuk masuk ke dalam pergaulan yang tak beradab.

Istilah Jilboobs yang masih hangat di telinga kita dalam beberapa minggu belakangan merupakan tren berpakain berjilbab akan tetapi menampakkan lekuk tubuh dengan berpakain ketat.

Melihat kilas balik pada abad ke 15, Aceh mendapatkan gelar yang sangat terhormat dari umat islam nusantara yaitu “Serambi Makkah”, sebuah gelar dengan penuh nuansa Keagamaan dimana Aceh merupakan daerah pertama masuk Islam ke nusantara serta awal dari penyebaran agama Islam ke nusantara yang dibawa oleh ulama-ulama dari Aceh. Masa kejayaan Aceh pada tempo dulu mulai surut belum lagi perang yang berkecambuk di Aceh ditambah gempa berserta tsunami menghantam Aceh beberapa tahun silam.

Penderitaan bangsa Aceh belumlah usai dengan melihat generasi yang penuh dengan sensasi bobroknya akhlak muda mudi Aceh, menurut penulis selain media massa masuknya bangsa asing pasca tsunami melanda Aceh dengan dalih bantuan kemanusiaan merupakan pengaruh yang cukup besar dalam jati diri bangsa Aceh walaupun kita tidak menyadari misi-misi yang dibawa oleh bangsa asing untuk menghancurkan agama serta akhlak anak-anak Aceh.

Menurut penulis poin pertama yang harus diperhatikan oleh pemerintah berupa mutu pendidikan yang berlandaskan keimanan baik itu penambahan mata pelajaran yang berkenaan dengan agama, juga dengan memperbayak waktu untuk mata pelajaran tersebut. Apabila terdapat waktu luang bagi siswa sebainya dipergunakan untuk memberikan bimbingan rohani oleh tiap-tiap pengajar.

Peran Orang Tua

Pola pengasuhan oleh orangtua juga tidak luput untuk mengawasi, membimbing dan mengarahkan ke arah yang baik dan benar, dengan hanya mengandalkan pendidikan formal saja tidaklah cukup untuk membentuk karekter baik serta berakhlak mulia, menanamkan nilai-nilai agama dari sejak dini merupakan cara yang ampuh untuk meredam perilaku buruk ketika dewasa kelak.

Orangtua memiliki peran penting dalam mengoptimalisasi tumbuh kembang seorang anak, diawali dengan memberikan rangsangan atau stimulasi dalam semua aspek perkembangan baik motorik kasar maupun halus, bahasa, dan personal sosial. Datangnya pengaruh modernisasi serta informasi yang sangat pesat dikalangan remaja seharusnya menjadi acuan untuk melakukan hal-hal yang positif, dan juga tantangan baik pemerintah dan orangtua untuk memberikan pendidikan berdasarkan arus global.[]


[1] Penulis adalah mahasiswa Hukum Pidana Universitas Malikussaleh, saat ini aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Trisila Kota Lhokseumawe.

TERPOPULER

Keatas