ISTANBUL, HARIANACEH.co.id — Peran pasukan Kurdi untuk berada di garda depan melawan milisi negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mendapatkan banyak respon positif. Rabu lalu, Perdana Menteri Turki, Ahmet DavutoÄŸlu, membuka pintu perbatasan seluas-luasnya untuk pasukan Suriah Demokrat Bersatu (PYD) .

[-“j29N5KYc4d9hU2d4KuYONk9vZ7qMES6f”]”Tentara Kurdi dari Kobani datang ke Turki dan tidak ingin kembali ke Kobani. Sebaliknya 300 pejuang PYD sedang berperang di Turki, mereka dapat kembali ke tanah air mereka, kapan saja” ucap DavutoÄŸlu seperti dilansir Daily Sabah, Rabu, 15 Oktober 2014.

Dalam konferensi media pada pertemuan di Gedung Kementrian, DavutoÄŸlu mengumumkan bahwa ada peraturan baru terkait upaya menentang aksi vandalisme. DavutoÄŸlu mengatakan,”kebebasan untuk protes hanya dapat terlaksana di negara dengan iklim sosial yang damai. Pada kenyataannya kekerasan yang terjadi ketika protes berlangsung telah menewaskan 33 warga sipil”.

Agenda peraturan baru itu juga mengatur tentang peran polisi dalam menangani kasus kekerasan. Seperti di Jerman, polisi memiliki kuasa untuk menahan tersangka dan mengamankan mereka ke area yang aman. Hukuman yang didapatkan oleh para demonstran yang merusak sarana publik serta demonstran yang tidak terbuka atas identitasnya dengan menggunakan masker dan alat sejenis, mendapatkan hukuman yang lebih keras.

Berbeda dengan peserta demonstrasi, wartawan yang melakukan liputan tidak akan dibatasi selama tidak mengancam keselamatan dan keamanan warga Turki.

Baca Juga:  Uang 'untuk ISIS' Ditemukan Ibu ini di Saku Celana Anaknya

 

loading...