JAKARTA, HARIANACEH.co.id¬†—¬†Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memperkirakan inflasi Indonesia pada 2015 8-9 persen. “Hal itu didasarkan pengetatan moneter yang kemungkinan besar akan dilakukan oleh Federal Reserve tahun depan dan kemungkinan kenaikan harga BBM akhir tahun ini, kenaikan harga elpiji dan tarif dasar listrik,” kata Direktur Eksekutif Core Indonesia Hendri Saparini dalam acara Economic Outlook Indonesia 2015 and Beyond: Reinventing Economic Priorities di Jakarta, Kamis, 6 November 2014.
Dengan tingkat inflasi setinggi itu, Hendri memperkirakan Bank Indonesia akan menyesuaikan suku bunga acuan (BI Rate) hingga mencapai angka tertinggi di posisi 9 persen. Saat ini, BI Rate masih berada di level 7,5 persen.

Baca Juga:  Nilai Tukar Rupiah Dikisaran Rp13.185-Rp13.225/USD

[-“nCi0lCSIeB7Xbjd39jC4uzOBvhtshO4M”]Hendri menyatakan saat ini The Fed memang telah mulai mengurangi paket stimulus, tapi pengetatan moneter belum benar-benar dilakukan. “Jadi, belum dapat diketahui kapan suku bunga AS akan dinaikkan,” katanya.

Atas kondisi ini, pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla diminta segera menyiapkan respons kebijakan untuk mengantisipasi dengan lebih baik. “Jika Jokowi-JK serta Kabinet Kerja-nya dapat memanfaatkan membaiknya lingkungan eksternal untuk memaksimalkan ekonomi domestik, maka ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh 5,3-5,6 persen,” kata Hendri.

Ihwal pertumbuhan ekonomi, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Juda Agung menyatakan ada tiga hal yang harus sangat diperhatikan oleh pemerintah Jokowi-Kalla. Yakni, mengurangi subsidi BBM, mengurangi ketergantungan komoditas mentah pada struktur ekspor, dan meningkatkan daya saing. Kalau ketiga hal itu bisa ditangani dalam waktu dekat, Juda optimistis pertumbuhan ekonomi 7 persen dapat dicapai dalam jangka menengah. “Kalau tidak, maka pertumbuhan ekonomi kemungkinan di kisaran 6-6,5 persen,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemerintah Akan Segera Lelang Obligasi SUN Rp8 Triliun 10 Juni

 

loading...