HARIANACEH.co.id — Hingga kini, penyebab jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 masih belum diketahui. Sejumlah spekulasi yang muncul mengungkapkan pesawat itu jatuh karena cuaca buruk. Ada juga yang mengatakan pesawat berhasil mendarat di laut namun terkena ombak besar.

Pengamat penerbangan yang juga mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Chappy Hakim mengatakan, belum bisa diketahui penyebab jatuhnya AirAsia QZ8501 hingga kotak hitam ditemukan. Chappy mengungkapkan, keputusan manajemen AirAsia yang memajukan jadwal penerbangan 2 jam sebagai sesuatu yang tidak biasa di industri penerbangan. Berikut perbincangan dengan Chappy Hakim yang dilakukan akhir pekan lalu yang dilansir laman suara.

Dari sejumlah data yang sudah terungkap ke publik, apakah sudah bisa diketetahui penyebab jatuhnya AirAsia QZ8501?

Saya tidak bisa menduga dan juga berspekulasi tentang penyebab jatuhnya pesawat AirAsia itu karena data-data yang beredar ke publik itu kan belum tentu benar. Kalau mau berspekulasi minimal harus ada data resmi yang bisa dijadikan referensi dan saya tidak punya data tersebut.

Informasi terakhir menyebut AirAsia QZ8501 tidak mengambil laporan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG sebelum lepas landas, apakah hal seperti ini sering terjadi?

Saya tidak tahu apakah itu sering terjadi atau tidak terjadi. Yang pasti, prosedur penerbangan itu dua jam sebelum terbang harus mengambil laporan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG. Pilot itu biasanya mengisi flightplan. Dalam proses pengisianflightplan itu dilakukan pilot briefing yang biasanya diperlihatkan foto satelit dan juga ramalan cuaca. Setelah dibriefing biasanya flightplan itu akan ditandatangani dan satu copy diberikan kepada pilot untuk dibawa. Prosedurnya seperti itu.

Jadi pengisian flightplan itu prosedur tetap yang harus dilakukan oleh semua pilot yang akan menerbangkan pesawat?

Iya, itu wajib  dilakuan karena itu standard procedure.

Apabila ada pilot yang tidak melakukan SOP tersebut apakah pesawat tetap diizinkan untuk terbang?

Soal izin terbang itu beda masalah lagi karena terkait penegakan aturan, pengawasan dan itu kompleks. Pilot itu kan diawasi oleh instruktur atau pengawas senior atau pejabat di maskapai penerbangan tempat pilot itu bekerja. Maskapai diawasi oleh Kementerian Perhubungan, itu ada jenjang-jenjang dan sektor pengawasan. Jadi itu yang harus dipertanyakan kalau benar pilot AirAsia QZ8501 tidak mengambil laporan cuaca dari BMKG.

Sejumlah media asing mempertanyakan keputusan AirAsia untuk memajukan 2 jam penerbangan QZ8501 karena ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak lazim. Apakah anda setuju dimajukannya penerbangan 2 jam sebagai hal yang tidak biasa di industri penerbangan?

Baca Juga:  Novel Baswedan Tolak Tawaran Masuk BUMN

Yang saya tahu, penerbangan yang sudah terjadwal itu tidak bisa dimajukan kecuali ada alasan yang bisa diterima. Makanya dibuat jadwal penerbangan yang harus ditepati dan jadwal tersebut tidak bisa dimajukan seenaknya saja. Harus ada alasan yang bisa diterima apabila maskapai memajukan jadwal penerbangan.

Alasan seperti apa yang bisa diajukan maskapai penerbangan untuk memajukan jadwal penerbangan?

Kalau cuaca jelek, jadwal penerbangan bisa dimajukan. Kalau pesawat rusak juga bisa yang penting alasannya harus masuk akal. Prinsipnya jadwal penerbangan yang sudah dibuat haruson time.

Informasi yang kami terima, AirAsia sudah mengumumkan pengunduran jadwal QZ8501 sejak Oktober lalu. Apakah ini bisa dilakukan?

Saya tidak tahu karena saat ini banyak yang sudah berubah. Ada penerbangan low cost yang saya tahu mereka memperhitungkan waktu dan juga jumlah penumpang sebelum terbang. Tetapi yang pasti adalah penerbangan yang sudah terjadwal itu harus terbang sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat.

Apabila cuaca buruk, apakah pilot bisa membatalkan penerbangan?

Kalau menurut pertimbangan pilot pesawat tidak bisa terbang karena cuaca buruk maka pilot harus menolak untuk terbang. Itu namanya pilot discretion, pada keadaan tertentu di mana ada situasi yang membahayakan maka pilot harus utamakan keselamatan penerbangan. Jadi keputusan untuk menerbangkan atau tidak menerbangkan pesawat ada di tangan pilot.

Apakah pernah terjadi maskapai penerbangan memaksa pilot untuk menerbangkan pesawat meski cuaca buruk?

Saya tidak tahu apakah itu pernah terjadi tetapi yang saya dengar Adam Air pernah melakukan itu, tapi itu hanya yang saya dengar saja.

Ketika sudah di udara dan pilot melihat cuaca semakin buruk, apa prosedur yang harus dilakukan oleh pilot?

Itu semua tergantung pada flightplan yang sudah diberikan kepada pilot. Di flightplan itu disebutkan kalau cuaca buruk dan tidak bisa mendarat di tempat tujuan maka ada tempat mendarat alternatif yang sudah ditetapkan. Tetapi yang pasti tidak ada emergency landingkarena itu tidak termasuk dalam flightplan. Namanya emergency maka tidak ada di dalam perencanaan. Yang ada adalah rencana apabila menghadapi situasi yang emergency.

Saat menghadapi situasi emergency apakah pilot harus langsung menekan tomboldistress signal?

Kalau pilot menghadapi situasi yang tidak biasa atau bahaya maka hanya ada tiga yang bisa dikerjakan. Dia harus menerbangkan pesawat dan menavigasi ke mana pesawat harus diarahkan serta mengkomunikasikan peristiwa yang terjadi di pesawat. Jadi prioritas utama pilot adalah menyelamatkan penumpang terlebih dahulu apabila menghadapi bahaya.

Baca Juga:  Langkah Konkret untuk Palestina Harus Dihasilkan KTT OKI

ATC memerlukan waktu 2 menit untuk menjawab permintaan pilot AirAsia yang ingin naik ke ketinggian 38 ribu kaki. Apakah waktu 2 menit tersebut terlalu lama atau sesuai dengan standar?

Respon itu tergantung dari air traffic controller, ketika pilot meminta naik ke ketinggian 38 ribu kaki maka air traffic controller tidak bisa langsung menjawab permintaan itu. Dia harus lihat di radar apakah ada pesawat lain di titik ketinggian itu. Kalau tidak ada maka pilot diizinkan untuk menaikkan ketinggian dan itu perlu waktu. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menjawab permintaan tergantung dari kualifikasi controller dan juga peralatan yang dimiliki. Selain itu juga jumlah frekwensi penerbangan di waktu yang sama.

Pelajaran apa yang bisa kita tarik dari tragedi yang menimpa AirAsia QZ 8501?

Setiap terjadi kecelakaan maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengkaji dengan tujuan untuk introspeksi. Karena kecelakaan itu terjadi di wilayah udara kita dan di daerah tempat kita memberikan pelayanan udara. Jadi kita bertanggung jawab setiap ada kecelakaan di wilayah udara kita. Apa benar kecelakaan terjadi karena kesalahan air traffic controller atau kesalahan meteorologi atau pilot, itu harus ditemukan data-data yang lebih lengkap. Data yang paling lengkap ada di kotak hitam tetapi sebelum kotak hitam ditemukan maka tiap orang harus mencoba semaksimal mungkin untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tujuannya kalau kita melakukan introspeksi maka itu suatu langkah positif agar bisa mencegah terjadinya kecelakaan lagi.

Ada banyak kecelakaan pesawat yang terjadi di sepanjang 2014, apakah pesawat udara masih menjadi moda transportasi teraman di dunia?

Kecelakaan pesawat di dunia itu menurun karena perhatian dunia terhadap faktor keselamatan penerbangan berhasil meningkatkan banyak hal. Teknologi lebih maju, koordinasi lebih tinggi dan pesawat juga lebih modern. Kalau terjadi kecelakaan, itu tidak bisa dilakukan apa-apa. Tidak ada alasan untuk takut naik pesawat udara karena probabilitas terjadinya kecelakaan pesawat itu sangat kecil. Rasio kecelakaan pesawat itu 1:1.000.000 per keberangkatan.

loading...