HARIANACEH.co.id — Di tengah persaingan sengit para vendor gadget untuk mendapatkan pelanggan, kita kerap kali dijejali istilah teknis yang tak mudah dimengerti. Pernahkah Anda pergi ke toko ponsel dan si penjaganya mengatakan, “Ini sudah quad-core, octa-core, RAM-nya 2GB?” Apakah Anda mengerti atau pura-pura mengerti saja maksud perkataan itu? Atau, Anda pikir makin banyak “core” berarti makin bagus? Yuk, simak artikel ini.

Dalam dunia komputer, seluruh data diproses oleh satu komponsen bernama prosesor. Karena itu, ia kerap dibandingkan dengan otak pada manusia. Data yang diproses memiliki bentuk yang beraneka ragam, mulai dari instruksi pengguna maupun software yang sedang berjalan, hingga data dalam bentuk berkas yang nantinya diproses menjadi sebuah keluaran (output) yang diinginkan.

Semua perangkat komputer, termasuk laptop, tablet atau ponsel yang sedang Anda gunakan untuk membaca artikel ini punya prosesor. Khusus untuk ponsel, biasanya prosesor ditempatkan bersama komponen lain dalam satu tempat, sehingga biasa disebut System on Chip (SoC). Biasanya, nama prosesor tak terpisahkan dengan kecepatannya ketika kita membeli komputer. Sering, kan, Anda dengar prosesor 1,2GHz atau 2,5GHz dan seterusnya.

Salah satu desain System on Chip (SoC) yang tertanam di ponsel pintar

Sebagai unit utama yang berfungsi sebagai pusat pemrosesan data, atau dalam bahasa awam adalah “otak” dari sebuah perangkat, prosesor sering dijadikan acuan untuk mengukur kemampuan atau performa dari sebuah perangkat, termasuk perangkat mobile.

Para produsen pun saling berliomba-lomba untuk menghadirkan prosesor berkecepatan tinggi dengan lebih banyak inti, karena semakin banyak inti prosesor yang digunakan dan semakin kencang kecepatannya, maka performa sebuah perangkat akan lebih baik. Benarkah demikian? Benarkah perangkat mobilememerlukan inti prosesor lebih banyak di dalamnya?

Asal mula multi-core processing

Istilah inti atau core dalam prosesor berawal ketika sistem multi-core processing ditemukan para ahli komputer. Faktanya, sistem multi-core processing telah ada lebih dari 10 tahun lamanya. Semuanya berawal ketika para pembuat prosesor untuk server berhasil menerapkan arsitektur multi-core processor untuk meningkatkan performa pada sebuah prosesor server.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, prosesor yang menggunakan sistem multi-core processing memiliki kemampuan pemrosesan data yang lebih cepat dan daya yang lebih rendah. Mengapa demikian? karena tiap tugas yang dibebankan kepada prosesor dapat dikerjakan secara paralel oleh setiap core-nya, sehingga pemprosesan data dapat berjalan lebih cepat. Bayangkan ketika Anda punya banyak tugas, lalu punya teman untuk berbagi beban.

Sejalan dengan berkembangnya teknologi, jumlah inti pada prosesor pun semakin bertambah dari yang sebelumnya hanya dua inti (dual-core) dan kini menjadi delapan inti (octa-core).

Tak hanya di komputer server ataupun PC, sistem multi-core processing juga telah hadir di perangkat mobile. Kelebihan sistem tersebut memang sangat sejalan dengan apa yang dibutuhkan oleh perangkat mobile, yaitu kecepatan proses yang lebih tinggi dan konsumsi daya yang rendah.

Baca Juga:  Wow! Anda dapat Memperbarui Status Secara Otomatis dengan Aplikasi Ini

Dual-core, quad-core, atau octa-core?

Kebanyakan konsumen biasanya tak terlalu mengenal berbagai istilah dalam dunia komputer. Mereka hanya menginginkan sebuah perangkat yang nyaman digunakan dan memiliki performa sekencang-kencangnya. Untuk itulah, para produsen perangkat mobile berlomba-lomba menonjolkan prosesor dengan inti yang semakin banyak dan kecepatan proses yang semakin kencang.

Namun benarkah semakin banyak inti pada prosesor, semakin cepat pula kecepatan proses datanya, maka performanya semakin tinggi?

Secara teori, ya. Semakin banyak inti prosesor yang digunakan, maka akan semakin banyak unit yang dapat digunakan untuk melakukan pemrosesan data secara paralel. Semakin tinggi kecepatan proses data, berarti semakin cepat sebuah data diproses yang berujung pada peningkatan performa perangkatmobile.

Jika dianalogikan secara sederhana, semakin banyak orang bekerja, tentu sebuah pekerjaan akan cepat selesai, dan semakin cepat pekerja tersebut bekerja, maka pekerjaan pun akan semakin cepat selesai pula. Pekerja dalam hal multi-core processing tersebut adalah inti prosesor.

prosesor dual-core dengan quad-core
Perbandingan performa prosesor dual-core dengan quad-core

Penting diketahui, kian banyak inti prosesor juga memiliki efek samping yang tak terhindarkan, yaitu konsumsi daya kian boros. Sejatinya, Ppenggunaan sistem multi-core processing memang mengurangi penggunaan daya, namun hal tersebut jika dibandingkan dengan penggunaan prosesor ganda yang tak memiliki sistem multi-core processing.

Misalnya, perangkat yang menggunakan sebuah prosesor octa-core memiliki konsumsi daya yang jauh lebih rendah ketimbang menggunakan delapan buah prosesor terpisah tanpa menggunakan sistem multicore processing.

Kian banyak inti prosesor berarti kian besar daya yang digunakan. Faktor inilah yang kini menjadi tantangan utama para vendor karena perangkat mobile tentunya memiliki kapasitas baterai yang terbatas. Untuk itulah, beberapa produsen menggunakan sebuah konsep baru yang dinamakan sistem big.LITTLE.

Sistem tersebut bekerja dengan mengkombinasikan dua jenis inti prosesor yang memiliki peranan yang berbeda, yaitu satu jenis inti prosesor dengan performa tinggi namun boros daya, dan satu lagi inti prosesor dengan performa rendah namun irit daya.

Ibaratnya, Anda meminta bantuan seorang teman berbadan kekar yang makannya banyak untuk mengangkat beban 100Kg, namun jika hanya mengangkat beban 10Kg Anda meminta bantuan teman berbadan kurus dengan porsi makan sedikit.

Perbandingan performa prosesor dual-core sampai quad-core

Dengan mengkombinasikan kedua jenis prosesor tersebut, sebuah perangkatmobile mampu bekerja secara lebih fleksibel dan hemat daya. Cara kerja dari sistem big.LITTLE menggunakan konsep adaptasi; ketika perangkat dalam kondisi iddle atau diam, maka prosesor yang digunakan untuk bekerja hanyalah prosesor dengan performa rendah namun irit daya, sedangkan ketika perangkat dalam kondisi sibuk, maka prosesor yang digunakan adalah prosesor dengan performa tinggi namun lebih boros daya.

Konsep big.LITTLE tersebut telah banyak dipakai di berbagai SoC, seperti Exynos7 Octa dari Samsung dan MT6595 dari MediaTek.

Baca Juga:  Ponsel LG V10 Laris Manis Karena Digemari Pekerja

Octa-core lebih baik dari dual-core?

Seperti yang kami tulis sebelumnya, bahwa secara teori semakin banyak inti prosesor yang digunakan, maka semakin baik performanya. Sayangnya itu hanyalah teori, dan teori dapat salah ketika diaplikasikan di lapangan.

Pada kenyataannya, performa suatu perangkat dipengaruhi oleh banyak faktor, dan jumlah inti dari prosesor yang digunakan hanyalah satu dari banyak faktor itu.

Sebut saja iPhone 6 yang menggunakan prosesor dual-core, namun performanya dapat mengalahkan perangkat Android yang menggunakan prosesor octa-core.

Mengapa demikian?

Di balik jumlah inti prosesor dan kecepatannya, terdapat beberapa faktor yang sangat mempengaruhi performa sebuah perangkat. Faktor tersebut di antaranya adalah memory bandwidth, latency, serta kemampuan untuk mengeksekusi sebuah thread.

Semua faktor tersebut berpengaruh pada performa sebuah perangkat yang dihitung dengan satuan instruction per cycle (IPC). Semakin besar IPC maka dipastikan semakin kencang performa sebuah perangkat.

iPhone 6 dan ponsel Android unggulan
Perbandingan performa iPhone 6 dan ponsel Android unggulan

IPC memang jarang sekali disebutkan dalam tabel spesifikasi sebuah perangkat. Namun itulah yang dikejar oleh Apple selama ini. Mereka memang tak mau mengikuti jejak para kompetitor lainnya, seperti MediaTek dan Qualcomm yang hanya mengejar penambahan jumlah inti prosesor tanpa mempertimbangkan IPC-nya.

Hasilnya, iPhone 6 lebih unggul dalam hal performa ketimbang perangkat Android yang menggunakan prosesor octa-core.

Selain jumlah IPC, optimalisasi sistem operasi dan software pendukung lainnya juga sangat berpengaruh pada performa sebuah perangkat mobile. Pernah, kan, Anda membeli ponsel Android yang awalnya sangat kencang tapi seiring berjalannya hari ia terasa makin lelet?

Dalam kasus iPhone 6 di atas, Apple memang memiliki keuntungan tersendiri. Selain mereka merancang SoC sendiri, mereka juga membuat sistem operasi sendiri, sehingga mereka dapat dengan leluasa mengoptimalkan performa setiap perangkat mereka dengan mudah.

Berbeda dengan Apple, kebanyakan perangkat Android menggunakan SoC yang dibuat oleh perusahaan lain (seperti Qualcomm dan MediaTek). Sistem operasinya pun menggunakan basis sistem operasi yang dibuat oleh Google, sehingga produsen perangkat seperti LG, Sony, Samsung, dan lain-lain tak bisa leluasa mengoptimalisasi berbagai perangkat mereka. Hal tersebut tentu akan berpengaruh pada performa sebuah perangkat.

Kesimpulan?

Keberadaan prosesor pasti dijadikan patokan utama untuk mengukur performa sebuah perangkat mobile. Saat ini, memang banyak sekali kampanye-kampanyemarketing yang mengedepankan jumlah inti prosesor dan kecepatannya sebagai tolok ukur utama. Sayangnya, dua hal itu saja tidak cukup sebagai jaminan.

CPU

Penggunaan lebih banyak inti prosesor dan mempercepat kecepatan prosesnya memang akan meningkatkan performa. Namun jika dihadirkan dengan optimalisasi sistem operasi dan software yang buruk, serta tak ada peningkatan jumlah IPC, semua itu akan menjadi percuma.
Untuk itu, sebaiknya Anda mencari tahu performa sebenarnya dari suatu perangkat sebelum benar-benar membelinya. Saat ini, banyak sekali situs yang menyediakan review sebuah perangkat mobile, dan kami adalah salah satunya.

 

loading...