Oleh: Amir Faisal

HARIANACEH.co.id — “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. “ (H.R. Bukhori no: 01 dan Muslim no: 1907)

Bank Syariah dan Koperasi Jasa Syariah sebenarnya memiliki prospek yang bagus di bumi Indonesia, dan market coveragenya bisa mencapai jauh lebih tinggi dari 5 – 6 persen, disebabkan :

  1. Berdasarkan syari’ah Islam (Agama yang dianut mayoritas Indonesia dan beberapa Negara tetangga)
  2. Jika etos kerjanya didasarkan pada nilai-nilai Ibadah dan jihad yang jika dilakukan dengan penuh keikhlasan diyakini akan memberikan berkah dan memberikan efek “Be comming money magnit” yang luarbiasa dan tak terduga.
  3. Dido’akan oleh puluhan juta kaum dluafa’ yang do’anya maqbul
  4. Diridhoi dan diberkahi oleh Allah SWT

Kata “Diridhoi Allah” sengaja saya letakkan pada bagian paling bawah, karena justru inilah yang saat ini paling krusial. Padahal segala amal perbuatan akan Diridhoi Allah, jika sungguh-sungguh diniatkan semata-mata hanya untuk mencari ridla Allah :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus ( Al-Bayyinah : 5 )

Banyak amal perbuatan yang kelihatannya sama, tetapi hakekatnya niatnya berlawanan. Hadits diatas memberikan contoh, sama-sama berhijrah, ternyata niyat yang menggelora dalam pikiran dan hatinya masing-masing berbeda. Padahal Allah Maha Mengetahui apa yang menggelora dalam hati manusia :

Baca Juga:  Ini Dia Tips Handal Bagaimana Menghafal Al Quran

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

Sebuah pertanyaan bagi para OWNER, Chef Executive, Manager Bank- Bank Syariah ataupun KJKS, apa yang tergerak dalam hati Anda ketika berhadapan dengan NASABAH, samakah dengan hati dan pikiran, mereka yang berada dan bekerja pada bank-bank umum ?

NIYAT > MINDSET > PERILAKU

Jika yang tergerak dalam hati dan pikiran Anda adalah sama, maka Mindset dan perilaku Anda sebenarnya sama dengan mereka. Atau dengan kata lain, Anda sama dengan mereka.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan memperdebatkan aspek fiqihnya ( Bank Syariah), dimana para anggota dewan syar’i yang mulia tentu akan segera dengan mudah mematahkan argumentasi saya. Tetapi saya langsung bertanya kepada hati Anda untuk menjawab pertanyaan diatas.

Apakah dalam hati Anda ada rasa “khouf”, misalnya, jangan-jangan nasabah tidak bisa melunasi hutangnya? Lebih besar mana rasa takut itu dengan pertanggungjawaban kepada Allah dihari kiamat nanti, jika Dia bertanya kepada apa yang sudah Anda lakukan ( selaku insan yang diberi amanah dan kekuasaan atas harta) untuk menolong sesama Mukmin yang tertindas?

“Setan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat buruk (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.“ (QS. Al-Baqarah: 268)

Menurut Daniel W Goleman, pakar Emotional Intelligence, rasa takut dengan emosi positip ( tarohlah misalnya, ikhlas, mencari Ridho Allah), memberikan dampak yang sangat berbeda secara ekstrim. Rasa takut dan was-was akan menghasilkan kortisol yang bisa meracuni otak ataupun menghilangkan kecerdasan. Sebaliknya emosi positip akan memicu dopamin dan menyalakan milyaran neurotransmiter yang bisa membuat seseorang menjadi cerdas dan briliyan.

Baca Juga:  Pentingnya Relasi Orang Tua dan Anak

Contoh yang diberikan oleh para konglomerat pada zaman Nabi SAW, menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi kaya raya karena berbisnis hanya semata-mata mencari Ridho Allah dan sama sekali tidak takut menjadi miskin( bahkan cita-cita Abdur Rahman bin Auf adalah menjadi orang miskin, tetapi tidak dikabulkan sama Allah), dimana hal ini telah ditiru oleh konglomerat Barat dengan istilah yang mereka sebut sebagai “charity”.

Allah telah membuktinya ayatNya, bahwa orang yang mau “BERBISNIS DENGAN ALLAH” akan mendapat limpahan kekayaan dan kesuksesan :

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (Ash Shaf: 10-11)

Benarkah telah terjadi paradoxy, orang-orang barat terinspirasi untuk menjalankan agama kita, sementara kita sedang beranjak untuk meninggalkannya dan mengikuti cara mereka yang akan segera mereka tinggalkan?

Di negara Barat banyak sekali Social Bank yang semata-mata didirikan bukan untuk tujuan komersial melainkan sosial. Di Bangladesh ada Gramen bank yang juga mempunyai tujuan sosial, ternyata mereka terus tumbuh menjadi besar. Mungkinkah mereka lebih Diridhoi Allah ketimbang kita yang “merasa paling syar’i?

Perbedaan antara Bisnis yang berbasis rasa takut dengan Bisnis yang mencari Ridho Allah :

Berbasis rasa takut:

  1. Tujuan mencari rasa aman
  2. Mencari Keuntungan dengan prinsip-prinsip umum
  3. Pure Business : Keuntungan, kekayaan dan pertumbuhan

Berbasis Libtigho Mardhotillah

  1. Tujuan mencari Ridha Allah
  2. Mencari Keuntungan dengan prinsip-prinsip Syar’i 100 persen
  3. Bisnis yang Berkah : kekayaan dan pertumbuhan ekonomi Ummat

loading...