HARIANACEH.co.id — Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyita ratusan alat telekomunikasi illegal di daerah Cideng, Jakarta Pusat, pada hari Senin (2/2/2015) malam. Alat illegal ini dimanipulasi untuk jaringan internasioal.

Dengan alat rakitan ini, penelepon dari luar negeri ke Indonesia hanya dikenakan tarif lokal, bukan tarif roaming Internasional.

Kepala Bagian Humas Kemkominfo, Ismail Cawidu menjelaskan, Kementerian Kominfo terus memeantau kasus ini sejak dua tahun yang lalu. Tim ini terdiri dari penyidik Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Kominfo dan Polri.

Selama dua tahun pemantauan tersebut, mereka telah menemukan beberapa tempat yang diduga menjadi titik-titik penyalaghunaan alat dan piranti telekomunikasi illegal.

Baca Juga:  Cucu Menteri Era Orba Reza Prawiro, Ditangkap Karena Narkoba

“Hasilnya alhamdulillah sejak tadi malam penggerebekan dari jam 9 malam sampai jam 1 (dini hari), dan dilanjutkan lagi tadi sore kita telah mengamankan barang bukti yang digunakan sebagai alat telekomunikasi illegal yang dimanipulasi untuk terminasi internasional,” kata Kepala Bagian Humas Kemkominfo, Ismail Cawidu di Gedung ITC, Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2015).

Barang sitaan yang diamankan oleh Kemkominfo adalah sebanyak 80 simbox, 80 GSM gateway dan 896 slot simcard. Barang bukti tersebut, sekarang sedang dalam proses pemindahan ke kantor pusat Kemkominfo.

Sebelumnya, tim teknis Kemkominfo, Hendrianto Nasution menjelaskan, pihaknya sudah mulai melakukan penertiban di tempat kejadian perkara pada pukul 18:00 WIB Senin. Lokasinya berada di Jalan Biak, Cideng, Jakarta Pusat.

Baca Juga:  Polisi Amankan Sebanyak 10.276 Peluru Tajam Aktif di Mampang

Ada dua orang yang tertangkap sedang mengoperasikan alat komunikasi illegal tersebut. Akan tetapi, semuanya masih menjadi saksi dalam proses pemberkasan oleh tim satgas.

“Kita masih betul-betul mengumpulkan barang bukti, ini kemudian untuk keterangan dari saksi, maka nanti akan dilihat peningkatan statusnya seperti apa, adalah pihaknya yang berwenang,” ujar Hendrianto.

Kedua orang ditangkap tersebut ternyata memiliki tugas masing-masing. Satu orang yang bertanggungjawab untuk operasional dan teknis. Sedangkan satu orang lagi adalah pemiliknya.

“Keduanya orang indonesia. Kalau dilihat indikasinya, sudah cukup lama ya (beroperasi). Jadi sudah bertahun lah,” pungkas Hendrianto.

loading...