EKONOMI

Tahun Ini, Asuransi Jagadiri Bidik 35 Ribu Pelanggan

HARIANACEH.co.id — Perusahaan asuransi PT Central Asia Financial (CAF) telah meluncurkan produk terbaru yang dinamai Jagadiri. Perusahaan yang telah beroperasi dengan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 13 Maret 2013 ini akan mendekatkan diri kepada masyarakat.

Menurut President Director Central Asia Financial, Reginald J Hamdani, tahun ini pihaknya lebih banyak menargetkan jumlah pelanggan. “Kami ingin menargetkan 35 ribu pelanggan tahun ini. Kami ada target sales, tapi yang ingin kita capai adalah dapat based pelanggannya terlebih dahulu,” kata Reginald di Jakarta, Selasa (3/2/2015).

Dikonfirmasi terkait kredibilitas kekuatan modal perusahaan ini, Reginald menyatakan bahwa CAF merupakan bagian dari Salim Group, salah satu grup bisnis independen terbesar di Indonesia yang telah memiliki rekam jejak terpercaya, terutama di industri jasa keuangan.

“Soal kredibilitas, kami adalah bagian dari Salim Group. Saya rasa nama besar Salim Group cukup memberikan jaminan. Sementara, untuk permodalan, sudah ada Rp140 miliar yang disuntikkan ke perusahaan kami. Dan, modal kami selalu diatas ketentuan yang dipersyaratkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp100 miliar,” tuturnya.

Reginald menjelaskan, Jagadiri dihadirkan dengan terdorong oleh masih adanya kekhawatiran masyarakat yang melihat asuransi sebagai hal yang membebani, seperti kesulitan dalam melakukan klaim, premi yang tidak terjangkau, proses pembelian yang rumit, ketidaknyamanan dihubungi oleh agen dan sebagainya.

“Persepsi orang, asuransi itu untuk jangka panjang. Jadi harus dibayar terus-terusan. Berarti masyarakat melihat asuransi sebagai beban. Makanya, kami melihat customer sudah capek dikejar. Jadi kami berpikir bagaimana caranyacustomer bisa mengakses asuransi,” tukasnya.

Menjawab berbagai kekhawatiran tersebut, menurut Reginald, Jagadiri menawarkan main value proposition, pertama (instant protection), di mana pelanggan dapat memiliki manfaat perlindungan dengan cepat dan mudah kapan pun dan di mana pun, serta langsung tanpa melalui jasa perantara atau agen, tidak perlu melewati proses pemeriksaan kesehatan dan e-policy pun akan dikirimkan dalam waktu enam menit melalui email.

“Kita melihat pertumbuhan digital platform sangat bagus saat ini, demikian juga dengan e-commerce,” ucapnya.

Meski era digital sudah bukan barang baru saat ini, namun, menurut Reginald, edukasi asuransi memang tetap harus dilakukan perusahaan asuransi. “Tidak dapat dipungkiri, di Korea Selatan saja, penetrasi asuransi sudah 100 persen, tapi asuransi masih dijual, bukan dibeli. Makanya harus balance antara pull (orang secara sadar membeli asuransi) dan push (perusahaan asuransi gencar menarik pelanggan),” kata dia.

Hal itu perlu dilakukan, menurut Reginald, karena penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah, baru 1,8 persen dari produk domestik bruto (PDB). “Kami melihat, kesadaran masyarakat untuk memiliki asuransi sudah ada, tapi memang perlu di-push. Seharusnya dengan income per kapita terus naik, maka pengeluaran untuk asuransi juga ada, mengingat selama ini asuransi masih dianggap sebagai kebutuhan tertier,” pungkasnya.

TERPOPULER

To Top