EKONOMI

Bulog belum Bisa Serap Beras Meski Solo Raya mulai Panen

HARIANACEH.co.id — Panen padi musim tanam sudah dimulai Maret ini di sejumlah kabupaten di Solo Raya, Jawa Tengah. Tetapi Bulog Subdivre III Solo belum bisa berbuat banyak, dan bahkan cenderung menjadi penonton tengkulak yang berebut gabah petani di sawah. Hal ini terjadi, karena harga pembelian pemerintah (HPP) baru belum dikeluarkan, dan pada saat sama harga gabah di pasar jauh di atas HPP lama.

“Sampai saat ini Bulog masih memakai HPP tahun lalu, sebesar Rp6600. Tetapi dengan harga beras di pasar masih tinggi jauh di atas HPP lama, kita sulit bergerak. Petani jelas memilih dengan harga yang lebih tinggi dari harga Bulog,” terang Kepala Bulog Subdivre III Solo Yudi Prakasa Yudha, Kamis (5/3).

Dia memaparkan meski belum bisa berbuat banyak untuk menyerap beras petani musim panen pertama ini, Bulog SOlo tidak terlalu khawatir dan meyakini akan mampu secara cepat memenuhi gudang Dolog dengan beras yang baru. Apalagi target penyerapan tahun ini hanya 90 ribu ton, atau jauh menurun dibandingkan target tahun lalu yang dipatok 130 ribu ton, dan berhasil dicapai 98 ribu ton.

Saat ini, lanjut Yudi, sambil menunggu HPP terbaru dari pemerintah, pihaknya berkonsentrasi untuk mempercepat penyaluran beras miskin ke masyarakat, agar harga beras yang masih cenderung tinggi bisa cepat diturunkan. Stok yang ada di gudang Dolog masih di atas 40 ribu ton, sangat mencukupi untuk enam bulan kedepan.

“Raskin Januari sudah 100 persen dan Februari sudah 90 persen. Kita akan gelontor jatah Maret, sehingga bersamaan dengan panen raya, harga akan kembali normal. Saat itulah, kita bergerak cepat menyerap beras petani, karena mitra Bulog yang sebagian besar merupakan jaringan gapoktan sudah siaga,” tandas dia.

Pantauan Media Indonesia, di sejumlah penggilingan beras wilayah Solo dan Boyolali, harga padi pecah kulit di penggilingan padi sudah mulai turun Rp300 per kilogram. Dari harga semula Rp8.000 menjadi Rp7.700. Namun penurunan harga di penggilingan ini belum mempengaruhi harga yang ditawarkan para pedagang beras di pasar tradisional. Seperti C4 super masih di atas Rp10 ribu per kg.

Pada bagian lain, kabupaten Boyolali menargetkan, panen padi MT pertama yang sudah berlangsung sejak awal Maret, bisa mencapai 62,9 ribu ton gabah kering giling (GKG). “Dengan luasan tanam 10.484 hektare dan asumsi per hektare bisa menghasilkan 6 ton, MT I tahun ini diharapkan bisa menuai 62.904 ton GKG,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Boyolali Bambang Purwadi ketika
dikonfirmasi, Kamis sore.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Manunggal Makmur Keyongan, kecamatan Ngemplak, Suyono menyatakan petani anggotanya diperkirkan akan mampu memanen 8,5 ton gabah kering giling tiap hektare.

“Ini sebagai efek keberhasilan teman-teman melaksanakan sistem jajar legowo . Kami melihat di lapangan, hasilnya bisa sampai 8,5 ton GKG,” tuturnya.

Ia berharap, dengan panen berlimpah, petani berharap bisa sejahtera, jika pemerintah serius memperbaiki harga pasca panen mulai tahun ini. Tetapi kalau menggunakan HPP tahun lalu, maka yang bersuka cita untuk menikmati panen petani adalah para tengkulak, yang selalu bergerak cepat menawarkan harga di atas harga pasar.

TERPOPULER

Keatas