HARIANACEH.co.id — Dalam sepekan terakhir, rupiah terus berfluktuasi pada kisaran Rp12.900 hingga Rp13.052 per dolar AS. Bahkan data kurs Bank Indonesia (BI) dalam tiga hari terakhir menunjukkan rupiah di level Rp12.962 pada penutupan Selasa (3/3/2015), dan kembali melemah di level Rp12.963 pada Rabu (4/3/2015).

Kemudian menembus Rp13.022 pada Kamis (5/3/2015), dan akhirnya sedikit menguat pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2015) di level Rp12.927 per dolar AS.

“Kinerja rupiah yang menguat ditopang oleh rilis data cadangan devisa yang dikabarkan mengalami kenaikan,” kata analis ekonomi Danareksa Medan, Gunawan Benjamin.

Gunawan menyebutkan, cadangan devisa di akhir Februari kemarin tercatat naik sebesar 115,5 miliar dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 114,25 miliar dolar AS.

Baca Juga:  Bebas Visa Masuk Indonesia Untuk Lima Negara Ini

“Kinerja cadangan devisa yang mengalami peningkatan merupakan kabar positif. Apalagi cadangan devisa kerap digunakan sebagai modal paling besar untuk menahan pembalikan modal asing,” ujarnya.

Akan tetapi, kata Gunawan, jumlahnya masih belum mumpuni, sehingga bauran kebijakan lainnya mutlak diperlukan agar cadangan devisa ini memberikan manfaat bagi kestabilan nilai tukar rupiah.

Sehingga meskipun cadangan devisa mengalami kenaikan, namun hal ini bukan berarti akan membuat rupiah terlepas dari tekanan dolar AS. Terlebih dalam waktu dekat AS akan mengeluarkan kebijakan penting yang bisa memberikan perubahan arah pergerakan mata uang dunia.

“Untuk berhadapan dengan kebijakan tersebut, rupiah dalam posisi yang kurang beruntung bila berhadapan dengan dolar AS yang masih terus menekan rupiah dan sangat berpeluang memicu terjadinya capital outflow (uang keluar),” pungkasnya.

Baca Juga:  Rencana Penurunan Harga Gas, Saham PGN Merosot

 

loading...