Oleh: Siti Fatihatus Sa’adah[1]

Siti Fatihatus Sa’adah
Siti Fatihatus Sa’adah

HARIANACEH.co.id — Pengertian agama yang paling populer adalah seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan hubungan ghaib, khususnya Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Agama juga dapat didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi respon terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang ghaib dan suci. Agama dapat digambarkan sebagai sebuah sistem keyakinan dan perilaku masyarakat yang diarahkan pada tujuan tertinggi. Agama sebagai sistem keyakinan melahirkan berbagai perilaku keagamaan.

Sedangkan kebudayaan merupakan keseluruhan kegiatan yang meliputi tindakan, perbuatan, tingkah laku manusia, dan hasil karyanya yang didapat dari belajar. Kebudayaan juga dapat diartikan sebagai hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. E.B. Taylor, mendefinisikan ; Kebudayaan merupakan sesuatu yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat istiadat, kesenian, dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian, kebudayaan adalah seperangkat pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, kesenian, yang dijadikan pedoman bertindak dalam memecahkan persoalan yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian kebudayaan yang idealistik seperti ini, dekat dengan pengertian agama. Karena keduanya sama-sama menjadi pedoman bertindak.

Baca Juga:  Catatan Pinggir Pementasan Teater Pada Festival Teater Aceh 2016

Agama identik dengan kebudayaan, karena kedua-duanya merupakan pedoman  bertindak sebagai petunjuk dalam kehidupan. Bedanya, petunjuk agama dari Tuhan dan  petunjuk budaya dari kesepakatan manusia. Ketika Islam datang pada masyarakat, masyarakat sudah lebih dahulu memiliki  petunjuk-petunjuk yang mereka pedomani yang sifatnya masih lokal. Ada atau tidak ada agama, masyarakat akan terus hidup dengan pedoman yang telah mereka miliki itu. Datangnya Islam identik dengan datangnya kebudayaan baru yang akan berinteraksi dengan kebudayaan lama dan mengubah unsur-unsur kebudayaan lama.

Hubungan agama dan kebudayaan dapat digambarkan sebagai hubungan yang berlangsung secara timbal balik. Agama secara praksis merupakan produk dari pemahaman dan pengalaman masyarakat berdasarkan kebudayaan yang telah dimilikinya. Sedangkan kebudayaan selalu berubah mengikuti agama yang diyakini oleh masyarakat. Agama-agama besar, termasuk Islam, selalu mengalami proses domestikasi, yaitu  pemahaman dan pelaksanaan agama disesuaikan dengan konteks dan kemampuan masyarakat lokal. Sebagai contoh, kebudayaan Jawa yang kental dengan gelar-gelar kebangsawanan, menyebabkan orang Jawa memanggil Tuhan dengan sebutan Gusti “Gusti Allah”. Memanggil Nabi dengan sebutan Kanjeng, “Kanjeng Nabi Muhammad”. Islamisasi kebudayaan Jawa juga menyebabkan adanya Jawanisasi Islam, sehingga terjadi yang disebut dengan sinkritisme agama.

Baca Juga:  Kenapa Jokowi Tidak Ingin Bertemu dengan Pendemo? Ini Alasannya

Agama akan mudah diterima masyarakat apabila ajaran agama tersebut memiliki kesamaan dengan kebudayaan masyarakat, sebaliknya agama akan ditolak masyarakat apabila kebudayaan masyarakat berbeda dengan ajaran agama.

Benturan Budaya Dan Pemahaman Agama

Keanekaragaman budaya, ras, dan suku bangsa di Indonesia merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Keanekaragaman sering menimbulkan batas-batas sosial serta perbedaan-perbedaan yang sering menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial. Di Indonesia mengalami kebangkitan dalam bentuk gerakan puritanisme diimbangi oleh kekuatan sinkretisme Islam di pedesaan.

Tidak dapat dipungkiri jika sering terjadi antara masyarakat puritan dan masyarakat sinkretis. Kelompok tua adalah masyarakat sinkretis yang menjunjung tinggi budaya yang telah ada karena kelompok tua adalah pelaksana adat leluhur. Sementara kelompok muda yang tergabung dalam gerakan puritanisme Islam adalah kelompok masyarakat yang menolak budaya leluhur. Kelompok tua berargumen bahwa melaksanakan budaya leluhur adalah tradisi peninggalan nenek moyang dan tidak ada kejelekan di dalamnya. Sementara kelompok Islam puritan yang mempunyai misi untuk memurnikan ajaran Islam menilai  bahwa diantara budaya leluhur yang dilakukan oleh kelompok sinkretis terdapat unsur kesyirikan.

Wallahu a’lam bi al-showab.


  1. Sekretaris dari Komunitas Center for Democracy and Religious Studies (CDRS) dan Penerima Beasiswa Tahfidz Al-Qur’an di Monash Institute Semarang
loading...