OLEH: Muhammad Yani, S.Pd.I, M. Ag[1]

HARIANACEH.co.id — Pribahasa di atas tentunya sudah sering kita dengar dalam masyarakat, yang mengambarkan tentang keadaan anak atau siswa, baik pengaruh dari orangtua maupun bimbingan guru. Pribahasa pertama dalam bahasa Aceh “Pakiban Ue Menan Minyeuk, Pakiban Ma Ngen Ku Menan Aneuk” ( Bagaimana Kelapa Begitu Minyaknya, Bagaimana Ibu dan Ayah Begitu Juga Anaknya)  dan kedua menunjukkan bahwa kelakukan anak tak jauh berbeda dari orangtuanya. Pada pribahasa ketiga jika guru memperlihatkan perilaku yang tidak baik maka siswa akan menampilkan dua kali lipat tidak baik, sehingga diharapkan baik orangtua dan guru dapat memberi contoh yang baik kepada anak atau siswanya. Pribahasa menurut Abdullah Hussain (2003) merupakan ungkapan pengalaman hidup yang dapat dijadikan sebagai perbaikan optimis di masa yang akan datang, khususnya bagi orangtua dan guru terhadap karakter kejujuran siswa.

Secara akal sehat bahwa  manusia yang normal tentunya secara teori mengetahui tentang jujur, tujuan jujur dan contoh berperilaku jujur. Kata jujur terdiri dari lima huruf dan hanya  satu kata namun memiliki makna yang sangat dalam dan luas, jujur mudah diucap dengan lisan namun banyak yang masih sulit dalam mempraktikkannya, sehingga tidak sedikit dari mereka dewasa yang tersandung dengan berbagai persoalan hukum karena tidak jujur, seperti dalam menjalankan amanah yang diberikan baik pada lembaga pemerintahan maupun di lembaga swasta. Hal ini juga terjadi dengan siswa mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), namun bentuk ketidakjujurannya yang berbeda. Ketidakjujuran yang ditampilkan oleh siswa baik dalam rumah tangga selaku anak dihadapan orangtuanya ataupun di depan guru antara lain disebabkan peran orangtua dan guru yang belum berfungsi secara maksimal atau sikap orang dewasa yang tidak sesuai antara ucapan dan perbuatan yang diperbuatnya termasuk orangtua dan guru.

Jujur adalah mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai dengan kenyataan dan kebenaran. Dalam kamus bahasa Indonesia kata jujur berarti: tidak bohong, lurus hati, dapat dipercaya kata-katanya, tidak khianat. Jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai dengan apa adanya, maka orang tersebut dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, berbohong, munafik dan sebagainya.

Jadi jujur adalah suatu karakter yang berarti berani menyatakan keyakinan pribadi, menunjukkan siapa dirinya. Pengertian jujur juga dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 8 yang artinya Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebenaranmu terhadap suatu kaun, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dengan demikian jujur/kejujuran akan tercermin dalam prilaku yang diikuti dengan hati yang lurus (ikhlas), berbicara sesuai dengan kenyataan, berbuat sesuai bukti dan kebenaran. Kejujuran merupakan salah satu unsur kekuatan spiritual, akhlak mulia, serta kepribadian. Untuk itu baik orangtua maupun guru sebagai pihak yang sangat menentukan perannya dalam membangun karakter jujur bagi siswa, maka sebagaimana dipahami dari pribahasa di atas bahwa keduanya baik orangtua maupun guru sebagai pusat perhatian bagi siswa dan sebagai salah satu pengalaman belajar/hidup. Sehingga orangtua dan guru harus menghindari sekecil mungkin kesalahan di depan siswa, apalagi kesalahan nyata yang sengaja dipertontonkan, seperti ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan dari orangtua atau guru.

Baca Juga:  Akuntabilitas Sosial Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan

Beberapa perilaku menyalahi dengan kejujuran

Dalam rumah tangga dan di sekolah masih banyak didapatkan perilaku tidak jujur (ketidaksesuaian ucapan dan perbuatan) orangtua dan guru terhadap anak-anaknya/siswa, antara lain: orangtua hanya menyuruh anak untuk mengaji/membaca Al-Qur’an setelah shalat magrib, sedangkan orangtua  tidak melakukannya; Orangtua menyuruh anak untuk tidak meninggalkan shalat lima waktu, akan tetapi orangtua sebaliknya; Orangtua dan guru menjelaskan bahwa bunga  Bank itu haram, namun mereka tetap setia dengan Bank Konvensional (Bank Syari’ah); Orangtua berharap anak berbicara sopan dan santun, namun tidak jarang perang mulut dalam rumah tangga juga diperlihatkan; Orangtua dan guru melarang anak (siswa) merokok, namun mereka melakukannya; Orangtua dan guru tahu bahwa pacaran yang dilakukan remaja sekarang sudah mendekati kepada zina, namun tidak melarangnya bahkan ada sebagian orangtua dan guru memberi dukungan sepenuhnya.

Perilaku guru seperti berharap agar siswa disiplin, namun masih ada sebagian guru yang tidak disiplin dan menyalahi dengan kode etik guru; Membiarkan siswa mencontek saat ujian, mencontek dipandang sebagai hal yang buruk, namun tetap saja menjadi hal yang sering dilakukan oleh banyak orang.  Jika kondisi seperti ini dibiarkan terus-menerus maka akan berakibat  fatal. Karena mencontek itu adalah bagian dari korupsi kecil (melanggar aturan mengambil bukan haknya)  untuk tataran anak-anak. Sehingga nantinya akan tumbuh generasi-generasi muda yang bermental pengecut dan tidak malu melakukan kesalahan; dan lain sebagainya tentang ketidaksesuai antara ucapan dengan perbuatan yang diperlihatkan baik oleh orangtua maupun guru. 

Orangtua dan guru untuk karakter siswa jujur

Kejujuran itu berawal dari rumah tangga dan sekolah. Hal ini mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya peranan orangtua dan guru dalam penanaman nilai-nilai kejujuran itu. Orangtua dan Guru memiliki tanggung jawab yang sama terhadap pembinaan kepada siswa untuk memiliki karakter jujur. Orangtua harus terus berkarya, memberikan contoh, meluangkan waktu dan pikirannya, tenaga dan hartanya untuk mensukseskan pendidikan anak-anaknya. Seorang guru haruslah memilki kepribadian yang luhur dan mulia agar dapat menjadi teladan bagi siswanya. Guru adalah pihak kedua setelah orang tua dan keluarga yang paling banyak berinteraksi dengan siswa. Guru sangat berpengaruh dalam perkembangan seorang siswa. Terlebih sebagai makhluk sosial seorang murid memiliki kecenderungan untuk mencontoh.

Baca Juga:  Gaya Hidup Hedonisme Melanda Remaja Aceh

Bagaimana proses penanaman nilai-nilai kejujuran pada anak didik?   sesungguhnya tidak hanya diajarkan secara teoritis, hafalan seperti definisi, pendapat para ahli dan dicatat pada buku catatan siswa. Penanaman nilai-nilai kejujuran menuntut tata kehidupan sosial yang merealisasikan nilai-nilai tersebut baik dalam rumah tangga maupun di sekolah. Tentu semua orang tua dan guru menginginkan anaknya jadi anak yang sukses, bahagia dunia-akhirat. Sukses menjadi dokter, polisi, pejabat, dan profesi lainnya. Anak ini tidak salah, hanya saja orangtua dan guru perlu membekalinya dengan  karakter jujur sejak kecil, sehingga saat dewasa nanti bukan hanya jadi dokter, melainkan juga dokter yang jujur sesuai kode etiknya dan berjiwa penyayang; bukan hanya jadi sekedar polisi, melainkan juga jadi polisi jujur dalam mengamankan masyarakat atau dalam melaksanakan tugasnya; bukan hanya jadi pejabat dan bermental penjahat, tetapi juga jadi pejabat jujur, dan amanah. Oleh karena itu dalam merealisasikan kejujuran bagi siswa perlu adanya strategi tertentu, agar berakhir dengan kesuksesan.

Strategi yang sesuai dengan peran orangtua dan guru terhadap karakter kejujuran  adalah keteladanan, pembiasaan rutinitas, dan disiplin. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan menumbuhkan karakter bukan dilakukan melalui lisan, melainkan perbuatan. Mendikbud mencontohkan, jika orang tua ingin anaknya mematuhi rambu-rambu lalu lintas, maka orang tua juga harus melakukannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak melanggar peraturan selama berada di jalan raya. Contoh lain ketika guru membuat aturan untuk dilaksanakan oleh siswa di sekolah, maka dengan sendirinya peraturan itu berlaku bagi guru, misal buanglah sampah pada tempatnya, maka aturan itu juga berlaku bagi guru, jangan menaiki sandal/sepatu pada tempat wudhu atau teras mushalla maka aturan seperti ini juga wajib dipatuhi oleh guru.

Selain dari beberapa strategi di atas, maka kepada orangtua dan guru agar segera menjauhi beberapa perilaku menyalahi dengan kejujuran yang akhir-akhir ini sudah lazim ditampilkan oleh orangtua dalam keluarga maupun oleh guru dalam lingkungan sekolah. Artinya kesuksesan orangtua dan guru dalam menerapkan karakter jujur untuk siswa, sangat dipengaruhi oleh kepribadian dari mareka (orangtua dan guru) masing-masing. Hal ini sebagaimana Rasulullah Saw telah menggariskan rambu-rambu dengan sabdanya: Mulailah dari dirimu. Keteladanan yang baik dari orangtua dan guru akan mengantarkan seorang  siswa mendapatkan modeling yang tepat untuk dijadikan cermin dalam hidup keseharian, sebagaimana pribahasa di awal sebelumnya. Tanpa menyertakan keteladanan (dalam hal ini kejujuran) pada pribadi orangtua dan guru, boleh jadi siswa akan kehilangan public figure yang bisa membawa mereka menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter khususnya jujur dalam segala aspek kehidupan.


  1.  Penulis adalah guru SMAN 1 Peukan Bada Aceh Besar
loading...