HARIANACEH.co.id¬†—¬†Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang Brodjonegoro, menilai depresiasi rupiah yang cukup dalam hingga mencapai Rp13.000 per USD bukan lah disengaja. Namun lebih disebabkan oleh pemotongan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI rate) dan juga defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

Namun, menurut ekonom Unversitas Indonesia ini, melemahnya nilai tukar rupiah bisa mendorong ekspor Indonesia khususnya sektor manufaktur.

“Ini membuat rupiah pada level sekarang, bahwa kemudian pelemahannya mendorong manufaktur tapi harus seperti itu,” kata Bambang, di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2015) malam.

Menurutnya, kurs menjadi salah satu faktor penopang ekspor manufaktur meskipun memang biaya produksi dan logistik mesti dibenahi. Dia menilai saatnya manufaktur jadi unggulan.

Baca Juga:  Perlahan-lahan Indeks Saham di Asia Meluncur Naik

“Saya berharap manufaktur Indonesia mending di ekspor saja, seperti mobil dan motor daripada bikin macet,” tuturnya.

Bambang meyakini, pemerintah bisa mengambil manfaat dari pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS saat ini. Selain untuk manufaktur, tentunya ini waktu yang tepat untuk meningkatkan wisatawan mancanegara (wisman) atau turis asing.

“Contohnya pariwisata, turis asing akan melihat Indonesia sangat murah (nilai tukarnya), sekarang Rp13.000 dulu Rp10.000. Ini momentumnya, ketika rupiah melemah, tingkatkan manufaktur dan tingkatkan pariwisata,” tukas dia.

loading...