HARIANACEH.co.id¬†—¬†Pembangunan bendungan atau waduk di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) lebih mengutamakan kepentingan irigasi dan penanganan banjir ketimbang listrik. Meski begitu, hal ini disebut tepat bagi kebutuhan di Serambi Mekah. Pangkalnya adalah percepatan pembangunan lewat infrastruktur.

Hal itu terkait dengan kunjungan Presiden Joko Widodo ke proyek pembangunan Waduk Krueng Keureuto, Lhokseumawe, Waduk Paya Seuneura, Sabang, NAD, Senin-Selasa (9-10 Maret).

“(Alokasi) untuk energi tidak terlalu besar, yakni 6,4 MW saja. Yang penting irigasi dan (penanganan) banjir di Lhoksukon (Aceh Utara),” kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, di Banda Aceh, seperti dikutip Senin (9/3/2015).

Yang diperuntukkan bagi energi listrik itu sendiri, lanjutnya, cuma Krueng Keureuto, di Blang Pante, Paya Bukong, NAD. Waduk yang disebut sebagai yang terbesar kedua di Sumatera setelah bendungan Batutegi, Lampung ini punya volume total tampungan air 215,94 juta m3.

Baca Juga:  BMKG: Hujan Deras, Masyarakat Tetap Waspada

Saluran irigasi yang mampu dialiri bendungan ini seluas 9.500 hektar. Selain itu, tambah dia, bakal tersedia 500 liter/detik air minum bagi warga Lhoksukon. Jokowi, katanya, akan mengagendakan peletakan batu pertama (groundbreaking) bendungan senilai Rp1,7 triliun ini pada hari ini.

“Mulai beroperasi 2018-2019,” ucap Basuki.

Untuk Waduk Paya Seuneura, dia menyebut Presiden hanya melakukan peninjauan kinerjanya. Sebab, bendungan yang terbilang kecil itu sudah lama berdiri.

Basuki mengakui, tak ada keistimewaan tertentu yang diberikan negara dalam hal penganggaran pembangunan Aceh di APBNP 2015 bila dibandingkan dengan provinsi lain. Akan tetapi, pihaknya tetap memperhatikan apa yang jadi kebutuhan prioritas Aceh. Terutama dalam hal pembangunan infrastruktur.

“(Pembangunan) jalan-jalan masih diprioritaskan, air, dan perumahan,” kata dia.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah menimpali, pihaknya memang menginginkan bantuan dari Pemerintah Pusat dalam hal pengejaran ketertinggalan pembangunan infrastruktur.

Hal itu dia utarakan pula kepada Jokowi dalam pembicaraan empat mata selama setengah jam di pesawat kepresidenan, saat dalam perjalanan dari Jakarta ke Banda Aceh, Minggu (8/3/2015) malam. Menurutnya, Jokowi sudah melihat potensi Sabang sebagai pelabuhan bebas yang bisa lebih dikembangkan dari sisi bisnis.

Baca Juga:  Nasir Djamil Ajak Masyarakat Aceh Merawat Kesatuan RI

“Beliau berjanji membawa investor banyak. Ini sesuatu yang positif sekali,” kata Zaini.

Saat ditemui di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdana Kusumah, Minggu (8/3/2015), Jokowi mengatakan bahwa dimulainya pembangunan bendungan di Aceh itu merupakan momentum pelaksanaan proyek pendirian waduk secara nasional.

“Jadi memang bulan Maret ini sedapat mungkin sebanyak-banyaknya semua proyek dimulai. Supaya APBN bisa terdistribusi, bisa menstimulus ekonomi yang ada di daerah, yang ada di bawah. Semua kita push ke sana,” tuturnya.

Peninjauan langsung ke lapangan, menurut Jokowi, diperlukan untuk menangkap semua permasalahan pengairan. Meskipun itu terbilang waduk kecil seperti Paya Seuneura. “Oleh sebab itu saya perlu datang sendiri dan ini juga bendungan yg sangat diperlukan di Aceh,” pungkas Jokowi.

loading...