HARIANACEH.co.id — Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang sedang melambat memberikan sentimen negatif bagi kinerja ekspor Indonesia. Dampaknya secara tidak langsung bakal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Tiongkok merupakan tujuan ekspor kedua kita, setelah Amerika Serikat (AS). Ekonomi Tiongkok yang turun berdampak pada ekspor Indonesia,” kata ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati seperti diwartakan Metrotvnews.com, Rabu (11/3/2015).

Dia mengungkapkan, kalau permintaan ekspor dari negara raksasa itu turun, maka dampaknya mengarah ke harga komoditas global yang melambat.

“Walau AS membaik, hanya terbatas untuk mereka sendiri. Apalagi rupiah sekarang turun. Indonesia punya dampak double dari pertumbuhan Tiongkok yang melambat, volume ekspornya turun dan harga komoditas juga menurun,” jelasnya.

Baca Juga:  Inilah Lokasi Operasi Pasar Penjualan Daging Sapi Murah

Sektor ekspor memang tidak menjadi penyumbang besar bagi ekonomi Indonesia hanya sebesar 30 persen. Namun, angka itu sangat berarti bagi ekonomi Indonesia.

Jika ekspor terganggu, menurut Enny, maka pemerintah harus menggalakkan sektor lain, seperti investasi. Investasi bisa didorong dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Dalam mendorong PMA dan PMDN, pemerintah harus bisa memberikan insentif bagi pelaku pasar (investor) agar bisa menanam investasinya di dalam negeri.

“Kalau ekspor tidak bisa dikejar, investasi dikejar dengan memberikan regulasi yang nyaman, keringanan dan insentif lain kepada investor. Itu juga yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita,” pungkasnya.

loading...