HARIANACEH.co.id¬†—¬†Rupiah melorot lagi, menembus level di atas Rp13.165 per USD. Otoritas moneter mengatakan mereka sudah hadir di pasar melalui pasar valas dan pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Menyikapi hal ini, Analis Ekonomi Politik AEPI, Kusfiardi, menilai kehadiran saja tidak cukup untuk mengendalikan nilai tukar rupiah. Kondisi ini dibuktikan dengan terus melemahnya rupiah terhadap USD.

Upaya mitigasi Bank Indonesia (BI) setidaknya harus berorientasi pada upaya spekulasi yang dilakukan spekulan dengan berselancar di isu global, sepertiquantitative easing oleh Bank Sentral AS The Fed. Termasuk isu membaiknya perekonomian AS.

Baca Juga:  Ada Even "Doraemon 100 Secret Gadget Expo" dan Jangan Lewatkan

Upaya kehadiran BI juga harus berkorelasi dengan penerapan kebijakan DHE dan kepatuhan menjalankannya. Hal penting dalam konteks mitigasi adalah melakukan koreksi kebijakan moneter agar bisa menekan CAD melalui dorongan kegiatan industri yang memiliki nilai tambah. Baik untuk substitusi impor maupun menggenjot ekspor.

“Terusannya adalah keseriusan untuk melakukan aksi nyata untuk menekan CAD terutama dari impor migas,” ujar Kusfiardi, dalam siaran pers yang diterima, Rabu (11/3/2015).

Menurut dia, pemerintah harus memprioritaskan bangun kilang (refinery) agar tak lagi tergantung pada impor BBM. Kemudian membangun industri dasar untuk mengurangi impor bahan baku industri nasional.

Tanpa langkah nyata tersebut, nilai tukar Rupiah tetap akan mengalami gejolak. Kondisi itu menjadi alat meraup keuntungan bagi spekulan dengan berselancar pada isu eksternal yang tidak sepenuhnya berkorelasi dengan kondisi fundamental Rupiah.

Baca Juga:  Tiket dan Pajak Bandara Siap Garuda Satukan Lagi

loading...