HARIANACEH.co.id — Perdana Menteri Australia Tony Abbott menghadapi gelombang kritik setelah dirinya mendeskripsikan kehidupan di komunitas Aborigin sebagai “pilihan gaya hidup”.

Aborigin adalah suku asli Australia, yang menjadi masyarakat terpinggirkan di era modern seperti saat ini. Harapan hidup Aborigin jauh lebih pendek dari warga Australia lainnya. Mereka juga dihadapkan serangkaian masalah sosial, seperti pengangguran.

Abbott mendukung rencana menutup lebih dari 100 komunitas Aborigin di sepanjang wilayah Australia Barat jika sejumlah layanan penting tidak dapat dihadirkan bagi mereka.

“Ini adalah tugas bagi para wajib pajak untuk menyediakan layanan berkualitas tinggi (bagi Aborigin) dalam metode yang masuk akal,” ucap Abbott pada Australian Broadcasting Corporation, Selasa (10/3/2015) malam.

Baca Juga:  Jelang Idul Fitri 1437 H, Dunia Berduka

“Apa yang tidak bisa kita lakukan adalah terus mensubsidi pilihan gaya hidup ini, jika pilihan gaya hidup ini tidak kondusif dengan partisipasi menyeluruh dari semua masyarakat Australia,” sambung dia, seperti diwartakan AFP.

Komentar Abbott memicu kritik tajam. Salah satu penasihat Abbott, Warren Mundine, menegaskan Aborigin mempunyai koneksi kultural dengan tanah kelahirannya, dan semua itu bukan sesuatu yang dapat dibilang sebagai “gaya hidup tinggal di semak-semak”.

“Mereka ini tinggal di tanah kelahirannya, dan itu semua berpengaruh terhadap banyak hal. Ini merupakan kehidupan mereka, ini merupakan kebudayaan mereka,” sebut Mundine.

Tahun lalu, Abbott sempat menjalankan pemerintahan selama satu pekan di area terpencil Aborigin di Australia Utara.

Baca Juga:  KTT LB OKI 2016 Telah Dihadiri Rombongan Delegasi dan Menteri

loading...