HARIANACEH.co.id — Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto menegaskan, Presiden Joko Widodo tak berubah pandangan soal hukuman mati. Meskipun, ada petisi dari mantan Presiden Brasil dan CEO Virgin Group yang meminta Jokowi menghentikan hukuman tersebut.

“Belum ada perubahan, dibahas terakhir di sidang Kabinet Paripurna minggu lalu dan sampai hari ini belum ada perubahan,” ujar Andi di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2015).

Menurut Andi, Presiden Jokowi banyak menerima masukan dari sejumlah pihak terkait hukuman mati. Namun, Presiden tetap pada kesimpulan awal untuk tak menerima pengampunan.

“Jadi sekali lagi presiden telah menetapkan Indonesia darurat narkoba, lalu sudah ada putusan pengadilan yang dilakukan dalam berbagai tingkat proses hukum untuk memperkuat putusan hukuman mati,” sebut Andi.

Baca Juga:  Agun: "Penyakit di Partai Golkar Hanya Beberapa Ekor"

Lantaran itu, kata Andi, tak ada perubahan sikap Presiden atas hukuman mati. “Jadi relatif untuk masalah hukuman mati yang terkait kasus-kasus narkoba tidak ada arahan baru dan kebijakan baru dari Presiden,” tegas dia.

Sebelumnya, Richard Branson, pebisnis asal Inggris yang mendirikan Virgin Group, menulis surat kepada Presiden Jokowi untuk mengampuni dua terpidana mati asal Australia. Dalam suratnya, Branson menyebut hukuman mati merupakan bentuk hukuman yang tidak manusiawi dan tidak berpengaruh pada perdagangan narkotika.

loading...