HARIANACEH.co.id — Kisruh APBD DKI 2015 membuat bantuan pendidikan untuk warga miskin tersendat. Sudah dua bulan siswa tidak menerima dana Kartu Jakarta Pintar (KJP).

Orang tua murid SDN Kedoya Selatan 01 Pagi, Suwarni (52) mengatakan, bantuan KJP sangat bermanfaat untuk membantu pendidikan anaknya. Sebab, pekerjaan tukang cuci yang digelutinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah.

“Kerjaan saya hanya tukang cuci setrika, biaya sekolah anak sangat bergantung dengan uang itu (KJP),” kata Suwarni saat kepada Metrotvnews.com, Rabu (11/3/2015).

Suwarni mengaku belum menerima dana KJP sejak Bulan Juli 2014. Bantuan yang harusnya diterima pada Bulan Desember 2014 masih tertunda, karena APBD DKI 2015 belum disahkan.

Baca Juga:  Djoko Muratmodjo: Lisensi AirAsia Bisa Dicabut di Indonesia

“Terakhir kali menerima saat anak saya naik kelas enam. Sekitar Bulan Juni. KJP dari bulan Juli -Desember 2014 seharusnya turun di Bulan Desember,” ujarnya.

Dana KJP selama ini digunakan Suwarni untuk membeli buku tulis, buku cetak dan uang ketrampilan sekolah. Ia berharap uang KJP cepat turun sebelum Ujian Nasional kelas enam SD.

“Uangnya buat saya belikan buku tryout, biar lulus ujian dan masuk SMP favorit,” katanya.

Dalam APBD DKI 2015, alokasi anggaran KJP mengalami kenaikan signifikan. Diusulkan Rp 2,2 triliun, setelah disepakati membengkak menjadi Rp 4,9 triliun.

Dana itu dianggarkan dalam dua pos, yaitu dalam pos anggaran Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Rp 3 triliun dan pos anggaran bantuan sosial (bansos) dan hibah sebesar Rp 1,9 triliun.

Baca Juga:  Surat Telegram Kapolri Soal Demo 4 November Itu Hoax

loading...