NASIONAL

Guru Pontang-panting karena BOP tak Cair

HARIANACEH.co.id — Kisruh RAPBD antara Gubernur dan DPRD DKI melahirkan derita buat dunia pendidikan. Biaya Operasional Pendidikan (BOP) tak lagi mengalir sejak beberapa bulan ini.

Sebagian sekolah pontang-panting. Beberapa nyaris dan nekat berhutang ke Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ). Bahkan beberapa kepala sekolah mulai ada yang menggandaikan barang berharga mereka untuk menutupi dana BOP.

SDN 09 Pagi Grogol Utara, Jalan Kemandoran 1 Nomor 40, Kebayoran Lama, contohnya. Pengurus sekolah kewalahan menutupi operasional yang biasanya dibiayai lewat BOP.

“BOP belum cair, kita kewalahan mau nutupin dari mana,” kata Mulyani, walikelas dua SDN 09 Pagi Grogol Utara, kepada Metrotvnews.com, Kamis (12/3/2015).

Mulyani buka-bukaan. Pihak sekolah semula hampir berhutang ke KKGJ, tapi tak jadi. “Dipikir pikir kan minjamnya pakai bunga, siapa yang mau bayar? Jadi nggak jadi,” tutur Mulyani.

Menurut Mulyani, kebutuhan sekolah cukup besar, apalagi menjelang ujian. Buat biaya fotokopi soal ujian, misalnya.

“Sekarang masih ditalangin masing-masing guru,” Mulyani menunjukkan amplop berisi soal ujian.

Mulyani tak mau menyebutkan nominal BOP diterima SDN 09 Pagi Grogol Utara. Yang pasti, selama dana BOP tidak mengalir, semua kebutuhan sementara ditutupi duit pribadi kepala sekolah dan guru.

Cerita serupa meluncur dari mulut Kepala SDN 10 Pagi Retno Purwaningsih. Dia sudah tiga bulan ini menomboki operasional sekolah. “Kalau dibebani kepada guru kasihan, dari mana uangnya?” kata Retno.

Retno merinci, biasanya dana BOP digunakan untuk membeli alat tuis kantor, alat peraga, fotokopi, biaya buku cetak, sarana dan prasarana, konsumsi rapat serta uang saku atau transport guru.

Menurut Retno, BOP untuk siswa sebesar Rp60.000 per bulan. “Bahkan kepala sekolah lain sekarang lagi heboh menggadaikan barang. Untungnya, sekarang saya masih ada,” tutur Retno.

Retno hanya bisa mengelus dada, tapi proses belajar dan mengajar di sekolah harus tetap jalan. Dia hanya berharap, BOP cepat mengalir lagi.

“Kita sebagai pendidik tak mau mengorbankan anak didik untuk masalah ini. Murid tak perlu tahu kerepotan kami. Yang penting belajar saja,” Retno menghela napas panjang.

TERPOPULER

Keatas