HARIACEH.co.id — Satu dari 16 Warga Negara Indonesia (WNI) yang dikabarkan hilang di Turki dan diduga bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suria (ISIS), ternyata tidak pernah ke mana-mana dan sampai saat ini masih tinggal di Surabaya, Jawa Timur.

Salah satu nama dari 16 WNI yang kini dikabarkan ditangkap polisi Turki saat hendak menyeberang ke Suria itu adalah Soraiyah Cholid (40), warga Sutorejo Tengah V/15, Surabaya. Saat ditemui beberapa wartawan di kediamannya, perempuan keturunan Arab ini mengaku tidak pernah kemana-mana dan tidak mengenal kelompok radikal yang disebut ISIS.

Bahkan ketika namanya dicatut sebagai salah satu dari 16 WNI yang hilang di Turki itu, janda anak dua ini menduga kalau namanya dipalsukan dalam pembuatan paspor. Karena dia tidak dalam bepergian tapi namanya tercatat satu dari 16 WNI yang dikabarkan bergabung dengan ISIS di Turki.

“Ya kalau tidak dipalsukan kenapa nama saya ada di situ?,” keluh perempuan kelahiran 1974 ini, Jumat (13/3).

Baca Juga:  3 Warga Australia Hilang, 95 Rumah Musnah dalam Kebakaran Semak

Perempuan yang di KTP-nya tertulis nama Suroya Cholid itu juga mengaku, ketika namanya disebut-sebut satu dari 16 WNI yang hilang di Turki, rumahnya tidak pernah sepi dari tamu yang berkunjung. Mulai dari perangkat kelurahan hingga petugas dari
Departemen Luar Negeri (Deplu).

Bahkan, teleponnya juga tidak pernah berhenti berdering. Karena banyak familinya yang tinggal di Arab Saudi menanyakan kebenaran informasi tersebut.

“Pihak Deplu yang datang ke rumah saya, menunjukkan paspor atas nama dan alamat rumah saya. Bedanya hanya pada foto paspornya saja. Di paspor itu bukan foto saya, tapi orang lain,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, foto dalam paspor yang ditunjukkan petugas Deplu itu, terlihat seorang wanita berjilbab hitam.

“Saya harap, (kasus) ini segera selesai dan nama saya bisa dipulihkan. Karena memang saya tidak ada kaitannya dengan masalah tersebut. Saya juga akan melapor ke polisi, setelah ibu saya pulang dari Lombok mengunjungi nenek saya,” tegasnya.

Baca Juga:  Hatta: "Kenapa Harus Takut dengan Pencapresan Jokowi?"

Dia juga menegaskan, memang pernah mengurus paspor untuk ibadah umroh. Tapi itu pada Tahun 1997 silam dan pada paspor itu berakhir pada Tahun 2002. “Setelah itu saya tidak pernah lagi mengurus paspor umroh, apalagi keluar negeri,” tandas dia.

Sebelunya, pada 24 Febuari lalu, 16 dari 25 WNI yang mengikuti Smailing Tour, dikabarkan hilang dan bergabung dengan ISIS. Kamis kemarin (12/3), mereka dikabarkan ditangkap kepolisian setempat ketika hendak menyeberang ke Suriah.

16 WNI yang dikabarkan hilang itu antara lain; enam orang asal Surakarta, yaitu; Utsman Mustofa Mahdamy, Sakinah Syawie M. Tafsir, Fauzi Umar Salim, Hafid Umar Babher, Utsman Hafid dan Atikah Hafid.

Sedangkan 10 lainnya asal Surabaya, yaitu; Tsabitah Utsman Mahdamy, Salim Muhamad Attamimi, Soraiyah Cholid, Hamzah Hafid, Jusman Ary, Ulin Isnuri, Humaira Hafshah, Urayna Afra, Aura Kordova dan Dayyan Akhtar.

activate javascript

loading...